Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Budiharjo
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Budiharjo adalah seorang yang berprofesi sebagai Petani. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Saat Gelas Bekas Menjadi Harapan Baru bagi Bibit Bugenvil

Kompas.com, 21 Juni 2026, 11:02 WIB

Stok bibit bugenvil di pekarangan rumah saya mulai menipis, bahkan hampir habis. Mau tidak mau, saya harus segera kembali menanam agar ketersediaan bibit siap jual tetap terjaga.

Biasanya, setiap dua minggu sekali saya rutin melakukan stek batang bugenvil baru. Rutinitas itu penting agar siklus produksi tetap berjalan. Namun, belakangan saya lebih banyak disibukkan dengan aktivitas menulis sehingga urusan "perbugenvilan" agak terabaikan.

Masalah baru muncul ketika saya menyadari bahwa persediaan polibek kecil untuk pembibitan ternyata sudah habis total. Saya pun bergegas menuju toko pertanian langganan untuk membeli stok baru.

Sesampainya di sana, saya dibuat terkejut oleh harga yang terpampang di etalase. Polibek yang biasa dijual sekitar Rp30.000 per kilogram kini naik menjadi Rp45.000. Kenaikan yang cukup besar membuat saya mengurungkan niat membeli dua kilogram dan akhirnya hanya membawa pulang satu kilogram.

Dalam hati, saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin harganya bisa naik sedemikian tinggi?

Rasa penasaran membuat saya mencoba mencari berbagai informasi. Dari sejumlah sumber yang saya baca, kenaikan harga plastik berkaitan dengan kondisi industri petrokimia global.

Plastik merupakan produk turunan minyak bumi, sehingga ketika harga bahan baku dan biaya distribusi meningkat, produk-produk turunannya pun ikut mengalami penyesuaian harga.

Saya sempat terdiam membayangkan bagaimana dinamika yang terjadi jauh di belahan dunia lain ternyata bisa berdampak hingga ke pekarangan rumah dan biaya produksi tanaman hias yang saya kelola.

Tidak heran beberapa hari sebelumnya, seorang tetangga yang berjualan gorengan juga sempat mengeluhkan harga kantong plastik yang semakin mahal.

Ada banyak hal yang memang berada di luar kendali kita. Namun, sebagai pelaku usaha mikro, diam bukanlah pilihan yang menyelesaikan persoalan. Selalu ada cara untuk beradaptasi.

Mencari Solusi dari Barang yang Terabaikan

Berangkat dari situ, saya mencoba memutar otak.

Kebetulan, tidak jauh dari pasar desa terdapat sebuah gedung serbaguna yang hampir setiap akhir pekan digunakan untuk acara pernikahan. Musim hajatan sedang ramai, dan saya terpikir untuk memanfaatkan gelas plastik bekas air mineral yang biasanya berakhir di tempat sampah.

Dengan sedikit keberanian, saya meminta izin kepada pihak katering yang sedang membereskan sisa acara. Di luar dugaan, mereka justru menyambut baik niat tersebut.

"Mau diambil semuanya juga tidak apa-apa, Pak. Daripada dibuang," ujar salah seorang petugas sambil tersenyum.

Saya pun pulang membawa dua kantong besar berisi gelas plastik bekas. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya limbah. Namun bagi saya, benda-benda itu bisa menjadi wadah semai yang masih sangat bermanfaat.

Sesampainya di rumah, gelas-gelas tersebut saya lubangi bagian bawahnya menggunakan paku yang dipanaskan. Tiga atau empat lubang kecil sudah cukup sebagai jalur drainase. Setelah itu, gelas diisi campuran tanah, sekam bakar, dan sedikit kompos.

Wadah semai sederhana pun siap digunakan.

Selain menghemat biaya, cara ini juga memberi nilai tambah berupa pemanfaatan kembali sampah plastik yang masih layak pakai.

Kreativitas Menjadi Modal Bertahan

Tantangan ternyata belum selesai. Ketika mengecek kebutuhan lainnya, saya mendapati harga pupuk dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) perangsang akar juga mengalami kenaikan.

Namun, seperti kebanyakan pelaku usaha kecil, selalu ada ruang untuk berinovasi. Saya mulai memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di dapur. Bawang merah maupun bawang putih ditumbuk, kemudian dicampur sedikit air untuk merendam batang stek bugenvil sebelum ditanam.

Cara sederhana tersebut cukup membantu merangsang pertumbuhan akar secara alami, sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk pabrikan.

Di sela-sela aktivitas itu, saya sempat tersenyum sendiri.

Di hadapan deretan gelas plastik bekas dan aroma bawang yang menyengat, saya menyadari bahwa tantangan memang selalu ada. Namun, kreativitas sering kali menjadi modal yang tidak kalah penting dibandingkan modal finansial.

Kini, sekitar seribu batang stek bugenvil telah tertanam rapi dalam rumah sungkup. Gelas-gelas plastik bekas yang semula dianggap sampah telah berubah menjadi tempat tumbuh kehidupan baru.

Saya pun kembali menunggu, bukan hanya tumbuhnya akar dan daun-daun muda, tetapi juga harapan dan rezeki yang semoga ikut bertumbuh bersama mereka.

Pada akhirnya, mungkin inilah pelajaran sederhana dari para pelaku usaha kecil: ketika biaya produksi meningkat dan keadaan tidak sepenuhnya bisa dikendalikan, kemampuan beradaptasi justru menjadi modal paling berharga untuk tetap melangkah.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Harga Plastik Naik Drastis, Petani Bugenvil Jadi Pemulung"

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Belajar Biologi di Alam, dari Jejak Satwa hingga Burung
Belajar Biologi di Alam, dari Jejak Satwa hingga Burung
Kata Netizen
Tidak Naik Kelas Bukan Berarti Anak Gagal
Tidak Naik Kelas Bukan Berarti Anak Gagal
Kata Netizen
Cerita di Balik Sirih yang Tumbuh di Depan Rumah
Cerita di Balik Sirih yang Tumbuh di Depan Rumah
Kata Netizen
Dulu Ramai, Kini Food Court Tinggal Kantin
Dulu Ramai, Kini Food Court Tinggal Kantin
Kata Netizen
Ke Mana Manfaat Kenaikan Anggaran Kesehatan Dirasakan?
Ke Mana Manfaat Kenaikan Anggaran Kesehatan Dirasakan?
Kata Netizen
Sudah Bawa Bekal, Kok Pengeluaran Masih Boros?
Sudah Bawa Bekal, Kok Pengeluaran Masih Boros?
Kata Netizen
Tantangan Side Job Seorang Videografer Pernikahan
Tantangan Side Job Seorang Videografer Pernikahan
Kata Netizen
Rekan Kerja Have, Bukan Cuma soal Barang Bermerek
Rekan Kerja Have, Bukan Cuma soal Barang Bermerek
Kata Netizen
Terbiasa dengan Asap Bukan Berarti Aman
Terbiasa dengan Asap Bukan Berarti Aman
Kata Netizen
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Kata Netizen
Hidup dari Kios Kecil, Asal Dapur Tetap Mengepul
Hidup dari Kios Kecil, Asal Dapur Tetap Mengepul
Kata Netizen
Teknologi Tradisional di Balik Jagung Bose
Teknologi Tradisional di Balik Jagung Bose
Kata Netizen
Macet di Kampung Sendiri Gara-gara Antrean BBM
Macet di Kampung Sendiri Gara-gara Antrean BBM
Kata Netizen
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau