
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apa yang membuat pasar tradisional seperti Pasar Jati Mulyo tetap hidup dan dicintai masyarakat di tengah maraknya pusat perbelanjaan modern?
Dari tepi jalan raya yang menghubungkan Bandar Lampung dan Lampung Selatan, berdiri sebuah pasar yang seolah tak pernah tidur: Pasar Jati Mulyo.
Sekilas, tampilannya mungkin tak berbeda dari pasar tradisional lain. Lapak-lapak berjajar rapi, payung-payung warna-warni menaungi pedagang, motor parkir di tepi jalan, dan interaksi hangat antara pembeli dan penjual menciptakan suasana akrab.
Namun, jika diperhatikan lebih dekat, pasar ini bukan sekadar tempat transaksi. Ia adalah simpul kehidupan – ruang ekonomi, sosial, sekaligus budaya – yang terus berdenyut meski pusat perbelanjaan modern kian bermunculan.
Kali ini saya ingin mengajak Kompasianer melihat lebih dekat pasar yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami: Pasar Jati Mulyo.
Pasar Jati Mulyo hanya sekitar 3 km dari rumah –-sekitar 9 menit perjalanan dengan sepeda motor-– dan menjadi tempat andalan kami saat belanja kebutuhan mendesak, terutama di sore hingga malam hari.
Pembagian belanja di keluarga kami sebenarnya sederhana: kebutuhan mingguan kami penuhi di Pasar Mandiri Way Kandis, untuk kebutuhan khusus seperti membeli daging segar atau menggiling kopi kami ke Pasar Way Halim.
Sedangkan Pasar Jati Mulyo menjadi “penyelamat” saat butuh belanja cepat. Ini bukan sekadar soal praktis, tetapi juga cara kecil kami menjaga roda ekonomi pasar tradisional agar tetap hidup.
Dari Pasar Tempel ke Simpul Strategis
Pasar Jati Mulyo awalnya hanyalah pasar tempel sederhana, tempat warga sekitar membeli kebutuhan pokok.
Namun, letaknya yang strategis – berada di jalur utama penghubung kota dan kabupaten, dekat pintu Tol Kota Baru – membuatnya tumbuh pesat.
Kini, pasar ini menjelma menjadi titik distribusi hasil bumi. Sayuran segar datang setiap hari dari Metro, Lampung Timur, Pesawaran, hingga desa-desa sekitar.
Saya bahkan mengetahui hal ini secara kebetulan, ketika teman SMP istri saya yang kini menjadi pemasok sayuran datang berkunjung ke rumah.
Sebuah kebetulan manis: setelah puluhan tahun tak bertemu, kami dipertemukan kembali melalui pasar yang terus hidup dan berkembang.
Dari Pasar Jati Mulyo, hasil bumi itu berpindah tangan ke pedagang besar, pengecer, hingga pedagang keliling. Rantai distribusi ini membuat denyut ekonomi rakyat terasa nyata. Aktivitasnya berlangsung hampir 24 jam dengan ritme berbeda di tiap waktunya.