
Sejauh mana keterbukaan finansial dapat memengaruhi keharmonisan sebuah rumah tangga?
"Setelah menikah, urusan finansial bukan lagi persoalan pribadi. Ini tentang pasangan dan keluarga."
Kalimat tersebut cukup sering saya temukan di media sosial yang membahas dinamika kehidupan rumah tangga. Di antara banyak kisah yang lewat di linimasa, ada satu cerita sederhana yang menarik perhatian saya.
Kisah itu tentang seorang suami yang meminta izin kepada istrinya sebelum memberikan sejumlah uang kepada ibunya sendiri.
Nah, yang membuat cerita tersebut semakin menarik, sang ibu justru memastikan terlebih dahulu kepada menantunya apakah pemberian itu sudah dibicarakan bersama.
Mungkin bagi sebagian orang, hal tersebut terasa tidak biasa. Namun, bagi saya, peristiwa kecil seperti itu justru menggambarkan adanya komunikasi dan saling menghargai dalam sebuah hubungan.
Setelah Menikah, Banyak Hal Menjadi Keputusan Bersama
"Bu, aku pakai uang Rp200 ribu, ya?"
"Ambil saja, Pak. Kan memang ada di dompetmu."
Sekilas percakapan itu mungkin terdengar lucu. Mengapa seseorang perlu meminta izin menggunakan uang yang ada di dompetnya sendiri? Namun, saya justru melihatnya sebagai bentuk penghargaan kepada pasangan.
Di era digital saat ini, hampir semua transaksi dilakukan melalui rekening maupun dompet digital. Namun, kenyataannya masih ada orang yang memilih hidup lebih sederhana.
Suami saya, misalnya, tidak lagi memiliki rekening pribadi. Rekening yang pernah dimilikinya sudah lama tidak digunakan hingga akhirnya tidak aktif.
Sejak kami menikah, hampir seluruh transaksi dilakukan melalui rekening saya, sementara untuk kebutuhan usahanya sehari-hari ia lebih banyak menggunakan uang tunai.
Menariknya, bahkan sejak sebelum menikah, sudah mulai mempercayakan sebagian uangnya kepada saya untuk dikelola. Saat itu sifatnya hanya sebagai tempat penitipan. Jika membutuhkan uang tersebut, ia tinggal mengambilnya kembali.
Setelah menikah, pola itu berkembang menjadi sistem pengelolaan keuangan bersama.
Bahkan, ketika ada penyewa yang membayar uang kontrakan kepada keluarga, ibu mertua selalu menyerahkan uang tersebut kepada saya. Padahal sebelumnya seluruh pengelolaannya berada di tangan beliau.
Kami sebenarnya telah sepakat bahwa selama ibu masih ingin mengelola hasil kontrakan, tidak ada masalah. Namun, sikap beliau yang tetap melibatkan saya sebagai bagian dari pengelolaan keuangan keluarga membuat saya merasa dihargai sebagai anggota keluarga.
Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kali suami ingin membantu keluarganya, ia selalu membicarakannya terlebih dahulu dengan saya. Tidak pernah ada uang yang disembunyikan ataupun keputusan finansial yang diambil secara sepihak.
Saya pun melakukan hal yang sama. Ketika ingin memberikan sesuatu kepada orang tua saya, saya selalu menyampaikannya kepada suami, meskipun menggunakan penghasilan pribadi.
Kini saya sudah tidak lagi bekerja penuh waktu. Penghasilan saya berasal dari pekerjaan lepas yang jumlahnya tidak menentu. Kadang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, kadang untuk sekadar mengajak anak-anak menikmati waktu bersama.
Meski demikian, prinsip kami tetap sama. Setelah menikah, banyak keputusan—termasuk soal keuangan, lebih baik dibicarakan bersama.
Saya tidak pernah melarang suami membantu keluarganya ataupun menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Di sisi lain, saya juga berusaha memastikan pengeluaran rumah tangga tetap berada dalam batas kemampuan.
Tentu saja, mengatur keuangan keluarga bukan perkara mudah. Terlebih ketika sebagian penghasilan harus dialokasikan untuk kebutuhan jangka panjang, seperti membangun rumah.
