Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Airani Listia
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Airani Listia adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?

Kompas.com, 28 Juli 2026, 17:39 WIB

Sejauh mana keterbukaan finansial dapat memengaruhi keharmonisan sebuah rumah tangga?

"Setelah menikah, urusan finansial bukan lagi persoalan pribadi. Ini tentang pasangan dan keluarga."

Kalimat tersebut cukup sering saya temukan di media sosial yang membahas dinamika kehidupan rumah tangga. Di antara banyak kisah yang lewat di linimasa, ada satu cerita sederhana yang menarik perhatian saya.

Kisah itu tentang seorang suami yang meminta izin kepada istrinya sebelum memberikan sejumlah uang kepada ibunya sendiri.

Nah, yang membuat cerita tersebut semakin menarik, sang ibu justru memastikan terlebih dahulu kepada menantunya apakah pemberian itu sudah dibicarakan bersama.

Mungkin bagi sebagian orang, hal tersebut terasa tidak biasa. Namun, bagi saya, peristiwa kecil seperti itu justru menggambarkan adanya komunikasi dan saling menghargai dalam sebuah hubungan.

Setelah Menikah, Banyak Hal Menjadi Keputusan Bersama

"Bu, aku pakai uang Rp200 ribu, ya?"

"Ambil saja, Pak. Kan memang ada di dompetmu."

Sekilas percakapan itu mungkin terdengar lucu. Mengapa seseorang perlu meminta izin menggunakan uang yang ada di dompetnya sendiri? Namun, saya justru melihatnya sebagai bentuk penghargaan kepada pasangan.

Di era digital saat ini, hampir semua transaksi dilakukan melalui rekening maupun dompet digital. Namun, kenyataannya masih ada orang yang memilih hidup lebih sederhana.

Suami saya, misalnya, tidak lagi memiliki rekening pribadi. Rekening yang pernah dimilikinya sudah lama tidak digunakan hingga akhirnya tidak aktif.

Sejak kami menikah, hampir seluruh transaksi dilakukan melalui rekening saya, sementara untuk kebutuhan usahanya sehari-hari ia lebih banyak menggunakan uang tunai.

Menariknya, bahkan sejak sebelum menikah, sudah mulai mempercayakan sebagian uangnya kepada saya untuk dikelola. Saat itu sifatnya hanya sebagai tempat penitipan. Jika membutuhkan uang tersebut, ia tinggal mengambilnya kembali.

Setelah menikah, pola itu berkembang menjadi sistem pengelolaan keuangan bersama.

Bahkan, ketika ada penyewa yang membayar uang kontrakan kepada keluarga, ibu mertua selalu menyerahkan uang tersebut kepada saya. Padahal sebelumnya seluruh pengelolaannya berada di tangan beliau.

Kami sebenarnya telah sepakat bahwa selama ibu masih ingin mengelola hasil kontrakan, tidak ada masalah. Namun, sikap beliau yang tetap melibatkan saya sebagai bagian dari pengelolaan keuangan keluarga membuat saya merasa dihargai sebagai anggota keluarga.

Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kali suami ingin membantu keluarganya, ia selalu membicarakannya terlebih dahulu dengan saya. Tidak pernah ada uang yang disembunyikan ataupun keputusan finansial yang diambil secara sepihak.

Saya pun melakukan hal yang sama. Ketika ingin memberikan sesuatu kepada orang tua saya, saya selalu menyampaikannya kepada suami, meskipun menggunakan penghasilan pribadi.

Kini saya sudah tidak lagi bekerja penuh waktu. Penghasilan saya berasal dari pekerjaan lepas yang jumlahnya tidak menentu. Kadang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, kadang untuk sekadar mengajak anak-anak menikmati waktu bersama.

Meski demikian, prinsip kami tetap sama. Setelah menikah, banyak keputusan—termasuk soal keuangan, lebih baik dibicarakan bersama.

Saya tidak pernah melarang suami membantu keluarganya ataupun menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Di sisi lain, saya juga berusaha memastikan pengeluaran rumah tangga tetap berada dalam batas kemampuan.

Tentu saja, mengatur keuangan keluarga bukan perkara mudah. Terlebih ketika sebagian penghasilan harus dialokasikan untuk kebutuhan jangka panjang, seperti membangun rumah.

Namun, sejauh ini kami bersyukur tidak pernah mengalami pertengkaran besar karena masalah keuangan. Ketika ada kesulitan, kami memilih duduk bersama mencari jalan keluarnya.

Mengapa Keterbukaan Finansial Penting?

Bagi saya, keterbukaan finansial merupakan salah satu fondasi penting dalam kehidupan rumah tangga.

Keterbukaan bukan berarti setiap pasangan kehilangan hak atas penghasilan pribadi. Lebih dari itu, keterbukaan menunjukkan adanya kepercayaan serta kesediaan untuk menjalani kehidupan bersama tanpa menyembunyikan hal-hal penting.

