Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Fery W
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Fery W adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal

Kompas.com, 26 September 2026, 20:30 WIB

Ketika perempuan semakin aktif mengelola keuangan, apakah langkah berikutnya adalah mendorong lebih banyak perempuan untuk menjadi investor di pasar modal, sekaligus memastikan mereka memiliki pengetahuan dan kepercayaan diri yang cukup untuk mengambil keputusan investasi?

Pemerintah mencatat penjualan Sukuk Ritel seri SR025 mencapai Rp29,77 triliun hingga penutupan masa penawaran pada 16 September 2026.

Penerbitan tersebut terbagi ke dalam dua pilihan tenor, yakni SR025T3 dengan tenor tiga tahun yang menyerap Rp24,93 triliun serta SR025T5 dengan tenor lima tahun yang berhasil menyerap Rp4,83 triliun.

Di balik angka-angka finansial tersebut, terdapat satu potret demografi yang menarik untuk dicermati.

Berdasarkan keterangan resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, jumlah investor SR025 mencapai 93.548 orang. Dari jumlah tersebut, investor perempuan menjadi mayoritas dengan porsi 56,66 persen.

Meskipun dari sisi nilai atau volume pemesanan investor laki-laki sedikit lebih tinggi, yakni 50,53 persen, komposisi jumlah investor tersebut menunjukkan adanya kecenderungan yang menarik: perempuan semakin terlihat dalam instrumen investasi yang selama ini kerap dikaitkan dengan kebutuhan keamanan dan perencanaan keuangan jangka panjang.

Fenomena dominasi perempuan dalam pemesanan SR025 sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Sepanjang penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel pada 2025, pemerintah mencatat partisipasi investor perempuan secara konsisten berada di atas laki-laki, yakni 58 persen berbanding 42 persen.

Angka-angka tersebut setidaknya menunjukkan kuatnya minat perempuan terhadap instrumen keuangan yang menawarkan kupon berkala, perlindungan nilai pokok sesuai ketentuan yang berlaku, serta tingkat risiko yang relatif terukur.

Namun, cerita tersebut menjadi lebih menarik ketika kita melihat dunia investasi secara lebih luas.

Antara Inklusi Makro dan Nalar Investasi Perempuan

Di ranah pasar modal Indonesia yang mencakup perdagangan saham dan efek bersifat ekuitas, catatan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Mei 2026 menunjukkan gambaran yang berbeda.

Dari total jumlah investor pasar modal yang telah menembus 27,75 juta Single Investor Identification (SID), porsi investor individu perempuan tercatat sebesar 35,63 persen.

Padahal, jika kita memperluas pandangan ke tingkat nasional, lanskap keuangan Indonesia memperlihatkan perkembangan yang cukup menarik.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 yang dirilis bersama oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kesenjangan gender dalam sektor keuangan dasar semakin menyempit.

Bahkan, perempuan Indonesia tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki, baik dari sisi literasi keuangan, yakni 69,61 persen berbanding 69,54 persen, maupun inklusi keuangan, sebesar 93,73 persen berbanding 93,49 persen.

Artinya, perempuan Indonesia semakin memiliki pengetahuan dan akses dalam mengelola keuangan sehari-hari. Mereka memahami pentingnya menabung, menggunakan produk perbankan, hingga memanfaatkan layanan keuangan digital.

Namun, ada satu lompatan yang belum sepenuhnya terjadi, yakni dari "melek finansial" menuju keberanian untuk berinvestasi pada instrumen yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi.

Di sinilah terlihat adanya jarak antara literasi dan keputusan investasi. Dan menariknya, pola tersebut tidak hanya ditemukan di Indonesia.

Di Amerika Serikat, riset CivicScience mengenai tren investasi perempuan pada 2026 menemukan bahwa perempuan sedikit lebih banyak menyimpan uang di rekening tabungan dibandingkan laki-laki. Namun, mereka tercatat 39 persen lebih jarang berinvestasi di saham dan 22 persen lebih jarang memanfaatkan program pensiun dibandingkan laki-laki.

Riset SoFi juga mencatat bahwa 64 persen perempuan mengaku belum pernah berinvestasi sama sekali, dibandingkan 47 persen laki-laki.

Di Eropa, survei N26 menunjukkan perempuan berinvestasi rata-rata 29 persen lebih sedikit dari penghasilan bulanan mereka dibandingkan laki-laki.

Dengan demikian, persoalan kesenjangan partisipasi investasi antara laki-laki dan perempuan bukan hanya cerita Indonesia. Pola serupa terlihat di sejumlah negara, meskipun tentu setiap masyarakat memiliki latar belakang ekonomi, budaya, dan sistem keuangan yang berbeda.

Bukan Semata-Mata Soal Takut, tetapi Cara Pandang terhadap Risiko

Untuk memahami mengapa pola seperti ini muncul, kita dapat melihatnya dari sudut pandang ekonomi keperilakuan (behavioral finance) dan psikologi sosial.

Industri pasar modal selama ini kerap mengaitkan kecenderungan perempuan memilih instrumen berisiko lebih rendah dengan sikap yang lebih berhati-hati atau risk-averse.

Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana itu.

Studi klasik Brad Barber dan Terrance Odean berjudul "Boys Will Be Boys: Gender, Overconfidence, and Common Stock Investment" yang dipublikasikan di The Quarterly Journal of Economics pada 2001 meneliti ribuan rekening investasi individu. Studi tersebut menemukan bahwa investor pria cenderung menunjukkan tingkat overconfidence yang lebih tinggi dalam memprediksi arah pasar.

Kepercayaan diri yang berlebihan tersebut dapat mendorong frekuensi transaksi yang lebih tinggi. Semakin sering transaksi dilakukan, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung dan peluang munculnya keputusan yang kurang optimal.

Sebaliknya, perempuan dalam penelitian tersebut cenderung melakukan transaksi lebih jarang dan lebih lama mempertahankan investasinya.

Temuan mengenai perilaku investor tersebut terus menjadi bahan pembahasan hingga sekarang. Riset terbaru dari Coinlaw.io yang merangkum data investor 2026, misalnya, menunjukkan bahwa investor perempuan Amerika 30 persen lebih jarang menyebut diri mereka sebagai confident investors dibandingkan laki-laki.

Secara historis, perempuan juga lebih jarang melakukan trading dan cenderung menahan investasinya lebih lama. Menariknya, perilaku tersebut justru dapat menjadi kelebihan dalam strategi investasi jangka panjang.

Fidelity Investments, melalui kajian terhadap jutaan rekening investor global, juga melaporkan bahwa strategi buy and hold yang dilakukan investor perempuan menghasilkan imbal hasil tahunan 0,4 hingga 1,8 persen lebih tinggi dibandingkan laki-laki dalam kajian yang mereka lakukan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau