Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yulius Roma Patandean
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yulius Roma Patandean adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Musim Bediding, Tradisi, dan Orang Toraja

Kompas.com, 30 Juni 2025, 16:47 WIB

Hampir setiap tahun di Toraja kerap mengalami hal-hal semacam musim bediding. Cuaca dan suhu dingin yang cukup menusuk kulit dan tulang saat ini seperti yang sedang dirasakan.

Cahaya matahari cukup normal seperti biasa, tetapi hawa dinginnya cukup terasa.

Daerah geografis Toraja yang ada di pegunungan dan sebelumnya sudah dingin kini makin dingin. Ini adalah musim yang biasa setiap tahun.

Hanya saja, beberapa tahun terakhir, musim bediding di Toraja seperti berminggu-minggu dan tak menentu.

Sebagai mana kebiasaan orang Toraja sebagai orang gunung, memakai sarung sebagai penghangat tubuh adalah tradisi turun-temurun. Semua kalangan, dari anak-anak hingga lansia masih menjaga tradisi ini dengan baik.

Mengkalemu' atau membungkus badan dengan sarung adalah kebiasaan kami di wilayah Gandangbatu Sillanan dan Toraja pada umumnya saat menghadapi cuaca dingin.

Peran sarung (sambu'/dodo) hampir sama dengan selimut tebal atau jaket, yakni penghangat badan. Anak-anak pun sangat menggemari bersembunyi dibalik balutan sarung orang tua saat kedinginan.

Sambil mengkalemu', seringkali dilengkapi dengan suguhan kawa (kopi tanpa gula) atau kopi panas.

Semakin ke kampung dan pedalaman, suguhan tuak (minuman alkohol khas Toraja) akan banyak ditemukan dinikmati oleh kelompok-kelompok warga. 

Minuman tuak tak bisa dipisahkan dari kehidupan keseharian orang Toraja. Di semua acara dan ritual adat, tuak pasti ada. 

Di musim bediding, tuak berfungsi sebagai penghangat tubuh. Mengkalemu', minum kopi atau minum tuak sambil main domino dan bersenda gurau menjadi kegiatan harian penghangat suasana. Terutama oleh pemuda dan bapak-bapak. 

Di sisi lain, musim bediding ternyata membawa dampak lain, yakni banyaknya warga terkena demam tiba-tiba. Saya pun mengalami hal yang sama. Dalam seminggu terakhir, saya mengalami demam tinggi. Tiupan angin tiap hari semakin membuata badan saya menggigil. 

Ternyata, bukan hanya saya yang menderita demam. Banyak warga Toraja juga mengalami hak yang sama di musim bediding. Ada yang kena flu berat. Mengapa ini bisa terjadi?

Musim bediding adalah fenomena di mana terjadi penurunan suhu udara yang signifikan, terutama pada malam hingga pagi hari, meskipun sedang musim kemarau. Ini biasanya terjadi karena adanya pergerakan angin dari Benua Australia yang sedang musim dingin. Perubahan suhu yang drastis ini dapat membuat banyak orang rentan terhadap demam dan flu.

Perubahan suhu yang ekstrem dan drastis (panas di siang hari, sangat dingin di malam hari) dapat membuat tubuh kesulitan beradaptasi.

Hal ini dapat menyebabkan penurunan daya tahan atau sistem kekebalan tubuh, sehingga lebih mudah terserang virus dan bakteri penyebab demam dan flu.

Suhu dingin sangat sesuai untuk perkembangbiakan virus, termasuk virus flu (influenza) dan virus penyebab infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Virus-virus ini dapat bertahan hidup lebih baik dan menyebar lebih cepat pada suhu yang lebih rendah.

Musim bediding seringkali juga menyebabkan udara menjadi lebih kering. Udara kering dapat membuat partikel virus dan mikroorganisme bertahan lebih lama di udara, meningkatkan risiko penularan infeksi melalui udara.

Saat suhu dingin, orang cenderung lebih banyak berkumpul di dalam ruangan. Hal ini mempercepat penyebaran virus dari satu orang ke orang lain, karena jarak kontak lebih dekat dan sirkulasi udara mungkin kurang baik.

Udara dingin dan kering dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, menjadikannya lebih rentan terhadap infeksi. Bagi penderita alergi dingin, gejala seperti pilek, hidung tersumbat, dan bersin-bersin juga bisa memburuk. Bahkan dalam dua hari terakhir, ketika saya meludah, ada jejak darah di air liur. Ternyata, ada iritasi di bagian kerongkongan.

Membuat jamu tradisional dari jahe dan daun serai yang disiram air panas menjadi minuman ternikmat selama saya mengalami fase demam. Beberapa jenis obat seperti tidak mempan melawan demam.

Mengkalemu' dengan balutan sarung tenun khas Simbuang yang tebal selama seminggu membantu pula dalam pemulihan. 

Beberapa cara saya lain sebagai saran dari istri pun saya ambil untuk menghadapi musim bediding agar terhindar dari sakit, antara lain: 

1. Perbanyak minum air putih, minimal 8 gelas sehari, untuk mencegah dehidrasi dan menjaga kelembaban tubuh. 

2. Konsumsi makanan bergizi atau asupan nutrisi seimbang, termasuk buah dan sayuran, untuk mendukung sistem kekebalan tubuh.

3. Tidur yang cukup sangat penting untuk memulihkan tubuh dan meningkatkan produksi antibodi yang melawan infeksi.

4. Mengenakan pakaian tebal, jaket, sarung dan selimut, terutama pada malam hari, untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil.

5. Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir untuk mencegah penyebaran virus dan bakteri.

6. Menghindari berada di tempat yang terlalu dingin atau terpapar angin dingin secara langsung jika memungkinkan.

7. Melakukan fisik ringan secara teratur dapat membantu menjaga daya tahan tubuh.

8. Mengonsumsi multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Dengan menjaga kesehatan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan, risiko terkena demam dan flu selama musim bediding dapat diminimalisir.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Musim Bediding, Tradisi dan Dampaknya bagi Orang Toraja"

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau