Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Enny Ratnawati A
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Terbiasa dengan Asap Bukan Berarti Aman

Kompas.com, 18 Oktober 2026, 15:54 WIB

Kita begitu terbiasa dengan kabut asap hingga baunya tidak lagi dianggap mengganggu, bahkan aktivitas di luar rumah tetap berjalan seperti biasa meski kualitas udara memburuk,

Ketika asap akibat kebakaran hutan dan lahan terus berulang setiap tahun, ada kekhawatiran bahwa sesuatu yang seharusnya diwaspadai justru perlahan diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Bau asap ini hal biasa. Sejak dulu kita sudah merasakannya.”

Ucapan tersebut ternyata cukup akrab di telinga saya. Beberapa hari lalu, ketika saya mengingatkan seorang saudara untuk memakai masker, ia justru menjawab bahwa bau asap terasa enak.

Dengan kata lain, ia tidak merasa terganggu, bahkan menikmati aroma asap tersebut. Padahal, udara dalam beberapa hari terakhir terlihat sangat pekat.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memang bukan persoalan baru. Bahkan, mungkin sejak saya kecil, fenomena ini sudah terjadi.

Dahulu, kami hanya mengenalnya sebagai kabut, tanpa menyadari bahwa asap kebakaran hutan dan lahan menjadi penyebabnya. Saat masih kecil, kami bahkan menganggap pemandangan tersebut keren, seperti suasana di luar negeri yang sering terlihat di layar kaca.

Ketika itu, kami belum memahami bahwa kabut yang menyelimuti lingkungan ternyata dapat berasal dari kebakaran hutan dan lahan. Karena sering muncul, fenomena tersebut lama-kelamaan dianggap sebagai sesuatu yang biasa dijumpai masyarakat.

Padahal, kabut asap yang pekat dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti sesak napas, batuk, sakit kepala, dan mata perih. Selain itu, ada kekhawatiran lain yang tidak kalah penting, yakni kemungkinan kebakaran meluas hingga mendekati kawasan permukiman.

Dalam beberapa hari terakhir, arah kebakaran bahkan disebut mulai mendekati wilayah tempat tinggal penduduk, terutama kawasan yang berbatasan dengan lahan-lahan kosong. Situasi ini tentu membuat masyarakat tidak hanya menghadapi persoalan kualitas udara, tetapi juga perlu mewaspadai ancaman kebakaran di sekitar tempat tinggal mereka.

Kebakaran hutan dan lahan yang seolah menjadi rutinitas tahunan membuat sebagian masyarakat semakin terbiasa dengan kehadiran asap.

Tidak mengherankan jika muncul ungkapan bahwa Indonesia memiliki dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan, sedangkan Kalimantan seolah memiliki satu musim tambahan: musim kabut asap.

Ungkapan tersebut mungkin terdengar seperti kelakar, tetapi di baliknya tersimpan persoalan yang serius.

Ketika kejadian yang sama terus berulang dari tahun ke tahun, masyarakat berisiko menganggapnya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan, alih-alih sebagai masalah yang perlu ditangani secara sungguh-sungguh.

Di tengah kondisi tersebut, berkembang pula dugaan bahwa sebagian kebakaran hutan dan lahan sengaja dilakukan oleh pihak tertentu.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Rekan Kerja Have, Bukan Cuma soal Barang Bermerek
Rekan Kerja Have, Bukan Cuma soal Barang Bermerek
Kata Netizen
Terbiasa dengan Asap Bukan Berarti Aman
Terbiasa dengan Asap Bukan Berarti Aman
Kata Netizen
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Kata Netizen
Hidup dari Kios Kecil, Asal Dapur Tetap Mengepul
Hidup dari Kios Kecil, Asal Dapur Tetap Mengepul
Kata Netizen
Teknologi Tradisional di Balik Jagung Bose
Teknologi Tradisional di Balik Jagung Bose
Kata Netizen
Macet di Kampung Sendiri Gara-gara Antrean BBM
Macet di Kampung Sendiri Gara-gara Antrean BBM
Kata Netizen
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau