
Mengapa tanaman yang begitu sederhana dan sering dianggap biasa justru bisa menjadi elemen penting yang membuat sebuah taman tetap memiliki warna dan daya tarik?
Di antara berbagai tanaman hias yang ikut menghiasi taman rumah saya, ada satu tanaman yang rasanya sangat mudah ditemui di mana-mana. Tanaman ini bisa dikatakan sebagai tanaman sejuta umat, saking mudahnya saya menemukannya di berbagai taman.
Rasanya, di setiap ada taman, di situ ada brokoli kuning.
Namanya memang cukup menarik. Mendengar kata “brokoli”, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada sayuran hijau yang biasa berada di dapur. Padahal, tanaman yang satu ini bukanlah brokoli dan tidak termasuk keluarga tanaman sayuran tersebut.
Brokoli kuning merupakan tanaman hias berbentuk semak yang banyak digunakan dalam penataan taman, termasuk sebagai tanaman pembatas atau border. Nama ilmiah yang cukup sering digunakan untuk tanaman ini adalah Euodia ridleyi.
Dalam taksonomi yang digunakan Kew (Royal Botanic Gardens, Kew), lembaga botani terkemuka di Inggris yang menjadi salah satu rujukan ilmiah mengenai tumbuhan dunia, nama Euodia ridleyi saat ini ditempatkan sebagai sinonim dari Melicope denhamii.
Tanaman ini bukan tumbuhan yang secara khusus berasal dari Indonesia. Namun, brokoli kuning sudah cukup akrab dijumpai sebagai tanaman penghias taman dan pekarangan.
Di rumah, saya menanamnya di pinggir-pinggir dinding pagar. Saya membuatnya berselang-seling antara tanaman yang berwarna kuning dan tanaman yang berwarna hijau.
Polanya sederhana. Namun, perpaduan kedua warna tersebut membuat batas taman terlihat lebih hidup dan tidak monoton.
Selama ini saya menganggap brokoli kuning hanya sebagai tanaman yang berfungsi memperindah sekaligus membatasi taman. Ia tumbuh di sepanjang pagar, mengisi bagian yang kosong, kemudian saya pangkas ketika mulai terlalu rimbun.
Tidak ada yang terlalu istimewa. Sampai kemudian saya mulai memperhatikannya ketika musim kemarau datang.
Pada musim kemarau, ketika matahari terasa lebih terik dan sebagian tanaman lain mulai menunjukkan tanda-tanda kekurangan air, brokoli kuning di sepanjang pagar masih terlihat cukup segar. Yang menarik perhatian saya justru warna daunnya.
Di bawah cahaya matahari yang lebih kuat, warna kuningnya terasa semakin menonjol.
Bukan berarti tanaman ini tidak membutuhkan air. Namun, dari apa yang saya lihat di taman rumah, brokoli kuning cukup mampu mempertahankan penampilannya ketika cuaca panas dan kondisi taman mulai berubah.
Mungkin, di situlah salah satu keistimewaannya. Ada tanaman hias yang keindahannya baru benar-benar terlihat ketika bunganya bermekaran. Brokoli kuning tidak harus menunggu bunga untuk memberikan warna pada taman.