Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Krisanti_Kazan
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Krisanti_Kazan adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Delayed Gratification, Dana Pensiun, dan Masa Tua

Kompas.com, 30 Mei 2025, 15:33 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Pada momen seperti apa kira kita menyadari bahwa uang-uang receh yang kerap kita keluarkan untuk menuruti "kelaparan mata" terpenuhi?

Coba kita runut saja: setiap pagi, jalan ke kantor rasanya kurang lengkap tanpa mampir beli kopi susu Rp20.000 di kedai favorit. Rasanya kecil, cuma dua lembar uang receh.

Tetapi coba hitung: kalau dikali 5 hari kerja dan 4 minggu, itu sudah Rp400.000 per-bulan. Setahun? Rp4,8 juta. Dalam 10 tahun, tanpa terasa, kamu bisa kehilangan hampir Rp50 juta-uang yang sebenarnya bisa jadi fondasi awal dana pensiunmu.

Pernahkah kamu menyesal karena terlalu cepat memuaskan keinginan sesaat? Entah itu belanja impulsif saat promo online, langganan yang sebenarnya nggak kamu pakai, atau makan di luar hanya karena malas masak. Kita semua pernah tergoda untuk memuaskan keinginan saat itu juga.

Di sinilah konsep delayed gratification punya peran besar. Kebiasaan kecil untuk menunda kesenangan sesaat bisa jadi kunci besar menuju masa depan yang tenang, termasuk dalam hal finansial.

Menunda bukan berarti menyiksa, tetapi justru bentuk sayang pada diri sendiri di masa depan, terutama ketika bicara soal dana pensiun

Apa Itu Delayed Gratification?

Delayed gratification atau kemampuan menunda kepuasan adalah kebiasaan memilih kesenangan yang lebih besar di masa depan, daripada menikmati sesuatu yang instan sekarang. Singkatnya: sabar sekarang, bahagia kemudian.

Konsep ini pertama kali populer lewat sebuah eksperimen psikologi terkenal yang disebut "Marshmallow Test."

Anak-anak diminta memilih: makan satu marshmallow sekarang, atau menunggu beberapa menit dan mendapatkan dua marshmallow.

Hasilnya? Anak-anak yang mampu menunggu-yang bisa menahan keinginan sesaat-ternyata tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih sukses secara akademik, sosial, dan finansial.

Dalam kehidupan nyata, delayed gratification ini bisa diwujudkan lewat keputusan-keputusan kecil: memilih menabung daripada belanja, memasak di rumah daripada pesan makanan setiap hari, atau menunda beli gadget baru demi mencapai target investasi.

Terdengar sederhana? Iya. Tapi dampaknya bisa luar biasa-apalagi kalau diterapkan untuk tujuan jangka panjang seperti dana pensiun

Mengapa Ini Penting untuk Dana Pensiun?

Banyak orang baru mulai memikirkan pensiun di usia 40-an. Padahal, semakin dini dana pensiun disiapkan, semakin ringan beban yang harus ditanggung.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Kata Netizen
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Kata Netizen
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan 'P'
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"
Kata Netizen
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Kata Netizen
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Kata Netizen
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Kata Netizen
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kata Netizen
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kata Netizen
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau