
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di tengah ketidakpastian pasokan energi global, apakah kebijakan bekerja dari rumah cukup untuk menekan konsumsi BBM, atau justru kita perlu langkah yang lebih menyeluruh?
Konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah membawa dampak yang tidak kecil terhadap pasokan minyak dunia.
Bagi negara seperti Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, situasi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas pasokan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap pasti.
Dalam kondisi tertentu, jika impor terganggu, cadangan minyak nasional diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 20 hingga 25 hari. Artinya, ruang untuk bergerak tidak terlalu panjang. Dalam konteks seperti inilah pemerintah mulai menyiapkan berbagai langkah antisipatif.
Salah satu upaya yang tengah dikaji adalah penerapan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) selama satu hari dalam lima hari kerja.
Wacana ini dibahas dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, sebagai bagian dari strategi menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sekaligus merespons potensi kenaikan harga energi.
Rencananya, kebijakan ini mulai dipertimbangkan untuk diterapkan setelah Idul Fitri 2026. Pemerintah melihat adanya potensi penghematan konsumsi BBM hingga sekitar seperlima dari penggunaan harian, jika mobilitas pekerja dapat dikurangi secara terukur.
Mobilitas Tinggi, Ketergantungan yang Nyata
Sebagai pusat aktivitas ekonomi, Jakarta memiliki tingkat mobilitas yang sangat tinggi. Lalu lintas yang padat hampir menjadi bagian dari keseharian, terutama pada hari kerja.
Pada satu sisi, mobilitas ini mencerminkan dinamika ekonomi yang tumbuh. Namun di sisi lain, ia juga menunjukkan tingginya ketergantungan terhadap BBM.
Sejauh ini, pasokan BBM di Jakarta masih berada dalam kondisi relatif aman. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa stok BBM terkendali dan distribusinya berjalan baik. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas dan menghindari kepanikan di masyarakat.
Meski demikian, bayang-bayang ketidakpastian global tetap ada. Jika konflik berkepanjangan, gangguan pasokan bukanlah hal yang mustahil.
Oleh karena itu, langkah-langkah mitigasi menjadi penting, bukan hanya sebagai respons jangka pendek, tetapi juga sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Seberapa Efektif WFH Satu Hari?
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyatakan kesiapan untuk mengimplementasikan kebijakan WFH, khususnya bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun, kebijakan ini memiliki batasan yang cukup jelas.