
Kita begitu terbiasa dengan kabut asap hingga baunya tidak lagi dianggap mengganggu, bahkan aktivitas di luar rumah tetap berjalan seperti biasa meski kualitas udara memburuk,
Ketika asap akibat kebakaran hutan dan lahan terus berulang setiap tahun, ada kekhawatiran bahwa sesuatu yang seharusnya diwaspadai justru perlahan diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Bau asap ini hal biasa. Sejak dulu kita sudah merasakannya.”
Ucapan tersebut ternyata cukup akrab di telinga saya. Beberapa hari lalu, ketika saya mengingatkan seorang saudara untuk memakai masker, ia justru menjawab bahwa bau asap terasa enak.
Dengan kata lain, ia tidak merasa terganggu, bahkan menikmati aroma asap tersebut. Padahal, udara dalam beberapa hari terakhir terlihat sangat pekat.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memang bukan persoalan baru. Bahkan, mungkin sejak saya kecil, fenomena ini sudah terjadi.
Dahulu, kami hanya mengenalnya sebagai kabut, tanpa menyadari bahwa asap kebakaran hutan dan lahan menjadi penyebabnya. Saat masih kecil, kami bahkan menganggap pemandangan tersebut keren, seperti suasana di luar negeri yang sering terlihat di layar kaca.
Ketika itu, kami belum memahami bahwa kabut yang menyelimuti lingkungan ternyata dapat berasal dari kebakaran hutan dan lahan. Karena sering muncul, fenomena tersebut lama-kelamaan dianggap sebagai sesuatu yang biasa dijumpai masyarakat.
Padahal, kabut asap yang pekat dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti sesak napas, batuk, sakit kepala, dan mata perih. Selain itu, ada kekhawatiran lain yang tidak kalah penting, yakni kemungkinan kebakaran meluas hingga mendekati kawasan permukiman.
Dalam beberapa hari terakhir, arah kebakaran bahkan disebut mulai mendekati wilayah tempat tinggal penduduk, terutama kawasan yang berbatasan dengan lahan-lahan kosong. Situasi ini tentu membuat masyarakat tidak hanya menghadapi persoalan kualitas udara, tetapi juga perlu mewaspadai ancaman kebakaran di sekitar tempat tinggal mereka.
Kebakaran hutan dan lahan yang seolah menjadi rutinitas tahunan membuat sebagian masyarakat semakin terbiasa dengan kehadiran asap.
Tidak mengherankan jika muncul ungkapan bahwa Indonesia memiliki dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan, sedangkan Kalimantan seolah memiliki satu musim tambahan: musim kabut asap.
Ungkapan tersebut mungkin terdengar seperti kelakar, tetapi di baliknya tersimpan persoalan yang serius.
Ketika kejadian yang sama terus berulang dari tahun ke tahun, masyarakat berisiko menganggapnya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan, alih-alih sebagai masalah yang perlu ditangani secara sungguh-sungguh.
Di tengah kondisi tersebut, berkembang pula dugaan bahwa sebagian kebakaran hutan dan lahan sengaja dilakukan oleh pihak tertentu.