
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Pada momen seperti apa kamu mulai perlu punya pasangan hidup? Apakah lingkungan sekitar yang kerap "menekan" agar kamu juga punya pasangan? Atau... memang sudah bertemu orang yang tepat?
Perkara jodoh selalu menyimpan misteri. Tak seorang pun tahu pasti kapan atau di mana ia akan datang.Ada yang dipertemukan lebih cepat, ada pula yang harus menunggu lebih lama.
Namun, cepat atau lambatnya bukan ukuran kebahagiaan. Semesta punya cara tersendiri untuk menghadirkan yang terbaik bagi setiap orang.
Yang penting, kita tetap mengikhtiarkan dan memanjatkan doa. Selebihnya, kita pasrahkan kepada Sang Pencipta.
Sejatinya, tugas manusia adalah berusaha dan berharap, bukan menentukan takdir.
Tekanan Usia dan Pandangan Sosial
Memasuki usia 30-an sering kali menjadi momen yang terasa “mencekam” bagi sebagian orang. Lingkungan sosial, keluarga, atau teman sebaya kadang tanpa sadar menekan kita dengan pertanyaan seputar jodoh.
Komentar atau cibiran yang muncul kerap mengusik ketenangan hingga membuat sebagian orang enggan berkumpul atau bertemu keluarga.
Saya pun pernah berada di posisi itu. Di usia 29 tahun, saya belum juga dipertemukan dengan jodoh.
Rasanya lelah menghadapi pandangan dan omongan orang. Ada saudara yang usilnya minta ampun, sampai-sampai saya malas bertemu.
Namun, akhirnya waktu juga yang mempertemukan saya dengan pasangan hidup. Menariknya, saudara yang dulu sering mengusik justru kemudian meminta maaf. Dari situ saya belajar, bahwa setiap orang memang punya jalan masing-masing.
Menjemput Jodoh Bukan Sekadar Menunggu
Jalan saya menjemput jodoh tidak mudah. Pernah ikut acara kontak jodoh di radio, pernah juga minta dikenalkan teman, hingga nyaris menyerah.
Namun, saya terus melangkah. Karena saya yakin, tugas kita adalah berusaha — selebihnya, biarlah Tuhan yang menuntun.
Saya pun sadar, banyak orang mengalami perjalanan serupa. Ada yang jodohnya datang lebih lambat, ada yang harus melewati banyak kegagalan. Itu semua bukan hal memalukan. Setiap orang punya garis hidupnya sendiri.
Belajar dari Perjuangan
Ketika kuliah sambil bekerja, saya terbiasa hidup hemat dan mandiri. Setiap rupiah saya hitung untuk membayar biaya kuliah, menabung, hingga mencicil motor pertama.
Semua dilakukan dengan susah payah, termasuk berdagang kecil-kecilan untuk menutup cicilan.
Karena diperoleh dengan perjuangan, motor itu saya rawat sebaik mungkin. Namun suatu malam, motor tersebut raib. Saya sempat terpuruk.
Tetapi dari pengalaman pahit itu saya belajar: sesuatu yang kita perjuangkan dengan susah payah akan kita hargai sepenuh hati.
Pelajaran ini terbawa hingga ke pernikahan. Saya menghargai pasangan yang dulu lama saya tunggu, berusaha menyayangi dan menjaga sebaik-baiknya. Perjalanan panjang menjemput jodoh justru membuat saya semakin menghargai kebersamaan setelahnya.
Menjaga yang Diperjuangkan
Setelah 20 tahun berumah tangga, saya menemukan banyak hikmah. Cinta yang terbangun dari proses panjang terasa lebih kuat.
Kita lebih berhati-hati dalam bertutur kata dan bersikap, agar tak melukai orang yang kita sayangi. Pasangan suami istri yang saling menghargai akan belajar menjaga kesetiaan, hingga waktu yang tak terhingga.
Maka, bagi Anda yang sedang menempuh jalan terjal dalam menjemput jodoh, jangan kecil hati. Kekuatan cinta itu dibentuk sejak proses pencariannya. Dan cinta akan semakin kokoh ketika kebersamaan akhirnya hadir.
Jangan biarkan cibiran orang meruntuhkan semangat Anda. Tetaplah berikhtiar dan bersabar. Percayalah, jodoh datang pada waktu yang tepat — dan ketika ia datang, kita akan menjaganya dengan sepenuh jiwa.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Jangan Kecil Hati yang Ketemu Jodohnya Lama"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang