
Ketika perempuan semakin aktif mengelola keuangan, apakah langkah berikutnya adalah mendorong lebih banyak perempuan untuk menjadi investor di pasar modal, sekaligus memastikan mereka memiliki pengetahuan dan kepercayaan diri yang cukup untuk mengambil keputusan investasi?
Pemerintah mencatat penjualan Sukuk Ritel seri SR025 mencapai Rp29,77 triliun hingga penutupan masa penawaran pada 16 September 2026.
Penerbitan tersebut terbagi ke dalam dua pilihan tenor, yakni SR025T3 dengan tenor tiga tahun yang menyerap Rp24,93 triliun serta SR025T5 dengan tenor lima tahun yang berhasil menyerap Rp4,83 triliun.
Di balik angka-angka finansial tersebut, terdapat satu potret demografi yang menarik untuk dicermati.
Berdasarkan keterangan resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, jumlah investor SR025 mencapai 93.548 orang. Dari jumlah tersebut, investor perempuan menjadi mayoritas dengan porsi 56,66 persen.
Meskipun dari sisi nilai atau volume pemesanan investor laki-laki sedikit lebih tinggi, yakni 50,53 persen, komposisi jumlah investor tersebut menunjukkan adanya kecenderungan yang menarik: perempuan semakin terlihat dalam instrumen investasi yang selama ini kerap dikaitkan dengan kebutuhan keamanan dan perencanaan keuangan jangka panjang.
Fenomena dominasi perempuan dalam pemesanan SR025 sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Sepanjang penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel pada 2025, pemerintah mencatat partisipasi investor perempuan secara konsisten berada di atas laki-laki, yakni 58 persen berbanding 42 persen.
Angka-angka tersebut setidaknya menunjukkan kuatnya minat perempuan terhadap instrumen keuangan yang menawarkan kupon berkala, perlindungan nilai pokok sesuai ketentuan yang berlaku, serta tingkat risiko yang relatif terukur.
Namun, cerita tersebut menjadi lebih menarik ketika kita melihat dunia investasi secara lebih luas.
Antara Inklusi Makro dan Nalar Investasi Perempuan
Di ranah pasar modal Indonesia yang mencakup perdagangan saham dan efek bersifat ekuitas, catatan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Mei 2026 menunjukkan gambaran yang berbeda.
Dari total jumlah investor pasar modal yang telah menembus 27,75 juta Single Investor Identification (SID), porsi investor individu perempuan tercatat sebesar 35,63 persen.
Padahal, jika kita memperluas pandangan ke tingkat nasional, lanskap keuangan Indonesia memperlihatkan perkembangan yang cukup menarik.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 yang dirilis bersama oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kesenjangan gender dalam sektor keuangan dasar semakin menyempit.
Bahkan, perempuan Indonesia tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki, baik dari sisi literasi keuangan, yakni 69,61 persen berbanding 69,54 persen, maupun inklusi keuangan, sebesar 93,73 persen berbanding 93,49 persen.
Artinya, perempuan Indonesia semakin memiliki pengetahuan dan akses dalam mengelola keuangan sehari-hari. Mereka memahami pentingnya menabung, menggunakan produk perbankan, hingga memanfaatkan layanan keuangan digital.
Namun, ada satu lompatan yang belum sepenuhnya terjadi, yakni dari "melek finansial" menuju keberanian untuk berinvestasi pada instrumen yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi.
Di sinilah terlihat adanya jarak antara literasi dan keputusan investasi. Dan menariknya, pola tersebut tidak hanya ditemukan di Indonesia.
Di Amerika Serikat, riset CivicScience mengenai tren investasi perempuan pada 2026 menemukan bahwa perempuan sedikit lebih banyak menyimpan uang di rekening tabungan dibandingkan laki-laki. Namun, mereka tercatat 39 persen lebih jarang berinvestasi di saham dan 22 persen lebih jarang memanfaatkan program pensiun dibandingkan laki-laki.
Riset SoFi juga mencatat bahwa 64 persen perempuan mengaku belum pernah berinvestasi sama sekali, dibandingkan 47 persen laki-laki.
Di Eropa, survei N26 menunjukkan perempuan berinvestasi rata-rata 29 persen lebih sedikit dari penghasilan bulanan mereka dibandingkan laki-laki.
Dengan demikian, persoalan kesenjangan partisipasi investasi antara laki-laki dan perempuan bukan hanya cerita Indonesia. Pola serupa terlihat di sejumlah negara, meskipun tentu setiap masyarakat memiliki latar belakang ekonomi, budaya, dan sistem keuangan yang berbeda.
Bukan Semata-Mata Soal Takut, tetapi Cara Pandang terhadap Risiko
Untuk memahami mengapa pola seperti ini muncul, kita dapat melihatnya dari sudut pandang ekonomi keperilakuan (behavioral finance) dan psikologi sosial.
Industri pasar modal selama ini kerap mengaitkan kecenderungan perempuan memilih instrumen berisiko lebih rendah dengan sikap yang lebih berhati-hati atau risk-averse.
Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana itu.
Studi klasik Brad Barber dan Terrance Odean berjudul "Boys Will Be Boys: Gender, Overconfidence, and Common Stock Investment" yang dipublikasikan di The Quarterly Journal of Economics pada 2001 meneliti ribuan rekening investasi individu. Studi tersebut menemukan bahwa investor pria cenderung menunjukkan tingkat overconfidence yang lebih tinggi dalam memprediksi arah pasar.
Kepercayaan diri yang berlebihan tersebut dapat mendorong frekuensi transaksi yang lebih tinggi. Semakin sering transaksi dilakukan, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung dan peluang munculnya keputusan yang kurang optimal.
Sebaliknya, perempuan dalam penelitian tersebut cenderung melakukan transaksi lebih jarang dan lebih lama mempertahankan investasinya.
Temuan mengenai perilaku investor tersebut terus menjadi bahan pembahasan hingga sekarang. Riset terbaru dari Coinlaw.io yang merangkum data investor 2026, misalnya, menunjukkan bahwa investor perempuan Amerika 30 persen lebih jarang menyebut diri mereka sebagai confident investors dibandingkan laki-laki.
Secara historis, perempuan juga lebih jarang melakukan trading dan cenderung menahan investasinya lebih lama. Menariknya, perilaku tersebut justru dapat menjadi kelebihan dalam strategi investasi jangka panjang.
Fidelity Investments, melalui kajian terhadap jutaan rekening investor global, juga melaporkan bahwa strategi buy and hold yang dilakukan investor perempuan menghasilkan imbal hasil tahunan 0,4 hingga 1,8 persen lebih tinggi dibandingkan laki-laki dalam kajian yang mereka lakukan.