
Coba bayangkan belajar biologi tidak selalu berkutat dengan buku pelajaran dan hafalan nama ilmiah, tetapi juga bisa dilakukan dengan mengamati jejak satwa, mengenali katak dan kodok, hingga mengamati burung di alam. Asyik, kan?
Selama ini, biologi mungkin dianggap sebagai pelajaran yang cukup rumit. Ada banyak nama ilmiah yang perlu diingat, belum lagi materi seperti genetika yang mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.
Padahal, belajar biologi tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas atau melalui buku. Mengenal sains secara langsung di alam dapat membantu kita memahami lingkungan sekitar dengan lebih nyata. Pengalaman semacam ini juga bisa menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus kepedulian generasi muda terhadap kelestarian keanekaragaman hayati.
Semangat itulah yang menjadi salah satu tujuan kegiatan Pelatihan Dasar Identifikasi dan Pengamatan Satwa untuk Peneliti Muda di Taman Margasatwa Ragunan.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh UrBio UNAS bersama Program Studi Sarjana dan Magister Biologi serta Pusat Studi Pengelolaan Hutan dan Hidupan Liar UNAS. Pelaksanaannya turut melibatkan komunitas CaniEarth dari Kolese Kanisius Jakarta, Forum Studi Primata "Lutung", Biological Bird Club "Ardea", dan Kelompok Studi Herpetologi "Sahul".
Dalam pelatihan ini, para siswa diajak mengenal berbagai kelompok satwa, mulai dari mamalia, primata, burung, hingga herpetofauna. Mereka tidak hanya mempelajari karakteristik setiap kelompok satwa, tetapi juga berkesempatan mencoba pengamatan dan identifikasi secara langsung.
Mamalia: Mengenali Satwa dari Jejaknya
Ketika melakukan pengamatan di alam, kita tidak selalu bisa menjumpai mamalia secara langsung. Bahkan, keberadaan beberapa satwa justru lebih mudah diketahui melalui tanda-tanda yang ditinggalkannya.
Tanda-tanda tersebut dapat berupa jejak kaki, cakaran, kotoran, sisa pakan, hingga kubangan yang bisa menjadi petunjuk aktivitas satwa tertentu.
Dalam pelatihan kali ini, para siswa diajak mencoba membuat cetakan jejak satwa menggunakan gipsum yang telah disiapkan. Melalui simulasi tersebut, mereka belajar mengenali bentuk dan karakteristik jejak, kemudian mencocokkannya dengan panduan identifikasi.
Dari kegiatan ini, kita bisa memahami bahwa mengenali satwa tidak selalu mengharuskan kita melihat hewannya secara langsung. Jejak yang ditinggalkan pun dapat memberikan informasi menarik mengenai keberadaan dan aktivitas satwa di suatu kawasan.
Herpetofauna: Katak, Kodok, dan Ular, Apa Bedanya?
Apa, sih, herpetofauna itu? Istilah ini digunakan untuk menyebut kelompok reptil dan amfibi, termasuk ular, kadal, katak, dan kodok.
Lalu, apakah katak dan kodok sebenarnya berbeda?
Secara umum, kodok sering memiliki kulit yang lebih kasar atau berbintil-bintil, sedangkan banyak katak mempunyai kulit yang lebih halus dan lembap.
Meski demikian, ciri tersebut tidak berlaku untuk semua jenis. Karena itu, kita juga perlu memperhatikan karakteristik lainnya agar dapat mengenali satwa dengan lebih tepat.
Dalam sesi ini, para siswa diperlihatkan sejumlah spesimen herpetofauna, seperti katak, kodok, dan ular. Selain belajar melalui spesimen, mereka juga melakukan pengamatan langsung di lapangan. Salah satu satwa yang ditemukan dalam kegiatan tersebut adalah biawak.
Melalui pengalaman ini, para siswa dapat melihat bahwa setiap satwa memiliki karakteristik yang berbeda. Untuk mengenalinya dengan tepat, diperlukan pengamatan yang cermat, bukan sekadar mengandalkan kesan pertama.
Avifauna: Mengamati Burung Butuh Kesabaran!
Burung atau avifauna merupakan salah satu kelompok satwa yang relatif mudah dijumpai di berbagai lingkungan, termasuk kawasan perkotaan. Namun, mengamati burung ternyata tidak selalu mudah.
Beberapa jenis burung cukup peka terhadap pergerakan manusia sehingga keberadaannya tidak mudah diamati. Karena itu, pengamatan burung membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan alat bantu yang sesuai.
Salah satu alat yang dapat digunakan adalah binokular, yang biasa dikenal sebagai teropong. Alat ini membantu pengamat melihat karakteristik burung dari jarak jauh tanpa harus mendekatinya secara langsung.
Saat melakukan pengamatan di Ragunan, salah satu temuan yang menarik perhatian adalah cekakak jawa (Javan Kingfisher). Jenis burung ini umumnya dijumpai di habitat yang dekat dengan perairan, seperti sungai. Menemukannya menjadi pengalaman menarik sekaligus kesempatan untuk mengamati karakteristik burung secara langsung di habitatnya.
Namun, pengamatan burung bukan sekadar melihat dan mencatat jenis yang ditemukan. Kita juga perlu memperhatikan perilaku, karakteristik fisik, serta kondisi lingkungan tempat burung tersebut dijumpai.
Belajar Biologi, Mengenal Alam, dan Menumbuhkan Kepedulian
Melalui kegiatan kolaboratif ini, para siswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dasar tentang identifikasi dan pengamatan satwa, tetapi juga semakin tertarik untuk mengenal keanekaragaman hayati di sekitarnya.
Belajar biologi bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Kita dapat memperhatikan jejak di tanah, mengenali perbedaan karakteristik katak dan kodok, hingga mengamati burung yang bertengger di pepohonan.
Dari pengalaman-pengalaman tersebut, kita bisa memahami bahwa setiap satwa memiliki peran dalam ekosistem dan keberadaannya perlu dijaga.
Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal bagi generasi muda untuk terus belajar, mengeksplorasi alam, dan tumbuh menjadi generasi yang semakin peduli terhadap kelestarian keanekaragaman hayati.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Belajar Biologi Itu Menyenangkan, Lho!"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.