
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Hijrah sering dimaknai sebagai perpindahan. Dalam kehidupan sehari-hari, maknanya jauh lebih luas daripada sekadar berpindah tempat.
Hijrah dapat menjadi titik balik ketika seseorang memutuskan meninggalkan kebiasaan lama, cara pandang yang tidak lagi sehat, atau kehidupan yang terasa stagnan, menuju kehidupan yang dianggap lebih baik dan lebih bermakna.
Namun, proses itu tidak selalu berjalan mulus. Keputusan seseorang untuk berubah sering kali tidak disambut dengan dukungan penuh. Ada kalanya justru muncul komentar sinis, keraguan, bahkan anggapan bahwa pilihan tersebut merupakan langkah mundur.
Mengapa perubahan yang sejatinya bersifat positif terkadang dipandang sebelah mata? Dan bagaimana sebaiknya kita menyikapi kenyataan bahwa setiap orang memiliki ritme perubahan yang berbeda?
Boleh jadi, kita pernah melihat seseorang yang memutuskan mengubah arah hidupnya. Ada yang memilih lebih mendekatkan diri kepada nilai-nilai agama, ada yang meninggalkan pekerjaan demi keseimbangan hidup, ada pula yang memilih lingkungan pergaulan yang lebih sehat. Tidak jarang keputusan-keputusan semacam itu dipertanyakan oleh orang lain.
Padahal, setiap perubahan biasanya lahir dari pergulatan yang tidak selalu tampak di permukaan. Kita mungkin melihat hasil akhirnya, tetapi tidak mengetahui proses panjang yang mendahuluinya.
Di tengah kehidupan modern, ukuran keberhasilan sering kali dilekatkan pada pencapaian karier, kondisi finansial, popularitas, atau gaya hidup tertentu. Ketika seseorang memilih jalan yang berbeda dari ukuran-ukuran tersebut, tidak sedikit yang menganggapnya sebagai langkah mundur.
Misalnya, seseorang yang meninggalkan pekerjaan bergaji tinggi demi pekerjaan yang lebih sederhana tetapi memberi ruang bagi keluarga dan kesehatan mental. Dari luar, keputusan itu mungkin terlihat sebagai penurunan.
Namun, bagi orang yang menjalaninya, bisa jadi justru itulah bentuk kemajuan yang selama ini dicari.
Ada pula faktor lain yang membuat perubahan seseorang kerap memunculkan respons negatif. Perubahan orang lain terkadang menjadi cermin yang mengajak kita melihat diri sendiri. Tidak semua orang merasa nyaman dengan cermin semacam itu.
Oleh karena itu, komentar seperti "terlalu berubah", "berlebihan", atau bahkan "ikut-ikutan" terkadang muncul sebagai respons spontan, meski belum tentu menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya.
Di sisi lain, tidak semua orang memahami perjalanan batin yang dialami seseorang sebelum memutuskan berubah.
Ada yang melalui kegagalan, kehilangan, kelelahan, atau pencarian panjang yang tidak diketahui siapa pun. Tanpa mengetahui cerita di baliknya, penilaian yang muncul sering kali menjadi terlalu sederhana.
Jadi, yang juga perlu dipahami, hijrah tidak selalu tampak dari perubahan yang kasatmata.
Ada orang yang berhijrah dengan mengubah cara berpikirnya. Ia berusaha meninggalkan prasangka, belajar lebih banyak berempati, dan tidak lagi mudah menghakimi orang lain.