
Ketika anak-anak dilibatkan dalam karnaval budaya, apakah mereka hanya sedang tampil membawa nama sekolah, atau sebenarnya sedang belajar mengenal, mengalami, dan ikut menjaga tradisi yang tumbuh di daerahnya?
Mengikutsertakan anak dalam karnaval budaya hingga kini masih dapat kita jumpai, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten/kota, bahkan provinsi.
Beberapa waktu lalu, misalnya, sekolah tempat saya mengajar turut ambil bagian dalam karnaval budaya dalam rangka hari ulang tahun kabupaten.
Memang, tidak semua murid dapat diikutsertakan. Jumlah peserta dari setiap lembaga biasanya dibatasi, salah satunya karena pertimbangan pendanaan.
Semakin banyak peserta yang dilibatkan, tentu semakin besar pula kebutuhan anggarannya. Sebaliknya, semakin sedikit peserta, biaya yang diperlukan juga relatif lebih kecil. Karena itu, jumlah peserta karnaval budaya dari setiap sekolah umumnya tidak banyak.
Kondisi seperti ini sudah berlangsung cukup lama dan hingga kini masih diterapkan. Dalam konteks tulisan ini, istilah "tidak banyak" tersebut tentu perlu dilihat dari jumlah keseluruhan murid di sekolah tempat saya mengajar, yang mencapai 789 murid.
Jika, misalnya, 40 murid dipilih dari sebuah sekolah yang memiliki 100 murid untuk menjadi peserta karnaval budaya, jumlah tersebut dapat dikatakan cukup banyak. Namun, di sekolah tempat saya mengajar, 40 murid dari 789 murid tentu tergolong sedikit.
Meski demikian, sekolah tempat saya mengajar tetap patut bersyukur karena masih dapat mengikutsertakan 40 murid. Sebab, karnaval budaya sebenarnya tidak hanya tentang tampil dengan pakaian yang memiliki nilai budaya atau adat. Ada hal yang lebih jauh dari sekadar fesyen atau penampilan.
Sudah cukup umum bahwa karnaval budaya di berbagai daerah mengangkat tema kearifan lokal. Artinya, peserta tidak sekadar menampilkan sesuatu yang menarik secara visual, tetapi juga diharapkan menghadirkan kreativitas yang bersumber dari daerah setempat.
Tema yang diangkat dapat berupa kuliner khas daerah, tradisi daerah, seni daerah, tokoh daerah, maupun berbagai hal lain yang menjadi kekhasan suatu wilayah.
Di sinilah karnaval budaya dapat menjadi ruang belajar bagi anak. Anak yang sebelumnya belum mengetahui atau belum mengenal secara dekat kekhasan daerahnya maupun kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di sekitarnya, berkesempatan untuk mengenalnya lebih jauh.
Sekolah tempat saya mengajar, seperti sudah disebutkan di atas, mengikuti karnaval budaya dalam rangka hari ulang tahun kabupaten. Sebanyak 40 murid terlibat dengan mengangkat tema Dhandhangan, salah satu tradisi khas Kudus, Jawa Tengah, untuk dipertunjukkan kepada publik melalui sebuah karya kreatif.
Pada setiap Dhandhangan menjelang Ramadhan, murid-murid kami, yang sangat mungkin di antaranya juga merupakan mereka yang diajak ambil bagian dalam karnaval budaya, umumnya hanya menjadi penonton.
Namun, ketika mereka mengikuti karnaval budaya dengan mengangkat tradisi Dhandhangan dan mewujudkannya dalam karya kreatif, tepatnya Tari Gebyar Dhandhangan, posisi mereka berubah. Mereka tidak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari tradisi yang mereka tampilkan.
Dengan cara seperti itu, mereka memiliki kesempatan untuk mengenal Dhandhangan secara lebih mendalam dan utuh.