Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tino Rahardian
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Tino Rahardian adalah seorang yang berprofesi sebagai Jurnalis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Jika Kebijakan Minim Bacaan, Ada Risiko Maksimal ke Depannya

Kompas.com, 30 September 2025, 07:47 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah kualitas kebijakan publik kita berhubungan dengan minat baca para pejabatnya? Sejauh mana rendahnya tradisi membaca ini memengaruhi ekosistem intelektual bangsa?

Di tengah derasnya arus informasi digital, minat baca pejabat publik kembali menjadi sorotan. Fenomena ini bukan sekadar isu sepele, tetapi sinyal betapa rapuhnya ekosistem intelektualitas di ruang kekuasaan.

Padahal, para pendiri bangsa kita dikenal sebagai pembaca tekun yang tumbuh dalam atmosfer debat, diskusi, dan pergulatan ide.

Kini, pejabat publik tidak hanya dituntut untuk rajin membaca buku, tetapi juga memperkuat ekosistem intelektual: siapa teman diskusinya, bagaimana kualitas orang-orang di sekitarnya, hingga sejauh mana mereka mendukung keberadaan perpustakaan publik yang kokoh. Sayangnya, tanda-tanda itu makin memudar.

Alih-alih menunjukkan ketajaman berpikir melalui bacaan, diskusi, atau debat substantif, banyak pejabat justru sibuk memamerkan kemewahan hidup di media sosial.

Fenomena “flexing” dan lemahnya kemampuan berbicara di depan publik yang beberapa waktu lalu viral bukan sekadar hiburan satir, melainkan alarm serius tentang darurat baca di kalangan pejabat negeri ini.

Bangsa Ini Lahir dari Tradisi Intelektual

Sejarah mencatat, Bung Karno membangun gagasannya dari buku-buku Karl Marx, Hegel, hingga Ernest Renan.

Bung Hatta bahkan membawa koper penuh buku dalam pengasingan di Banda Neira. Tan Malaka menulis Madilog dengan penuh dedikasi untuk mengasah cara berpikir kritis bangsa.

Mereka adalah teladan bahwa intelektualitas lahir bukan dari glamoritas, melainkan dari perjumpaan dengan teks, ide, dan debat. Namun situasi itu kini seperti berbalik arah.

Ketika Buku Justru Dicurigai

Pasca beberapa gerakan sosial belakangan ini, publik dikejutkan oleh tindakan sweeping buku di ruang-ruang publik dan komunitas literasi.

Penjemputan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Delpedro Marhaen, yang disertai penyitaan buku karya Pramoedya Ananta Toer, menjadi contoh yang menuai kritik keras.

Dalihnya menjaga stabilitas, tetapi tindakan itu mengingatkan pada praktik represi intelektual masa lalu—saat buku dijadikan musuh, bukan jendela dialog.

Alih-alih membangun ekosistem intelektual, langkah-langkah seperti ini justru memperkuat kesan bahwa negara masih curiga pada warganya sendiri.

Dampak Nyata: Kebijakan Publik yang Miskin Logika

Minimnya tradisi membaca pejabat berdampak langsung pada kualitas kebijakan publik. Revisi UU KPK (2019) dan pengesahan UU Cipta Kerja (2020) sering disebut sebagai contoh kebijakan yang cacat formil maupun materiil.

Hans Kelsen melalui Pure Theory of Law menekankan pentingnya prosedur sahih dalam pembentukan norma hukum.

Namun absennya tradisi intelektual membuat kebijakan lebih sibuk mengejar target ketimbang mengejar kualitas.

Mengutip Antonio Gramsci, politik tanpa intelektualitas hanya akan melahirkan “kebijakan praktis tanpa horizon sejarah”. Pejabat yang malas membaca buku pada akhirnya juga gagal membaca realitas sosial.

Infrastruktur Ada, Tradisi yang Hilang

Data menunjukkan Indonesia memiliki 164.610 perpustakaan yang tersebar di sekolah, perguruan tinggi, lembaga, hingga ruang publik.

Namun laporan UNESCO (2016) pernah mencatat rendahnya tingkat membaca masyarakat Indonesia—hanya 0,001. Artinya, dari 1.000 orang, hanya satu yang serius membaca buku.

Jika masyarakat umum saja sudah berada pada titik kritis, pejabat yang seharusnya menjadi teladan justru semakin meneguhkan krisis itu.

Membangun Kembali Ekosistem Intelektual

Tradisi intelektual tidak lahir dari kesendirian. Membaca buku hanyalah pintu masuk. Diskusi, forum debat, dan keberanian mendengar pendapat berbeda adalah oksigen yang menghidupkan ekosistem intelektual.

Sayangnya, pejabat kita kerap menganggap kritik sebagai ancaman, bukan sebagai vitamin demokrasi. Pejabat yang tidak membaca akan kehilangan empati. Pejabat yang anti-debat akan kehilangan nalar.

Karena itu, negara perlu mendorong budaya intelektual di kalangan elite politiknya: mulai dari kewajiban membaca buku tertentu, menghidupkan forum diskusi lintas bidang, hingga memulihkan tradisi debat terbuka dalam proses legislasi dan kebijakan.

Seperti kata Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed, membaca dunia sama pentingnya dengan membaca kata. Pejabat yang malas membaca buku pada akhirnya juga gagal membaca realitas rakyatnya sendiri.

Dari Kritik Moral ke Agenda Nasional

Darurat baca pejabat bukan sekadar kritik moral, melainkan kritik struktural. Literasi pejabat mesti jadi agenda nasional—syarat mutlak agar kebijakan publik tidak sekadar menjadi alat oligarki.

Publik pun dapat mendorong lahirnya political literacy test bagi pejabat publik, atau setidaknya kewajiban intelektual seperti menulis jurnal refleksi kebijakan, menghadiri forum debat akademik, dan mengakui pentingnya kritik.

Jika tidak, kita akan terus berada dalam lingkaran setan: pejabat miskin bacaan, kebijakan miskin substansi, rakyat miskin kesejahteraan.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Minat Baca Pejabat, Kualitas Kebijakan, dan Rapuhnya Ekosistem Intelektualitas"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau