Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Budiharjo
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Budiharjo adalah seorang yang berprofesi sebagai Petani. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville

Kompas.com, 28 Mei 2026, 15:22 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Sepulang dari Gunung Andong, saya berpisah dengan rombongan anak-anak muda yang sejak tadi mendaki bersama. Mereka melanjutkan perjalanan ke arah Kopeng, mungkin untuk beristirahat sekaligus mengunggah dokumentasi perjalanan ke media sosial.

Sementara itu, saya memilih memutar arah menuju Ketep, Magelang. Di sana tinggal seorang kawan lama, seangkatan dengan saya. Sebut saja namanya Pak Eko.

Kami sama-sama generasi yang tumbuh di masa ketika segala sesuatu belum serba digital. Sama-sama pernah menikmati masa ketika relasi dibangun lewat tatap muka, transaksi terjadi secara langsung, dan promosi dari mulut ke mulut terasa cukup.

Pak Eko dulu dikenal sebagai pemain bonsai yang cukup disegani. Tangannya terampil membentuk dahan dan batang menjadi karya seni bernilai tinggi.

Namun beberapa tahun terakhir, ia mulai beralih menekuni budidaya bougenville, mengikuti perubahan pasar yang dirasanya lebih menjanjikan.

Kami duduk di teras rumahnya yang menghadap lereng Merbabu. Udara siang terasa sejuk. Deretan pot bougenville berjajar rapi dengan warna-warna mencolok yang menyegarkan mata. Namun di balik suasana yang indah itu, saya menangkap kegelisahan di wajah Pak Eko.

“Sekarang sepi, Bud,” katanya pelan sambil menyodorkan secangkir kopi hitam hangat.

“Pembeli makin jarang. Banyak kalah sama penjual online.”

Ia lalu bercerita bagaimana lapak bunga di pinggir jalan yang dulu cukup ramai kini lebih sering dilewati kendaraan tanpa berhenti. Dunia perlahan berubah, sementara cara lama tak lagi selalu berhasil.

“Bonsai juga begitu,” lanjutnya. “Pemainnya makin banyak, pasar juga berubah.”

Saya hanya mengangguk sambil menyeruput kopi perlahan. Sebab, apa yang dirasakan Pak Eko sebenarnya juga dirasakan banyak orang di berbagai bidang. Perubahan teknologi bukan hanya mengubah cara orang berjualan, tetapi juga cara orang membangun kepercayaan.

Pak Eko kemudian bertanya bagaimana saya masih bisa bertahan menjual tanaman hingga sekarang.

Saya pun mencoba berbagi pengalaman. Bahwa beberapa tahun terakhir, saya memilih belajar mengikuti perubahan, meski awalnya terasa canggung.

Saya pernah mencoba mengikuti gaya anak-anak muda saat berjualan daring. Mencoba tampil ceria saat siaran langsung, berbicara penuh semangat di depan kamera, hingga meniru gaya promosi yang sedang tren. Namun hasilnya tidak terlalu berhasil.

Saya sadar, setiap orang punya caranya sendiri.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Kata Netizen
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Kata Netizen
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Kata Netizen
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kata Netizen
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Kata Netizen
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Kata Netizen
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Kata Netizen
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Kata Netizen
Fenomena 'Book Shaming' dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Fenomena "Book Shaming" dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Kata Netizen
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Kata Netizen
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Kata Netizen
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Kata Netizen
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Kata Netizen
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Kata Netizen
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau