Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Billy Steven Kaitjily
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Billy Steven Kaitjily adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai

Kompas.com, 18 Januari 2026, 12:30 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bagaimana seekor ikan yang dikenal sebagai “pembersih” akuarium justru berubah menjadi ancaman serius bagi kelestarian sungai-sungai di Jakarta?

Di kalangan penggemar akuarium, ikan sapu-sapu kerap dijuluki sebagai “ikan pembersih”. Kemampuannya mengikis lumut dan kotoran di dinding kaca menjadikannya penghuni favorit akuarium rumahan.

Namun, peran yang terlihat bermanfaat ini menyimpan sisi lain yang jauh lebih problematis ketika ikan tersebut lepas ke alam bebas.

Di perairan Jakarta, khususnya sungai-sungai besar seperti Kali Ciliwung, ikan sapu-sapu kini berkembang menjadi spesies invasif yang mengancam keseimbangan ekosistem.

Secara biologis, ikan yang dikenal dengan nama lele pengisap atau Hypostomus plecostomus ini bukanlah spesies asli Indonesia. Habitat alaminya berada di sungai-sungai Amerika Selatan, seperti Brasil, Guyana, serta Trinidad dan Tobago.

Masuknya ikan sapu-sapu ke perairan Indonesia diduga kuat berasal dari pelepasan liar oleh pemilik akuarium yang tidak lagi mampu atau mau memeliharanya.

Nah, dari kolam hias, ikan ini kemudian menyebar ke sungai-sungai, dan menemukan lingkungan yang justru mendukung kelangsungan hidupnya.

Salah satu alasan utama mengapa ikan sapu-sapu begitu sulit dikendalikan adalah kemampuan adaptasinya yang luar biasa.

Mengutip laporan Mongabay, ikan ini dapat bertahan hidup hingga sekitar 30 jam di luar air, selama masih memiliki cukup oksigen di dalam tubuhnya. Bahkan, ia mampu bertahan dalam kondisi ekstrem, seperti tertimbun lumpur kering selama berbulan-bulan.

Pada 2019, sebuah video sempat viral di media sosial yang memperlihatkan seekor ikan yang tampak “hidup kembali” hanya setelah terkena percikan air.

Video tersebut bukan rekayasa. Ikan yang dimaksud adalah ikan sapu-sapu. Tubuhnya yang keras, dilapisi sisik tebal dan tajam, membuatnya tahan terhadap predator alami sekaligus kondisi lingkungan yang buruk.

Sebagai hewan omnivora, ikan sapu-sapu memakan hampir segala hal—mulai dari alga, tumbuhan air, invertebrata, hingga ikan-ikan kecil. Sifat inilah yang membuatnya mudah beradaptasi dan berkembang pesat di perairan tercemar, termasuk sungai-sungai di Jakarta.

Invasi di Kali Ciliwung

Keberadaan ikan sapu-sapu kini semakin mudah ditemui di Kali Ciliwung. Ikan dengan kepala menyerupai lele dan tubuh bersisik hitam itu kerap terlihat berenang di permukaan air. Salah satu tanda keberadaannya adalah munculnya gelembung-gelembung udara di tengah sungai.

Ironisnya, kondisi air Kali Ciliwung yang kehitaman dan dipenuhi sampah justru menjadi habitat yang nyaman bagi ikan sapu-sapu.

Sungai yang berat tercemar tersebut menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi spesies ini. Ketika ikan-ikan lokal kesulitan bertahan, ikan sapu-sapu justru tumbuh tanpa hambatan.

Populasinya yang meningkat tanpa kendali menimbulkan kekhawatiran serius. Tanpa predator alami dan tanpa upaya pengendalian yang konsisten, ikan sapu-sapu berpotensi mendominasi perairan dan menyingkirkan spesies lokal yang telah lama menjadi bagian dari ekosistem sungai Jakarta.

Dampak Ekologis dan Ekonomi

Dampak kehadiran ikan sapu-sapu tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi.

Pertama, terjadi persaingan sumber daya dengan ikan-ikan lokal. Dengan nafsu makan yang tinggi dan kemampuan adaptasi yang kuat, ikan sapu-sapu menguasai sumber makanan, sehingga populasi ikan endemik semakin terdesak.

Kedua, aktivitas ikan ini turut meningkatkan kekeruhan air dan menurunkan keanekaragaman hayati. Jika situasi ini dibiarkan, sungai-sungai di Jakarta berisiko didominasi oleh satu spesies saja, sementara ikan-ikan lokal yang telah hidup selama puluhan tahun terancam punah.

Dari sisi ekonomi, keberadaan ikan sapu-sapu juga merugikan nelayan. Sisiknya yang keras dan tajam kerap merusak jaring serta alat tangkap, sehingga menambah biaya operasional. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sumber daya perairan, kondisi ini menjadi beban tambahan.

Meski ikan sapu-sapu sebenarnya dapat dikonsumsi jika berasal dari hasil budidaya yang terkontrol, ikan yang hidup di sungai-sungai Jakarta sangat tidak disarankan untuk dimakan.

Sebagai pemakan segala, ikan ini berpotensi menyerap logam berat dan polutan berbahaya dari lingkungan tercemar, yang tentu berisiko bagi kesehatan manusia.

Upaya Pengendalian yang Diperlukan

Mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah penangkapan secara massal melalui kegiatan penjaringan. Untuk mendorong partisipasi masyarakat, khususnya nelayan dan komunitas lingkungan, program ini dapat disertai dengan insentif yang memadai.

Langkah berikutnya adalah restorasi ekosistem perairan. Upaya ini mencakup pelepasan kembali ikan-ikan endemik ke habitatnya, disertai perbaikan kualitas air sungai. Tanpa perbaikan lingkungan, pengendalian spesies invasif tidak akan berjalan efektif.

Penegakan hukum terhadap pembuangan limbah dan sampah ke sungai juga menjadi kunci. Sungai yang sehat akan memperkuat daya dukung ekosistem dan memberi kesempatan bagi spesies lokal untuk kembali bertahan.

***

Ikan sapu-sapu telah menjadi ancaman nyata bagi ekosistem perairan Jakarta. Kehadirannya tidak hanya mengganggu keseimbangan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat yang bergantung pada sungai.

Penanganan yang serius dan terkoordinasi menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, bersama dinas terkait, komunitas nelayan, pegiat lingkungan, dan masyarakat luas, perlu bergerak bersama sebelum kerusakan menjadi semakin sulit dipulihkan.

Menjaga keseimbangan ekosistem sungai bukan semata urusan lingkungan, tetapi juga tanggung jawab bersama demi keberlanjutan hidup kota dan generasi mendatang.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ikan Sapu-Sapu, Ancaman Baru Ekosistem Perairan Jakarta"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau