
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
"Kenapa orang meninggal?"
"Kalau Tuhan baik, kenapa ada orang jahat?"
"Kenapa? Kenapa? Kenapaaaaa?"
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering membuat orang dewasa terdiam lebih lama daripada anak yang bertanya. Topik Pilihan yang diusulkan oleh Kompasianer Rinta Wulandari ini berangkat dari logika polos anak bertemu dengan dunia dewasa yang penuh batas, norma, dan kecanggungan.
Artikel-artikel yang terkurasi menunjukkan bahwa pertanyaan anak tidak pernah benar-benar "aneh". Justru yang sering terasa aneh justru reaksi orang dewasa: ragu, menghindar, atau buru-buru menutup pembicaraan.
Anak bertanya tanpa niat menghakimi, sementara orang dewasa kerap terjebak dalam ketakutan akan salah ucap hingga dianggap belum waktunya.
Berikut ini kami coba rangkumkan konten-konten yang ikut dalam Topik Pilihan yang diusulkan oleh Kompasianer Rinta Wulandari: Apa Pertanyaan "Aneh" yang Pernah Kamu Dapat Ketika Anak Baru Bisa Bicara?
1. Pa, Kenapa Sih Harus Berangkat Kerja?
Ini bermula dari rutinitas pagi yang berjalan mekanis hingga sebuah pertanyaan polos dari anak memecah kebiasaan itu: mengapa ayah harus pergi bekerja dan tidak tinggal bermain bersama?
Pertanyaan sederhana tersebut datang tanpa protes atau drama, tetapi malah membuat Kompasianer Dwiky Kurnia Putra menyadarkan sang ayah yang selama ini menjalani pagi tanpa banyak bertanya.
Ini poin menariknya, Kompasianer Dwiky Kurnia Putra menjawab dengan logika dewasa yang paling aman: bekerja untuk mencari uang. Sayangnya itu masih terasa ganjil.
"Anakku tidak sedang mempertanyakan pekerjaanku. Ia sedang bertanya tentang jarak. Tentang mengapa orang-orang yang saling mencintai harus berpisah setiap pagi," tulis Kompasianer Dwiky Kurnia Putra. (Baca selengkapnya)
2. Ketika Kejujuran Anak Membuat Orang Dewasa Kikuk
Adakah jalan tengah dari anak yang mulai berbicara dengan jujur tanpa saringan, sementara orang dewasa hidup dalam dunia yang penuh pertimbangan sosial?
Kompasianer Agus Hendrawan mengigat satu momen yang mana bisa jadi contoh benturan dua dunia tersebu: ruang praktik dokter gigi.
Bagi anak seusia itu, tulisnya, ruang praktik adalah ruang asing. Alat-alat yang tidak dikenal, posisi tubuh yang tidak biasa, dan rasa takut yang belum bisa ia beri nama, bertumpuk menjadi ketegangan.
"Penjelasan orang tua memang menenangkan, tetapi tidak selalu cukup untuk meredakan kecemasan sepenuhnya," lanjutnya. (Baca selengkapnya)