
Bisakah sebidang tanah yang dihibahkan menjadi sumber ketahanan pangan sekaligus mempererat hubungan antarwarga?
Mungkinkah aktivitas berkebun bersama bukan hanya menghasilkan panen, tetapi juga menghadirkan ruang belajar, kebahagiaan, dan harapan di tengah kehidupan yang penuh tantangan?
"Bawa apa itu, Ma?" tanya saya ketika melihat Mama datang membawa kantong dari luar rumah.
"Alhamdulillah, panen singkong dari kebun," jawabnya dengan wajah berbinar.
Beberapa bulan terakhir, Mama bersama para ibu di lingkungan tempat tinggal kami sedang bersemangat mengelola sebidang lahan yang dihibahkan oleh seorang warga yang berbaik hati.
Awalnya, pemilik lahan seluas kurang lebih 700 meter persegi itu menitipkan tanahnya kepada pengurus RT agar dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar. Selanjutnya, pengurus RT menawarkan kesempatan tersebut kepada kelompok ibu-ibu pengajian.
Ternyata sambutan yang diberikan sangat positif. Para ibu menanggapinya dengan serius. Mereka membuat jadwal berkebun bersama. Menurut cerita Mama, kegiatan berkebun dilakukan setiap hari Senin dan Sabtu, sedangkan penyiraman tanaman dilakukan secara bergiliran setiap sore.
Saya melihat kegiatan ini sebagai sesuatu yang sangat positif. Ada semangat belajar mengenai ketahanan pangan yang tumbuh dari lahan yang dihibahkan dengan penuh keikhlasan. Para ibu dari berbagai latar belakang bersama-sama belajar bercocok tanam.
Mereka menerapkan pola tanam tumpang sari dengan beberapa jenis tanaman, seperti singkong, tomat, kangkung darat, dan pisang.
Barangkali di masa mendatang akan semakin banyak jenis tanaman yang dibudidayakan. Saya percaya, seiring bertambahnya pengalaman, semakin banyak pula hasil panen yang dapat dinikmati oleh keluarga mereka masing-masing.
Hampir setiap beberapa hari sekali, Mama berangkat ke kebun bersama kelompoknya untuk menyiram dan merawat tanaman.
Bagi saya, kegiatan ini bukan hanya menghasilkan panen yang dibawa pulang ke rumah. Saya melihat Mama tampak lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih bahagia dengan aktivitas barunya.
Memang, berkebun dan berinteraksi dengan tanaman hijau memiliki banyak manfaat, termasuk bagi kesehatan mental.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompleks, baik dari sisi ekonomi maupun tekanan keseharian, setiap orang membutuhkan ruang yang dapat menghadirkan ketenangan dan rasa syukur. Bagi Mama dan para ibu lainnya, kebun itu tampaknya menjadi salah satu ruang tersebut.
Kebun yang Menumbuhkan Harapan
Ada hari-hari ketika Mama bercerita bahwa tanaman yang mereka rawat mulai menunjukkan hasil. Meskipun singkong yang dibawa pulang kadang hanya beberapa umbi, rasa syukur selalu menyertai.
Karena banyak orang yang terlibat, hasil panen dibagikan secara merata. Saya melihat cara ini sebagai bentuk kebersamaan yang indah, di mana setiap orang mendapatkan bagian sesuai hasil kerja bersama.
Jika hasil panen sedang melimpah, sebagian dijual kepada sesama anggota kelompok atau warga sekitar. Hasil penjualannya kemudian dibagi secara proporsional.
Ada semangat dan kebahagiaan yang terlihat di wajah para ibu saat mereka berkebun. Mereka tampak menikmati proses menanam, menyiram, menunggu tanaman tumbuh, hingga akhirnya memanen hasilnya.
Suatu hari, Bapak sempat berkelakar saat mendengar cerita Mama yang penuh semangat.
"Daripada hanya berkumpul tanpa kegiatan yang jelas, lebih baik berkebun bersama. Sekalian belajar supaya hasilnya makin bagus," ujarnya sambil tersenyum.
Saya pun melihat banyak hal positif dari kegiatan tersebut.
Mereka belajar disiplin ketika mendapat jadwal menyiram tanaman. Mereka belajar bekerja sama, mengeluarkan tenaga untuk menanam, dan merasakan kebahagiaan ketika hasil jerih payah mulai bisa dipanen.
Menariknya, proses belajar itu tidak berhenti di kebun bersama. Sedikit demi sedikit, masing-masing ibu mulai mencoba bercocok tanam di halaman rumah mereka sendiri.
Perlahan, semangat ketahanan pangan tumbuh dari inisiatif pribadi. Bermula dari lahan hibah dan kebaikan hati seseorang, manfaat yang dihasilkan ternyata meluas dan menyentuh banyak aspek kehidupan.
Tentang Berbagi dan Menumbuhkan Kebaikan
Melihat pengalaman tersebut, saya sering membayangkan, jika suatu hari diberi rezeki memiliki lahan yang lebih luas, saya pun ingin melakukan hal serupa. Sebagian lahan itu mungkin bisa dimanfaatkan bersama oleh warga sekitar untuk ditanami dan dikelola secara produktif.
Saya juga berharap agar dalam kehidupan ini kita senantiasa dijauhkan dari sikap yang terlalu mementingkan diri sendiri. Sebab, banyak persoalan dalam kehidupan lahir ketika semangat berbagi mulai memudar.
Sebaliknya, kebaikan-kebaikan sederhana justru mampu menghadirkan manfaat yang tidak terduga.
Dari sebuah lahan yang dihibahkan dengan tulus, lahirlah ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang kebersamaan.
Para ibu menjadi lebih produktif, semakin terampil, serta memiliki aktivitas yang membawa kebahagiaan. Mereka belajar menanam, merawat, dan memanen hasil yang tumbuh dari kesabaran dan kerja sama.
Mungkin hasil panennya belum besar. Namun harapan yang tumbuh dari kebun itu terasa jauh lebih luas daripada sekadar singkong, tomat, atau kangkung yang dipetik.
Karena sesungguhnya, yang sedang dipanen bukan hanya hasil pertanian, tetapi juga semangat gotong royong, rasa syukur, dan keyakinan bahwa kebaikan kecil yang dibagikan dengan tulus dapat memberi manfaat bagi banyak orang.
Bagaimana dengan lingkungan tempat tinggal Anda? Apakah ada kegiatan serupa yang melibatkan warga dalam berkebun atau mengelola lahan bersama? Menarik rasanya jika pengalaman-pengalaman baik seperti ini dapat saling dibagikan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketahanan Pangan dari Lahan Kebun yang Dihibahkan"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.