Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Eko Nurhuda
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Eko Nurhuda adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Krisis ISBN: Salah Kaprah Memahami Buku Bagus

Kompas.com, 14 Desember 2023, 16:04 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Melalui status WhatsApp, seorang teman baru-baru ini mengajak saya menulis bersama. Melihat hal tersebut, saya langsung berpikir, "Ini yang membuat Indonesia mengalami krisis ISBN."

Undangan menulis bersama seperti itu sudah menjadi tren sejak sekitar 5-6 tahun yang lalu, atau mungkin lebih lama, tetapi saya baru menyadarinya dalam kurun waktu tersebut.

Biasanya, penyelenggara mengumpulkan sejumlah penulis yang bersedia menulis cerpen dengan tema tertentu, dengan jumlah peserta sekitar 20-25 penulis untuk setiap proyek.

Setelah terkumpul, para penulis ini kemudian dikelompokkan dalam grup WhatsApp atau Telegram untuk memudahkan koordinasi. Lalu, mereka diminta untuk mengirimkan karya-karya mereka sesuai dengan tenggat waktu yang ditentukan.

Karya tulis para penulis inilah yang kemudian dibukukan sebagai buku antologi, yakni kumpulan cerpen dengan tema tertentu. Sebagai daya tarik, dalam promosi ajakan menulis bersama seringkali disebutkan bahwa buku tersebut akan memiliki ISBN, dan sungguh, hal tersebut menjadi sangat memikat.

Buku dengan ISBN = Buku Bagus?

Fenomena inilah yang lantas jadi pemicu adanya tulisan ini. Sebab ternyata masih ada kesalahpahaman mengenai buku ber-ISBN, terutama di kalangan para pegiat literasi.

Salah satu pemahaman keliru yang umum adalah menganggap bahwa buku ber-ISBN otomatis memiliki kualitas yang baik. ISBN dianggap sebagai tanda mutu yang menegaskan kualitas suatu buku.

Pemikiran ini dulu membuat beberapa penulis kurang tertarik dengan konsep penerbitan mandiri atau self-publishing, karena kebanyakan buku self-publishing tidak memiliki ISBN.

Namun, sebenarnya, ISBN tidak dapat dijadikan patokan untuk menilai mutu suatu buku. ISBN hanya berfungsi sebagai nomor identifikasi untuk manajemen stok dan jalur distribusi buku, bukan sebagai penjamin mutu. Pemikiran keliru ini sayangnya masih merajalela di kalangan mereka yang mengaku sebagai penulis.

Salah kaprah kedua adalah menganggap bahwa sebuah penerbit yang dapat menerbitkan buku ber-ISBN dianggap sebagai penerbit bonafide, sementara yang tidak bisa memberi ISBN dianggap abal-abal. Hal ini menyebabkan munculnya penerbit skala kecil yang menjanjikan buku ber-ISBN, bahkan jika hanya dicetak dalam jumlah kecil sebagai bukti terbit.

Beberapa praktik semacam ini menunjukkan bahwa memiliki ISBN tidak selalu mencerminkan kualitas penerbit atau buku itu sendiri. Keputusan penerbit untuk memberikan ISBN bisa saja hanya terkait dengan keinginan untuk memenuhi syarat formal tanpa memperhatikan kualitas secara menyeluruh.

Kemudian, maraknya penerbit skala kecil atau vanity publisher yang mengadakan proyek menulis bersama semakin menambah kompleksitas situasi.

Vanity publisher sering kali menerbitkan buku berbayar, di mana penulis membayar sejumlah uang agar bukunya diterbitkan. Mereka cenderung kurang memerhatikan kualitas naskah karena lebih fokus pada aspek finansial.

Semua fenomena ini pada akhirnya terkait dengan meningkatnya permintaan pemberian ISBN, terutama karena praktik-praktik penerbitan yang kurang berkualitas.

Meskipun Perpustakaan Nasional telah membatasi pemberian ISBN dengan mensyaratkan penerbit harus berbadan hukum, namun masih ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh praktik-praktik penerbitan yang kurang etis.

Oleh karena itu, langkah Perpustakaan Nasional untuk membatasi pemberian ISBN adalah langkah yang tepat. Namun, perlu juga perhatian lebih lanjut untuk menutup celah-celah yang mungkin dimanfaatkan oleh penerbit-penerbit yang kurang etis.

Penting bagi kita semua untuk memahami dengan benar fungsi ISBN dan tidak mengaitkannya langsung dengan kualitas suatu buku.

Dengan menyebarkan pemahaman yang benar mengenai ISBN, kita dapat membantu mengatasi krisis ISBN di Indonesia dan mengembalikan fungsi sebenarnya dari sistem ini. Yang terpenting, kualitas sebuah buku seharusnya tetap dinilai dari isinya, bukan dari keberadaan ISBN.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Salah Kaprah Memahami Buku Ber-ISBN"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau