
Stok bibit bugenvil di pekarangan rumah saya mulai menipis, bahkan hampir habis. Mau tidak mau, saya harus segera kembali menanam agar ketersediaan bibit siap jual tetap terjaga.
Biasanya, setiap dua minggu sekali saya rutin melakukan stek batang bugenvil baru. Rutinitas itu penting agar siklus produksi tetap berjalan. Namun, belakangan saya lebih banyak disibukkan dengan aktivitas menulis sehingga urusan "perbugenvilan" agak terabaikan.
Masalah baru muncul ketika saya menyadari bahwa persediaan polibek kecil untuk pembibitan ternyata sudah habis total. Saya pun bergegas menuju toko pertanian langganan untuk membeli stok baru.
Sesampainya di sana, saya dibuat terkejut oleh harga yang terpampang di etalase. Polibek yang biasa dijual sekitar Rp30.000 per kilogram kini naik menjadi Rp45.000. Kenaikan yang cukup besar membuat saya mengurungkan niat membeli dua kilogram dan akhirnya hanya membawa pulang satu kilogram.
Dalam hati, saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin harganya bisa naik sedemikian tinggi?
Rasa penasaran membuat saya mencoba mencari berbagai informasi. Dari sejumlah sumber yang saya baca, kenaikan harga plastik berkaitan dengan kondisi industri petrokimia global.
Plastik merupakan produk turunan minyak bumi, sehingga ketika harga bahan baku dan biaya distribusi meningkat, produk-produk turunannya pun ikut mengalami penyesuaian harga.
Saya sempat terdiam membayangkan bagaimana dinamika yang terjadi jauh di belahan dunia lain ternyata bisa berdampak hingga ke pekarangan rumah dan biaya produksi tanaman hias yang saya kelola.
Tidak heran beberapa hari sebelumnya, seorang tetangga yang berjualan gorengan juga sempat mengeluhkan harga kantong plastik yang semakin mahal.
Ada banyak hal yang memang berada di luar kendali kita. Namun, sebagai pelaku usaha mikro, diam bukanlah pilihan yang menyelesaikan persoalan. Selalu ada cara untuk beradaptasi.
Mencari Solusi dari Barang yang Terabaikan
Berangkat dari situ, saya mencoba memutar otak.
Kebetulan, tidak jauh dari pasar desa terdapat sebuah gedung serbaguna yang hampir setiap akhir pekan digunakan untuk acara pernikahan. Musim hajatan sedang ramai, dan saya terpikir untuk memanfaatkan gelas plastik bekas air mineral yang biasanya berakhir di tempat sampah.
Dengan sedikit keberanian, saya meminta izin kepada pihak katering yang sedang membereskan sisa acara. Di luar dugaan, mereka justru menyambut baik niat tersebut.
"Mau diambil semuanya juga tidak apa-apa, Pak. Daripada dibuang," ujar salah seorang petugas sambil tersenyum.
Saya pun pulang membawa dua kantong besar berisi gelas plastik bekas. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya limbah. Namun bagi saya, benda-benda itu bisa menjadi wadah semai yang masih sangat bermanfaat.
Sesampainya di rumah, gelas-gelas tersebut saya lubangi bagian bawahnya menggunakan paku yang dipanaskan. Tiga atau empat lubang kecil sudah cukup sebagai jalur drainase. Setelah itu, gelas diisi campuran tanah, sekam bakar, dan sedikit kompos.
Wadah semai sederhana pun siap digunakan.
Selain menghemat biaya, cara ini juga memberi nilai tambah berupa pemanfaatan kembali sampah plastik yang masih layak pakai.
Kreativitas Menjadi Modal Bertahan
Tantangan ternyata belum selesai. Ketika mengecek kebutuhan lainnya, saya mendapati harga pupuk dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) perangsang akar juga mengalami kenaikan.
Namun, seperti kebanyakan pelaku usaha kecil, selalu ada ruang untuk berinovasi. Saya mulai memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di dapur. Bawang merah maupun bawang putih ditumbuk, kemudian dicampur sedikit air untuk merendam batang stek bugenvil sebelum ditanam.
Cara sederhana tersebut cukup membantu merangsang pertumbuhan akar secara alami, sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk pabrikan.
Di sela-sela aktivitas itu, saya sempat tersenyum sendiri.
Di hadapan deretan gelas plastik bekas dan aroma bawang yang menyengat, saya menyadari bahwa tantangan memang selalu ada. Namun, kreativitas sering kali menjadi modal yang tidak kalah penting dibandingkan modal finansial.
Kini, sekitar seribu batang stek bugenvil telah tertanam rapi dalam rumah sungkup. Gelas-gelas plastik bekas yang semula dianggap sampah telah berubah menjadi tempat tumbuh kehidupan baru.
Saya pun kembali menunggu, bukan hanya tumbuhnya akar dan daun-daun muda, tetapi juga harapan dan rezeki yang semoga ikut bertumbuh bersama mereka.
Pada akhirnya, mungkin inilah pelajaran sederhana dari para pelaku usaha kecil: ketika biaya produksi meningkat dan keadaan tidak sepenuhnya bisa dikendalikan, kemampuan beradaptasi justru menjadi modal paling berharga untuk tetap melangkah.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Harga Plastik Naik Drastis, Petani Bugenvil Jadi Pemulung"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.