
Seberapa besar peran seorang dosen dalam membantu mahasiswa menentukan langkah setelah lulus, ketika pilihan karier tidak hanya berbicara tentang pekerjaan dan gaji, tetapi juga menyangkut harapan, ketakutan, serta pencarian arah hidup?
Orang-orang kerap membayangkan tugas seorang dosen hanya berkisar pada datang ke kelas untuk menyampaikan materi, memberikan nilai, dan menghasilkan publikasi ilmiah di tengah berbagai tuntutan birokrasi kampus. Semua itu tercatat dengan cukup rapi dalam beban kerja dan administrasi perguruan tinggi.
Namun, ada satu peran yang mungkin tidak selalu terlihat dalam laporan kinerja: menjadi tempat bagi mahasiswa untuk menyampaikan kegelisahan ketika mereka sedang berada di ambang memasuki dunia nyata.
Sore itu, sebuah pesan singkat di layar ponsel tiba-tiba menghentikan ketukan jemariku di atas papan ketik. Pesan tersebut datang dari seorang mahasiswa yang sedang menghitung hari menuju wisuda, membawa sebuah pertanyaan yang sebenarnya cukup akrab bagi banyak mahasiswa tingkat akhir.
Tawaran tersebut berada di persimpangan jalan. Dua tawaran pekerjaan datang hampir bersamaan dan membuatnya bingung menentukan pilihan.
Seketika, ruang kerjaku seolah menghilang. Saya seperti melihat kembali bayangan diri sendiri bertahun-tahun lalu. Duduk dengan punggung tegang dan telapak tangan berkeringat di hadapan dosen, menanyakan kekhawatiran yang kurang lebih sama tentang masa depan.
Menjawab keraguan seorang mahasiswa di seberang meja ternyata bisa terasa lebih menantang daripada menguji sidang skripsi. Sebab, dalam persoalan seperti itu, tidak ada rumus matematis atau teori akademis yang dapat menjadi jawaban mutlak.
Ketika mendengarkan ia menceritakan ketakutannya satu per satu, seolah-olah posisi kami sedang bertukar. Dan pada titik itu, muncul sebuah kesadaran sederhana: menjadi dosen ternyata tidak pernah hanya tentang mengajar.
Di atas kertas, profesi pengajar di perguruan tinggi memang terlihat sistematis. Ada jam mengajar yang harus dipenuhi, materi kuliah yang perlu diselesaikan sesuai RPS, serta berbagai indikator pencapaian yang terus dipantau. Namun, dinamika kemanusiaan di dalam kampus tidak selalu dapat diterjemahkan sepenuhnya melalui angka-angka administratif.
Ketika seorang mahasiswa datang ke ruang kerja bukan untuk menanyakan revisi skripsi, melainkan untuk membicarakan arah hidupnya, hubungan akademis tersebut seakan memiliki dimensi yang berbeda. Ruang dosen tidak lagi hanya menjadi tempat untuk membahas teori, tetapi juga dapat menjadi ruang yang cukup aman bagi mahasiswa untuk menyampaikan kegelisahannya.
Di sinilah terdapat beban psikologis yang terkadang luput dari perhatian. Sebagai dosen, kita tidak hanya dituntut memahami literatur ilmiah, tetapi juga perlu mengembangkan kepekaan dan empati.
Pilihan karier bagi mahasiswa yang hendak lulus bukan sekadar persoalan menghitung besaran gaji atau melihat nama besar sebuah perusahaan. Bagi sebagian mahasiswa, pilihan tersebut juga berkaitan dengan pencarian identitas, harapan orang tua, serta kekhawatiran menghadapi kemungkinan gagal di usia yang masih sangat muda.
Mendengarkan mahasiswa yang sedang berada di persimpangan jalan juga mengajarkan satu hal penting: dosen tidak selalu memiliki jawaban mutlak atas kehidupan orang lain.
Pengalaman masa lalu seorang dosen memang dapat menjadi bahan pertimbangan atau memberikan perspektif. Namun, zaman yang dihadapi mahasiswa hari ini bergerak dengan ritme dan kompleksitas yang berbeda. Dunia kerja yang mereka masuki pun terus berubah.
Oleh karena itu, tugas seorang dosen dalam situasi seperti ini bukanlah menjadi hakim yang menentukan mana jalan yang "benar" dan mana yang "salah".