Namun, sejauh ini kami bersyukur tidak pernah mengalami pertengkaran besar karena masalah keuangan. Ketika ada kesulitan, kami memilih duduk bersama mencari jalan keluarnya.
Mengapa Keterbukaan Finansial Penting?
Bagi saya, keterbukaan finansial merupakan salah satu fondasi penting dalam kehidupan rumah tangga.
Keterbukaan bukan berarti setiap pasangan kehilangan hak atas penghasilan pribadi. Lebih dari itu, keterbukaan menunjukkan adanya kepercayaan serta kesediaan untuk menjalani kehidupan bersama tanpa menyembunyikan hal-hal penting.
Semakin terbuka pasangan mengenai kondisi keuangannya, semakin kecil pula ruang bagi munculnya prasangka dan kesalahpahaman.
Keterbukaan juga mencakup berbagai hal lain, seperti tabungan, utang, rencana investasi, hingga keputusan memberikan bantuan kepada orang tua atau keluarga besar.
Komunikasi semacam ini membantu pasangan memahami prioritas bersama. Misalnya ketika ingin memberikan hadiah kepada orang tua, baik dalam bentuk uang, kebutuhan pokok, maupun bentuk perhatian lainnya.
Berdiskusi, keputusan tersebut menjadi lebih nyaman dijalani oleh kedua belah pihak. Pada akhirnya, keluarga inti tetap menjadi prioritas utama. Namun, perhatian kepada orang tua dan mertua juga dapat diberikan melalui kesepakatan yang disusun bersama.
Belajar Membangun Rumah Tangga Bersama
Sebelum menikah, orang tua saya sempat mengkhawatirkan pilihan hidup yang saya ambil, terutama ketika memutuskan berhenti bekerja.
Mereka khawatir kehidupan ekonomi keluarga kami akan menjadi lebih berat.
Kekhawatiran itu tentu sangat wajar. Orang tua selalu menginginkan anaknya hidup berkecukupan.
Namun, seiring waktu saya belajar bahwa kebahagiaan keluarga tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya penghasilan.
Bagi saya, bisa mendampingi anak-anak tumbuh, memberikan ASI eksklusif hingga dua tahun, serta hadir dalam setiap tahap perkembangan mereka merupakan kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan uang.
Semua itu tentu tidak lepas dari komunikasi yang kami bangun sebagai pasangan.
Kami terbiasa menyampaikan apa yang kami rasakan. Jika kondisi keuangan sedang longgar, kami bersyukur. Jika sedang terbatas, kami juga mengakuinya tanpa harus menutupi keadaan.
Kami berusaha menghindari keputusan-keputusan finansial yang diambil secara diam-diam. Kalaupun harus berutang atau mengambil keputusan penting terkait keuangan, semuanya dibicarakan bersama terlebih dahulu.
Menurut saya, keterbukaan seperti ini bukan hanya membantu menjaga kesehatan finansial keluarga, tetapi juga memberikan ketenangan secara emosional.
Bagi seorang istri yang sehari-hari mengatur kebutuhan rumah tangga, mengetahui kondisi keuangan secara utuh akan memudahkan proses menyusun anggaran. Sebaliknya, ketidakjelasan informasi justru dapat menambah beban pikiran.
Mengelola keuangan keluarga memang bukan pekerjaan yang sederhana. Ada banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, sementara penghasilan sering kali memiliki batas.
Pada situasi seperti itu, komunikasi menjadi modal yang sangat berharga.
Keterbukaan finansial juga membantu pasangan menyusun rencana jangka panjang, mulai dari dana pendidikan anak, tabungan darurat, hingga tujuan-tujuan keluarga di masa depan.
Tentu tidak ada rumah tangga yang selalu berjalan mulus. Setiap keluarga pasti mengalami pasang surut kondisi ekonomi.
Namun, ketika pasangan memilih menghadapinya bersama, beban yang berat sering kali terasa lebih ringan.
Pada akhirnya, keharmonisan keluarga tidak hanya dibangun melalui rasa cinta, tetapi juga melalui kepercayaan, komunikasi, dan keterbukaan dalam menjalani berbagai aspek kehidupan, termasuk urusan keuangan.
Lalu, bagaimana denganmu? Sudahkah bersama pasangan membangun keterbukaan finansial dalam rumah tangga?
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dengan Pasangan?"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT