Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sungkowo
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Sungkowo adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya

Kompas.com, 26 September 2026, 19:16 WIB

Ketika anak-anak dilibatkan dalam karnaval budaya, apakah mereka hanya sedang tampil membawa nama sekolah, atau sebenarnya sedang belajar mengenal, mengalami, dan ikut menjaga tradisi yang tumbuh di daerahnya?

Mengikutsertakan anak dalam karnaval budaya hingga kini masih dapat kita jumpai, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten/kota, bahkan provinsi.

Beberapa waktu lalu, misalnya, sekolah tempat saya mengajar turut ambil bagian dalam karnaval budaya dalam rangka hari ulang tahun kabupaten.

Memang, tidak semua murid dapat diikutsertakan. Jumlah peserta dari setiap lembaga biasanya dibatasi, salah satunya karena pertimbangan pendanaan.

Semakin banyak peserta yang dilibatkan, tentu semakin besar pula kebutuhan anggarannya. Sebaliknya, semakin sedikit peserta, biaya yang diperlukan juga relatif lebih kecil. Karena itu, jumlah peserta karnaval budaya dari setiap sekolah umumnya tidak banyak.

Kondisi seperti ini sudah berlangsung cukup lama dan hingga kini masih diterapkan. Dalam konteks tulisan ini, istilah "tidak banyak" tersebut tentu perlu dilihat dari jumlah keseluruhan murid di sekolah tempat saya mengajar, yang mencapai 789 murid.

Jika, misalnya, 40 murid dipilih dari sebuah sekolah yang memiliki 100 murid untuk menjadi peserta karnaval budaya, jumlah tersebut dapat dikatakan cukup banyak. Namun, di sekolah tempat saya mengajar, 40 murid dari 789 murid tentu tergolong sedikit.

Meski demikian, sekolah tempat saya mengajar tetap patut bersyukur karena masih dapat mengikutsertakan 40 murid. Sebab, karnaval budaya sebenarnya tidak hanya tentang tampil dengan pakaian yang memiliki nilai budaya atau adat. Ada hal yang lebih jauh dari sekadar fesyen atau penampilan.

Sudah cukup umum bahwa karnaval budaya di berbagai daerah mengangkat tema kearifan lokal. Artinya, peserta tidak sekadar menampilkan sesuatu yang menarik secara visual, tetapi juga diharapkan menghadirkan kreativitas yang bersumber dari daerah setempat.

Tema yang diangkat dapat berupa kuliner khas daerah, tradisi daerah, seni daerah, tokoh daerah, maupun berbagai hal lain yang menjadi kekhasan suatu wilayah.

Di sinilah karnaval budaya dapat menjadi ruang belajar bagi anak. Anak yang sebelumnya belum mengetahui atau belum mengenal secara dekat kekhasan daerahnya maupun kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di sekitarnya, berkesempatan untuk mengenalnya lebih jauh.

Sekolah tempat saya mengajar, seperti sudah disebutkan di atas, mengikuti karnaval budaya dalam rangka hari ulang tahun kabupaten. Sebanyak 40 murid terlibat dengan mengangkat tema Dhandhangan, salah satu tradisi khas Kudus, Jawa Tengah, untuk dipertunjukkan kepada publik melalui sebuah karya kreatif.

Pada setiap Dhandhangan menjelang Ramadhan, murid-murid kami, yang sangat mungkin di antaranya juga merupakan mereka yang diajak ambil bagian dalam karnaval budaya, umumnya hanya menjadi penonton.

Namun, ketika mereka mengikuti karnaval budaya dengan mengangkat tradisi Dhandhangan dan mewujudkannya dalam karya kreatif, tepatnya Tari Gebyar Dhandhangan, posisi mereka berubah. Mereka tidak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari tradisi yang mereka tampilkan.

Dengan cara seperti itu, mereka memiliki kesempatan untuk mengenal Dhandhangan secara lebih mendalam dan utuh.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau