Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rinta Wulandari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Rinta Wulandari adalah seorang yang berprofesi sebagai Perawat. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya

Kompas.com, 21 September 2026, 14:06 WIB

Tuberkulosis masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian, apa yang bisa kita lakukan untuk mengenali risikonya, mencegah penularannya, sekaligus mendukung mereka yang sedang menjalani pengobatan?

Saat itu, di penghujung Agustus 2026, aku menghadiri undangan penyegaran mengenai tuberculosis. Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan dari 42 rumah sakit di Jakarta Timur, mulai dari RSUD, rumah sakit Kementerian Kesehatan, hingga rumah sakit swasta. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.

Kegiatan tersebut terasa berbeda dari biasanya. Sudinkes Jakarta Timur cukup rutin melakukan validasi, mulai dari mengecek perkembangan entri data TB, memantau keberadaan pasien yang belum mendapatkan follow up, hingga mengingatkan fasilitas kesehatan apabila ada pasien yang putus obat atau berkaitan dengan notifikasi utama di situs TB Nasional atau SITB.

Menjadi Perawat TB DOTS memang bukan pekerjaan yang sederhana. Selain harus mengikuti berbagai pelatihan dan penyegaran terkait perkembangan terbaru mengenai TB, tim TB DOTS yang terdiri atas dokter paru, perawat, dan petugas rekam medis dari masing-masing rumah sakit juga harus bekerja bersama untuk mengejar berbagai target capaian.

Hal ini tidak terlepas dari posisi tuberkulosis sebagai salah satu program kesehatan nasional pemerintah Indonesia. Salah satu target yang ingin dicapai adalah eliminasi TB pada 2030.

Eliminasi dalam konteks ini bukan berarti Indonesia benar-benar bebas dari TB, melainkan menurunkan kasus secara signifikan sehingga jumlah terduga maupun pasien positif TB dapat ditekan.

Hari itu kami mendapatkan banyak pembaruan mengenai perkembangan TB, baik di Indonesia maupun di Jakarta Timur. Materinya cukup beragam, mulai dari tuberkulosis dan pengobatannya, pencegahan, hingga penanganan pada kelompok tertentu.

Materi disampaikan oleh dr. Bobby, spesialis paru, dr. Dimas, dokter anak dari RSAB Harapan Kita, serta dokter yang bertugas di lembaga pemasyarakatan. Dari dr. Dimas, salah satu hal yang menarik perhatianku adalah cerita mengenai kasus TB pada anak.

Ia menceritakan seorang anak yang tinggal di Jakarta Timur. Kedua orangtuanya bekerja, sehingga sang anak dititipkan kepada kakek dan neneknya yang tinggal di Jakarta Selatan selama orangtuanya bekerja. Kakek dan nenek tersebut tinggal berdua di rumah. Sang nenek diketahui memiliki diabetes, sementara kakeknya cukup sering mengalami batuk.

Kondisi seperti ini menjadi salah satu contoh mengapa penelusuran kontak dalam kasus TB menjadi penting, terutama ketika ada anggota keluarga yang memiliki gejala atau faktor risiko tertentu.

Pemeriksaan TB pada anak pun memiliki tantangan tersendiri. Tidak selalu mudah meminta anak mengeluarkan dahak untuk pemeriksaan TCM. Pada kondisi tertentu, diperlukan alat seperti suction atau alat khusus untuk mengambil lendir dari saluran pernapasan. Pemeriksaan dengan tes tuberkulin juga dapat digunakan sebagai salah satu bagian dari penilaian untuk mengetahui kemungkinan infeksi tuberkulosis pada anak.

Ada satu penjelasan dokter yang kemudian membuatku membayangkan bagaimana penularan TB bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Jumlah orang Indonesia yang terinfeksi atau berisiko terkait TB dalam penjelasan tersebut dianalogikan dengan jumlah penumpang KRL. Jika dalam sehari ada satu juta orang yang menggunakan KRL, maka secara ilustrasi terdapat sekitar 300 ribu orang yang masuk dalam kelompok yang dicurigai mengalami TB.

TB sendiri tidak selalu dapat dikenali hanya dari penampilan seseorang. Penularannya pun tidak dapat dilihat secara kasatmata.

Membayangkan perumpamaan tersebut membuatku berpikir tentang kondisi di dalam kereta yang penuh sesak. Setiap orang bisa berada sangat dekat satu sama lain, tanpa sekat yang memisahkan. Tidak semua penumpang juga menggunakan masker.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau