Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Siska Fajarrany
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Siska Fajarrany adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa

Kompas.com, 16 September 2026, 17:08 WIB

Seberapa besar peran seorang dosen dalam membantu mahasiswa menentukan langkah setelah lulus, ketika pilihan karier tidak hanya berbicara tentang pekerjaan dan gaji, tetapi juga menyangkut harapan, ketakutan, serta pencarian arah hidup?

Orang-orang kerap membayangkan tugas seorang dosen hanya berkisar pada datang ke kelas untuk menyampaikan materi, memberikan nilai, dan menghasilkan publikasi ilmiah di tengah berbagai tuntutan birokrasi kampus. Semua itu tercatat dengan cukup rapi dalam beban kerja dan administrasi perguruan tinggi.

Namun, ada satu peran yang mungkin tidak selalu terlihat dalam laporan kinerja: menjadi tempat bagi mahasiswa untuk menyampaikan kegelisahan ketika mereka sedang berada di ambang memasuki dunia nyata.

Sore itu, sebuah pesan singkat di layar ponsel tiba-tiba menghentikan ketukan jemariku di atas papan ketik. Pesan tersebut datang dari seorang mahasiswa yang sedang menghitung hari menuju wisuda, membawa sebuah pertanyaan yang sebenarnya cukup akrab bagi banyak mahasiswa tingkat akhir.

Tawaran tersebut berada di persimpangan jalan. Dua tawaran pekerjaan datang hampir bersamaan dan membuatnya bingung menentukan pilihan.

Seketika, ruang kerjaku seolah menghilang. Saya seperti melihat kembali bayangan diri sendiri bertahun-tahun lalu. Duduk dengan punggung tegang dan telapak tangan berkeringat di hadapan dosen, menanyakan kekhawatiran yang kurang lebih sama tentang masa depan.

Menjawab keraguan seorang mahasiswa di seberang meja ternyata bisa terasa lebih menantang daripada menguji sidang skripsi. Sebab, dalam persoalan seperti itu, tidak ada rumus matematis atau teori akademis yang dapat menjadi jawaban mutlak.

Ketika mendengarkan ia menceritakan ketakutannya satu per satu, seolah-olah posisi kami sedang bertukar. Dan pada titik itu, muncul sebuah kesadaran sederhana: menjadi dosen ternyata tidak pernah hanya tentang mengajar.

Di atas kertas, profesi pengajar di perguruan tinggi memang terlihat sistematis. Ada jam mengajar yang harus dipenuhi, materi kuliah yang perlu diselesaikan sesuai RPS, serta berbagai indikator pencapaian yang terus dipantau. Namun, dinamika kemanusiaan di dalam kampus tidak selalu dapat diterjemahkan sepenuhnya melalui angka-angka administratif.

Ketika seorang mahasiswa datang ke ruang kerja bukan untuk menanyakan revisi skripsi, melainkan untuk membicarakan arah hidupnya, hubungan akademis tersebut seakan memiliki dimensi yang berbeda. Ruang dosen tidak lagi hanya menjadi tempat untuk membahas teori, tetapi juga dapat menjadi ruang yang cukup aman bagi mahasiswa untuk menyampaikan kegelisahannya.

Di sinilah terdapat beban psikologis yang terkadang luput dari perhatian. Sebagai dosen, kita tidak hanya dituntut memahami literatur ilmiah, tetapi juga perlu mengembangkan kepekaan dan empati.

Pilihan karier bagi mahasiswa yang hendak lulus bukan sekadar persoalan menghitung besaran gaji atau melihat nama besar sebuah perusahaan. Bagi sebagian mahasiswa, pilihan tersebut juga berkaitan dengan pencarian identitas, harapan orang tua, serta kekhawatiran menghadapi kemungkinan gagal di usia yang masih sangat muda.

Mendengarkan mahasiswa yang sedang berada di persimpangan jalan juga mengajarkan satu hal penting: dosen tidak selalu memiliki jawaban mutlak atas kehidupan orang lain.

Pengalaman masa lalu seorang dosen memang dapat menjadi bahan pertimbangan atau memberikan perspektif. Namun, zaman yang dihadapi mahasiswa hari ini bergerak dengan ritme dan kompleksitas yang berbeda. Dunia kerja yang mereka masuki pun terus berubah.

Oleh karena itu, tugas seorang dosen dalam situasi seperti ini bukanlah menjadi hakim yang menentukan mana jalan yang "benar" dan mana yang "salah".

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau