Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Dandung Nurhono
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Dandung Nurhono adalah seorang yang berprofesi sebagai Petani. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup

Kompas.com, 16 September 2026, 20:35 WIB

Mengapa tanaman yang begitu sederhana dan sering dianggap biasa justru bisa menjadi elemen penting yang membuat sebuah taman tetap memiliki warna dan daya tarik?

Di antara berbagai tanaman hias yang ikut menghiasi taman rumah saya, ada satu tanaman yang rasanya sangat mudah ditemui di mana-mana. Tanaman ini bisa dikatakan sebagai tanaman sejuta umat, saking mudahnya saya menemukannya di berbagai taman.

Rasanya, di setiap ada taman, di situ ada brokoli kuning.

Namanya memang cukup menarik. Mendengar kata “brokoli”, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada sayuran hijau yang biasa berada di dapur. Padahal, tanaman yang satu ini bukanlah brokoli dan tidak termasuk keluarga tanaman sayuran tersebut.

Brokoli kuning merupakan tanaman hias berbentuk semak yang banyak digunakan dalam penataan taman, termasuk sebagai tanaman pembatas atau border. Nama ilmiah yang cukup sering digunakan untuk tanaman ini adalah Euodia ridleyi.

Dalam taksonomi yang digunakan Kew (Royal Botanic Gardens, Kew), lembaga botani terkemuka di Inggris yang menjadi salah satu rujukan ilmiah mengenai tumbuhan dunia, nama Euodia ridleyi saat ini ditempatkan sebagai sinonim dari Melicope denhamii.

Tanaman ini bukan tumbuhan yang secara khusus berasal dari Indonesia. Namun, brokoli kuning sudah cukup akrab dijumpai sebagai tanaman penghias taman dan pekarangan.

Di rumah, saya menanamnya di pinggir-pinggir dinding pagar. Saya membuatnya berselang-seling antara tanaman yang berwarna kuning dan tanaman yang berwarna hijau.

Polanya sederhana. Namun, perpaduan kedua warna tersebut membuat batas taman terlihat lebih hidup dan tidak monoton.

Selama ini saya menganggap brokoli kuning hanya sebagai tanaman yang berfungsi memperindah sekaligus membatasi taman. Ia tumbuh di sepanjang pagar, mengisi bagian yang kosong, kemudian saya pangkas ketika mulai terlalu rimbun.

Tidak ada yang terlalu istimewa. Sampai kemudian saya mulai memperhatikannya ketika musim kemarau datang.

Pada musim kemarau, ketika matahari terasa lebih terik dan sebagian tanaman lain mulai menunjukkan tanda-tanda kekurangan air, brokoli kuning di sepanjang pagar masih terlihat cukup segar. Yang menarik perhatian saya justru warna daunnya.

Di bawah cahaya matahari yang lebih kuat, warna kuningnya terasa semakin menonjol.

Bukan berarti tanaman ini tidak membutuhkan air. Namun, dari apa yang saya lihat di taman rumah, brokoli kuning cukup mampu mempertahankan penampilannya ketika cuaca panas dan kondisi taman mulai berubah.

Mungkin, di situlah salah satu keistimewaannya. Ada tanaman hias yang keindahannya baru benar-benar terlihat ketika bunganya bermekaran. Brokoli kuning tidak harus menunggu bunga untuk memberikan warna pada taman.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau