Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Nuning Sapta Rahayu
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Nuning Sapta Rahayu adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi

Kompas.com, 29 Maret 2026, 16:03 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Aroma oncom yang ditumis bersama bawang putih, cabai, dan kencur selalu menghadirkan sensasi khas yang sulit dilupakan. Ketika nasi hangat diaduk dengan oncom berbumbu, lahirlah hidangan sederhana yang begitu akrab di dapur masyarakat Sunda: tutug oncom.

Menariknya, kesadaran akan keistimewaan hidangan ini justru datang dari pengalaman di luar negeri. Dalam sebuah konferensi internasional di Kelantan, Malaysia, percakapan ringan dengan peserta lain membuka perspektif baru.

Ketika ditanya tentang makanan yang paling berkesan dari Jawa Barat, salah satu dari mereka menjawab dengan antusias: “nasi tutug oncom dan kerupuk udang.”

Bagi mereka, cita rasa tutug oncom terasa unik—gurih, harum, dan berbeda dari nasi berbumbu yang pernah mereka coba. Kerupuk udang yang renyah semakin melengkapi pengalaman tersebut.

Momen sederhana ini seolah menjadi pengingat: sesuatu yang kerap dianggap biasa di tempat asalnya, bisa jadi justru meninggalkan kesan mendalam bagi orang lain.

Padahal, jika disajikan lengkap dengan lauk dan sayuran, tutug oncom merupakan contoh pangan lokal bergizi yang layak mendapat tempat di meja makan keluarga, termasuk saat Lebaran.

Alternatif Seimbang di Tengah Hidangan Bersantan

Lebaran di Indonesia identik dengan hidangan kaya santan seperti ketupat, opor ayam, dan rendang. Menu-menu tersebut telah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Namun, konsumsi makanan bersantan secara berturut-turut sering membuat tubuh terasa lebih berat. Tak jarang pula muncul kekhawatiran terkait kolesterol maupun gangguan pencernaan.

Dalam konteks ini, menghadirkan variasi menu yang lebih seimbang menjadi penting. Pangan lokal yang kaya serat, protein nabati, serta bahan alami dapat menjadi alternatif yang menyehatkan tanpa mengurangi kenikmatan bersantap bersama keluarga. Tutug oncom menjadi salah satu pilihan yang relevan.

Kesederhanaan yang Sarat Makna

Dalam bahasa Sunda, “tutug” berarti menumbuk atau mencampur. Pada hidangan ini, nasi panas diaduk dengan oncom yang telah ditumis bersama bumbu sederhana seperti bawang putih, cabai, kencur, dan garam.

Hasilnya adalah nasi dengan aroma harum dan rasa gurih yang khas.

Sejak dahulu, tutug oncom dikenal sebagai makanan rumahan masyarakat Sunda. Ia lahir dari kreativitas mengolah bahan sederhana menjadi hidangan yang mengenyangkan.

Meski awalnya dianggap sebagai makanan sehari-hari, kini tutug oncom justru menjadi salah satu ikon kuliner Jawa Barat yang banyak dicari.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Kata Netizen
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Kata Netizen
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Kata Netizen
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Kata Netizen
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Kata Netizen
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Kata Netizen
Cerita Kehamilan Kembar, Tantangan dan Strategi Memenuhi Nutrisi
Cerita Kehamilan Kembar, Tantangan dan Strategi Memenuhi Nutrisi
Kata Netizen
Perjalanan Menjadi Ayah, dari Jarak hingga Momen Mendampingi
Perjalanan Menjadi Ayah, dari Jarak hingga Momen Mendampingi
Kata Netizen
Belajar Memahami Orang Tua di Usia Senja
Belajar Memahami Orang Tua di Usia Senja
Kata Netizen
Split Bill, Cara Sederhana Menjaga Kenyamanan dalam Pertemanan
Split Bill, Cara Sederhana Menjaga Kenyamanan dalam Pertemanan
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau