
Tuberkulosis masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian, apa yang bisa kita lakukan untuk mengenali risikonya, mencegah penularannya, sekaligus mendukung mereka yang sedang menjalani pengobatan?
Saat itu, di penghujung Agustus 2026, aku menghadiri undangan penyegaran mengenai tuberculosis. Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan dari 42 rumah sakit di Jakarta Timur, mulai dari RSUD, rumah sakit Kementerian Kesehatan, hingga rumah sakit swasta. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
Kegiatan tersebut terasa berbeda dari biasanya. Sudinkes Jakarta Timur cukup rutin melakukan validasi, mulai dari mengecek perkembangan entri data TB, memantau keberadaan pasien yang belum mendapatkan follow up, hingga mengingatkan fasilitas kesehatan apabila ada pasien yang putus obat atau berkaitan dengan notifikasi utama di situs TB Nasional atau SITB.
Menjadi Perawat TB DOTS memang bukan pekerjaan yang sederhana. Selain harus mengikuti berbagai pelatihan dan penyegaran terkait perkembangan terbaru mengenai TB, tim TB DOTS yang terdiri atas dokter paru, perawat, dan petugas rekam medis dari masing-masing rumah sakit juga harus bekerja bersama untuk mengejar berbagai target capaian.
Hal ini tidak terlepas dari posisi tuberkulosis sebagai salah satu program kesehatan nasional pemerintah Indonesia. Salah satu target yang ingin dicapai adalah eliminasi TB pada 2030.
Eliminasi dalam konteks ini bukan berarti Indonesia benar-benar bebas dari TB, melainkan menurunkan kasus secara signifikan sehingga jumlah terduga maupun pasien positif TB dapat ditekan.
Hari itu kami mendapatkan banyak pembaruan mengenai perkembangan TB, baik di Indonesia maupun di Jakarta Timur. Materinya cukup beragam, mulai dari tuberkulosis dan pengobatannya, pencegahan, hingga penanganan pada kelompok tertentu.
Materi disampaikan oleh dr. Bobby, spesialis paru, dr. Dimas, dokter anak dari RSAB Harapan Kita, serta dokter yang bertugas di lembaga pemasyarakatan. Dari dr. Dimas, salah satu hal yang menarik perhatianku adalah cerita mengenai kasus TB pada anak.
Ia menceritakan seorang anak yang tinggal di Jakarta Timur. Kedua orangtuanya bekerja, sehingga sang anak dititipkan kepada kakek dan neneknya yang tinggal di Jakarta Selatan selama orangtuanya bekerja. Kakek dan nenek tersebut tinggal berdua di rumah. Sang nenek diketahui memiliki diabetes, sementara kakeknya cukup sering mengalami batuk.
Kondisi seperti ini menjadi salah satu contoh mengapa penelusuran kontak dalam kasus TB menjadi penting, terutama ketika ada anggota keluarga yang memiliki gejala atau faktor risiko tertentu.
Pemeriksaan TB pada anak pun memiliki tantangan tersendiri. Tidak selalu mudah meminta anak mengeluarkan dahak untuk pemeriksaan TCM. Pada kondisi tertentu, diperlukan alat seperti suction atau alat khusus untuk mengambil lendir dari saluran pernapasan. Pemeriksaan dengan tes tuberkulin juga dapat digunakan sebagai salah satu bagian dari penilaian untuk mengetahui kemungkinan infeksi tuberkulosis pada anak.
Ada satu penjelasan dokter yang kemudian membuatku membayangkan bagaimana penularan TB bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Jumlah orang Indonesia yang terinfeksi atau berisiko terkait TB dalam penjelasan tersebut dianalogikan dengan jumlah penumpang KRL. Jika dalam sehari ada satu juta orang yang menggunakan KRL, maka secara ilustrasi terdapat sekitar 300 ribu orang yang masuk dalam kelompok yang dicurigai mengalami TB.
TB sendiri tidak selalu dapat dikenali hanya dari penampilan seseorang. Penularannya pun tidak dapat dilihat secara kasatmata.
Membayangkan perumpamaan tersebut membuatku berpikir tentang kondisi di dalam kereta yang penuh sesak. Setiap orang bisa berada sangat dekat satu sama lain, tanpa sekat yang memisahkan. Tidak semua penumpang juga menggunakan masker.