Semakin terbuka pasangan mengenai kondisi keuangannya, semakin kecil pula ruang bagi munculnya prasangka dan kesalahpahaman.

Keterbukaan juga mencakup berbagai hal lain, seperti tabungan, utang, rencana investasi, hingga keputusan memberikan bantuan kepada orang tua atau keluarga besar.

Komunikasi semacam ini membantu pasangan memahami prioritas bersama. Misalnya ketika ingin memberikan hadiah kepada orang tua, baik dalam bentuk uang, kebutuhan pokok, maupun bentuk perhatian lainnya.

Berdiskusi, keputusan tersebut menjadi lebih nyaman dijalani oleh kedua belah pihak. Pada akhirnya, keluarga inti tetap menjadi prioritas utama. Namun, perhatian kepada orang tua dan mertua juga dapat diberikan melalui kesepakatan yang disusun bersama.

Belajar Membangun Rumah Tangga Bersama

Sebelum menikah, orang tua saya sempat mengkhawatirkan pilihan hidup yang saya ambil, terutama ketika memutuskan berhenti bekerja.

Mereka khawatir kehidupan ekonomi keluarga kami akan menjadi lebih berat.

Kekhawatiran itu tentu sangat wajar. Orang tua selalu menginginkan anaknya hidup berkecukupan.

Namun, seiring waktu saya belajar bahwa kebahagiaan keluarga tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya penghasilan.

Bagi saya, bisa mendampingi anak-anak tumbuh, memberikan ASI eksklusif hingga dua tahun, serta hadir dalam setiap tahap perkembangan mereka merupakan kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan uang.

Semua itu tentu tidak lepas dari komunikasi yang kami bangun sebagai pasangan.

Kami terbiasa menyampaikan apa yang kami rasakan. Jika kondisi keuangan sedang longgar, kami bersyukur. Jika sedang terbatas, kami juga mengakuinya tanpa harus menutupi keadaan.

Kami berusaha menghindari keputusan-keputusan finansial yang diambil secara diam-diam. Kalaupun harus berutang atau mengambil keputusan penting terkait keuangan, semuanya dibicarakan bersama terlebih dahulu.

Menurut saya, keterbukaan seperti ini bukan hanya membantu menjaga kesehatan finansial keluarga, tetapi juga memberikan ketenangan secara emosional.

Bagi seorang istri yang sehari-hari mengatur kebutuhan rumah tangga, mengetahui kondisi keuangan secara utuh akan memudahkan proses menyusun anggaran. Sebaliknya, ketidakjelasan informasi justru dapat menambah beban pikiran.

Mengelola keuangan keluarga memang bukan pekerjaan yang sederhana. Ada banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, sementara penghasilan sering kali memiliki batas.

Pada situasi seperti itu, komunikasi menjadi modal yang sangat berharga.

Keterbukaan finansial juga membantu pasangan menyusun rencana jangka panjang, mulai dari dana pendidikan anak, tabungan darurat, hingga tujuan-tujuan keluarga di masa depan.

Tentu tidak ada rumah tangga yang selalu berjalan mulus. Setiap keluarga pasti mengalami pasang surut kondisi ekonomi.

Namun, ketika pasangan memilih menghadapinya bersama, beban yang berat sering kali terasa lebih ringan.

Pada akhirnya, keharmonisan keluarga tidak hanya dibangun melalui rasa cinta, tetapi juga melalui kepercayaan, komunikasi, dan keterbukaan dalam menjalani berbagai aspek kehidupan, termasuk urusan keuangan.

Lalu, bagaimana denganmu? Sudahkah bersama pasangan membangun keterbukaan finansial dalam rumah tangga?

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dengan Pasangan?"

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
Kata Netizen
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kata Netizen
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Kata Netizen
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Kata Netizen
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kata Netizen
Bukan Pilah-Pilih Guru, Anak Autis Mungkin Sedang Beradaptasi
Bukan Pilah-Pilih Guru, Anak Autis Mungkin Sedang Beradaptasi
Kata Netizen
Cek Desil dan Pelajaran tentang Arti Berkecukupan
Cek Desil dan Pelajaran tentang Arti Berkecukupan
Kata Netizen
Evaluasi Keuangan Bukan Sekadar Menghitung Saldo
Evaluasi Keuangan Bukan Sekadar Menghitung Saldo
Kata Netizen
Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat
Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat
Kata Netizen
Dari Pasar Comboran, Sepiring Orem-orem Menyimpan Cerita
Dari Pasar Comboran, Sepiring Orem-orem Menyimpan Cerita
Kata Netizen
Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong
Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong
Kata Netizen
Apa Arti Merdeka bagi Nakes?
Apa Arti Merdeka bagi Nakes?
Kata Netizen
Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa
Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa
Kata Netizen
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Kata Netizen
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau