Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Nova Rio Redondo
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Nova Rio Redondo adalah seorang yang berprofesi sebagai Mahasiswa. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 10:51 WIB

Apa yang kamu sadari dari cara berpikir kita ketika pertama kali menjadi mahasiswa ternyata tidak sama dengan ketika kita mendekati kelulusan? Apa saja pengalaman selama kuliah yang perlahan mengubah cara kita melihat pemerintah, masyarakat, politik, pendidikan, hingga kehidupan?

Rasanya cukup berbeda ketika kembali membuka ruang untuk menulis dan menuangkan pikiran. Banyak hal yang terasa baru, baik dari lingkungan, pengalaman, maupun cara saya sendiri dalam melihat berbagai persoalan.

Mungkin bukan hanya dunia yang berubah, tetapi saya juga telah berubah. Apa yang dahulu saya pikirkan ketika menjadi mahasiswa baru ternyata tidak sepenuhnya sama dengan apa yang saya pikirkan sekarang, ketika menjadi sarjana.

Perubahan itu membuat saya bertanya kepada diri sendiri. Sebenarnya, sejauh mana perjalanan menjadi mahasiswa telah mengubah cara saya berpikir?

Masa perkuliahan merupakan proses panjang yang perlahan membentuk cara seseorang melihat dunia. Perubahan tersebut tidak selalu terlihat secara langsung.

Kadang-kadang, perubahan itu hadir melalui perdebatan di ruang kelas, percakapan dengan teman, pengalaman organisasi, pemberitaan politik, persoalan ekonomi, hingga kegagalan dan keberhasilan yang dialami selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

Pada akhirnya, seseorang mungkin menyadari bahwa dirinya tidak lagi melihat dunia dengan cara yang sama seperti ketika pertama kali memasuki perguruan tinggi.

Perubahan pola pikir tersebut juga saya alami. Jika melihat perjalanan saya dari mahasiswa baru hingga menjelang menjadi sarjana, terdapat perubahan yang cukup jelas dalam cara saya memandang kehidupan, pemerintah, masyarakat, politik, pendidikan, bahkan masa depan.

Perubahan itu bukan berarti saya kehilangan prinsip atau sekadar mengikuti keadaan. Sebaliknya, pengalaman selama kuliah membuat saya semakin memahami bahwa kehidupan tidak selalu dapat dilihat secara hitam dan putih.

Ketika menjadi mahasiswa baru atau maba, saya cenderung memiliki pola pikir yang santai dan sederhana. Saya berusaha melihat berbagai persoalan berdasarkan logika yang menurut saya masuk akal.

Dunia perkuliahan pada masa itu lebih banyak saya lihat sebagai ruang untuk beradaptasi, belajar, mendapatkan pengalaman, dan menikmati proses menjadi mahasiswa.

Pada fase tersebut, perhatian terhadap persoalan politik dan masyarakat belum terlalu dalam. Saya mengetahui bahwa politik penting, pemerintah memiliki peran besar, dan masyarakat mempunyai berbagai persoalan, tetapi semua itu belum menjadi sesuatu yang benar-benar saya pikirkan secara serius.

Saya cenderung mengambil posisi sebagai pengamat yang melihat suatu persoalan berdasarkan apa yang tampak dan apa yang menurut saya masuk akal.

Cara berpikir seperti ini sebenarnya memiliki sisi positif. Saya tidak mudah terbawa emosi dan tidak ingin terlalu cepat memberikan penilaian terhadap suatu persoalan. Namun, di sisi lain, cara pandang yang terlalu sederhana juga memiliki keterbatasan.

Memasuki pertengahan masa kuliah, cara berpikir saya mulai mengalami perubahan. Pengetahuan yang semakin bertambah membuat saya mulai mempertanyakan berbagai hal yang sebelumnya saya terima begitu saja.

Diskusi dengan teman, materi perkuliahan, informasi dari media, serta berbagai peristiwa sosial dan politik membuat saya mulai melihat bahwa kebijakan pemerintah memiliki dampak yang berbeda-beda bagi setiap kelompok masyarakat.

Pada tahap ini, saya mulai memiliki kecenderungan sedikit "kiri" terhadap pemerintah. Dalam konteks ini, "kiri" yang saya maksud bukan sekadar identitas politik, melainkan kecenderungan untuk lebih kritis terhadap kekuasaan dan lebih memperhatikan persoalan ketimpangan.

Saya mulai bertanya: untuk siapa sebuah kebijakan dibuat? Apakah pertumbuhan ekonomi selalu berarti kesejahteraan masyarakat meningkat? Apakah kebijakan yang dianggap baik oleh pemerintah otomatis dirasakan baik oleh seluruh masyarakat? Dan berbagai pertanyaan lainnya.

Saya mulai memahami pentingnya kritik, kebebasan berpendapat, transparansi, dan partisipasi masyarakat dalam kehidupan demokrasi.

Namun, fase ini juga mengajarkan saya bahwa menjadi kritis tidak sama dengan selalu menolak. Kritik seharusnya lahir dari keinginan untuk memahami dan memperbaiki, bukan semata-mata karena kebencian terhadap pihak tertentu.

Menjelang kelulusan atau akhir semester, pola pikir saya kembali mengalami perubahan. Jika sebelumnya saya cenderung kritis terhadap pemerintah dan berbagai persoalan sosial, pada fase ini saya mulai lebih fokus pada realitas kehidupan. Saya mulai memahami bahwa gagasan yang ideal tidak selalu mudah diterapkan dalam kehidupan nyata.

Realitas masyarakat ternyata memiliki banyak lapisan. Ada persoalan ekonomi, lapangan pekerjaan, pendidikan, keluarga, akses terhadap kesempatan, kepentingan politik, serta berbagai kondisi yang membuat setiap orang memiliki titik awal yang berbeda.

Apa yang terlihat sederhana dari luar ternyata dapat menjadi persoalan yang sangat kompleks ketika dilihat dari dekat.

Saya juga mulai memahami bahwa pemerintah menghadapi berbagai keterbatasan. Kritik terhadap pemerintah tetap penting, tetapi saya tidak lagi melihat persoalan hanya dari satu sisi.

Sebuah kebijakan dapat memiliki tujuan yang baik, tetapi pelaksanaannya menghadapi kendala. Sebaliknya, kebijakan yang terlihat menguntungkan juga dapat menimbulkan persoalan bagi kelompok tertentu.

Perubahan ini membuat saya tidak kehilangan sikap kritis, tetapi menjadi lebih realistis.

Saya kemudian menyadari bahwa menjadi warga negara yang baik bukan berarti harus selalu mendukung pemerintah ataupun selalu menentang pemerintah. 

Nah, yang lebih penting adalah memiliki kemampuan untuk menilai kebijakan secara rasional, memahami konteksnya, dan berani memberikan kritik ketika memang diperlukan. Kita juga perlu terus mencari kebenaran dan melihat persoalan dari berbagai sisi.

Dalam kehidupan masyarakat, perubahan cara berpikir juga membuat saya lebih memahami pentingnya toleransi. Setiap orang memiliki pengalaman, kepentingan, dan sudut pandang yang berbeda. Karena itu, perbedaan pendapat tidak seharusnya selalu berakhir dengan permusuhan.

Justru masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa saling menghormati.

Kira-kira begini singkatnya. Ketika menjadi maba, saya cenderung santai dan melihat sesuatu berdasarkan logika sederhana. Di pertengahan kuliah, saya mulai kritis dan memiliki kecenderungan lebih kritis terhadap pemerintah.

Saya mulai mempertanyakan kekuasaan, ketimpangan, dan kebijakan publik. Namun, menjelang lulus hingga menjadi sarjana, saya mulai lebih fokus pada realitas. Saya belajar bahwa dunia tidak sesederhana teori dan perdebatan.

Pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya menghasilkan orang yang mampu menjawab soal ujian, tetapi juga manusia yang mampu memahami persoalan kehidupan.

Kita boleh memiliki idealisme, tetapi idealisme perlu berdialog dengan realitas. Kita boleh kritis terhadap pemerintah, tetapi kritik harus disertai pengetahuan dan tanggung jawab.

Kita boleh memiliki pandangan politik tertentu, tetapi jangan sampai pandangan tersebut membuat kita menutup diri terhadap kenyataan dan pendapat orang lain.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa mengajarkan saya untuk tidak mudah percaya dan tidak cepat menyimpulkan sesuatu.

Di tengah derasnya informasi, kita harus terus mencari tahu, memeriksa kebenaran, dan melihat persoalan dari berbagai sisi agar tidak mudah termakan hoaks.

Mungkin tulisan ini cukup menjadi pemanasan untuk kembali menulis. Masih banyak hal yang ingin saya pikirkan, pelajari, dan bagikan.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Perubahan Pola Pikir Mahasiswa, Mulai dari Maba hingga Menjadi Sarjana"

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau