
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana seekor ikan yang dikenal sebagai “pembersih” akuarium justru berubah menjadi ancaman serius bagi kelestarian sungai-sungai di Jakarta?
Di kalangan penggemar akuarium, ikan sapu-sapu kerap dijuluki sebagai “ikan pembersih”. Kemampuannya mengikis lumut dan kotoran di dinding kaca menjadikannya penghuni favorit akuarium rumahan.
Namun, peran yang terlihat bermanfaat ini menyimpan sisi lain yang jauh lebih problematis ketika ikan tersebut lepas ke alam bebas.
Di perairan Jakarta, khususnya sungai-sungai besar seperti Kali Ciliwung, ikan sapu-sapu kini berkembang menjadi spesies invasif yang mengancam keseimbangan ekosistem.
Secara biologis, ikan yang dikenal dengan nama lele pengisap atau Hypostomus plecostomus ini bukanlah spesies asli Indonesia. Habitat alaminya berada di sungai-sungai Amerika Selatan, seperti Brasil, Guyana, serta Trinidad dan Tobago.
Masuknya ikan sapu-sapu ke perairan Indonesia diduga kuat berasal dari pelepasan liar oleh pemilik akuarium yang tidak lagi mampu atau mau memeliharanya.
Nah, dari kolam hias, ikan ini kemudian menyebar ke sungai-sungai, dan menemukan lingkungan yang justru mendukung kelangsungan hidupnya.
Salah satu alasan utama mengapa ikan sapu-sapu begitu sulit dikendalikan adalah kemampuan adaptasinya yang luar biasa.
Mengutip laporan Mongabay, ikan ini dapat bertahan hidup hingga sekitar 30 jam di luar air, selama masih memiliki cukup oksigen di dalam tubuhnya. Bahkan, ia mampu bertahan dalam kondisi ekstrem, seperti tertimbun lumpur kering selama berbulan-bulan.
Pada 2019, sebuah video sempat viral di media sosial yang memperlihatkan seekor ikan yang tampak “hidup kembali” hanya setelah terkena percikan air.
Video tersebut bukan rekayasa. Ikan yang dimaksud adalah ikan sapu-sapu. Tubuhnya yang keras, dilapisi sisik tebal dan tajam, membuatnya tahan terhadap predator alami sekaligus kondisi lingkungan yang buruk.
Sebagai hewan omnivora, ikan sapu-sapu memakan hampir segala hal—mulai dari alga, tumbuhan air, invertebrata, hingga ikan-ikan kecil. Sifat inilah yang membuatnya mudah beradaptasi dan berkembang pesat di perairan tercemar, termasuk sungai-sungai di Jakarta.
Invasi di Kali Ciliwung
Keberadaan ikan sapu-sapu kini semakin mudah ditemui di Kali Ciliwung. Ikan dengan kepala menyerupai lele dan tubuh bersisik hitam itu kerap terlihat berenang di permukaan air. Salah satu tanda keberadaannya adalah munculnya gelembung-gelembung udara di tengah sungai.
Ironisnya, kondisi air Kali Ciliwung yang kehitaman dan dipenuhi sampah justru menjadi habitat yang nyaman bagi ikan sapu-sapu.
Sungai yang berat tercemar tersebut menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi spesies ini. Ketika ikan-ikan lokal kesulitan bertahan, ikan sapu-sapu justru tumbuh tanpa hambatan.
Populasinya yang meningkat tanpa kendali menimbulkan kekhawatiran serius. Tanpa predator alami dan tanpa upaya pengendalian yang konsisten, ikan sapu-sapu berpotensi mendominasi perairan dan menyingkirkan spesies lokal yang telah lama menjadi bagian dari ekosistem sungai Jakarta.
Dampak Ekologis dan Ekonomi
Dampak kehadiran ikan sapu-sapu tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Pertama, terjadi persaingan sumber daya dengan ikan-ikan lokal. Dengan nafsu makan yang tinggi dan kemampuan adaptasi yang kuat, ikan sapu-sapu menguasai sumber makanan, sehingga populasi ikan endemik semakin terdesak.
Kedua, aktivitas ikan ini turut meningkatkan kekeruhan air dan menurunkan keanekaragaman hayati. Jika situasi ini dibiarkan, sungai-sungai di Jakarta berisiko didominasi oleh satu spesies saja, sementara ikan-ikan lokal yang telah hidup selama puluhan tahun terancam punah.
Dari sisi ekonomi, keberadaan ikan sapu-sapu juga merugikan nelayan. Sisiknya yang keras dan tajam kerap merusak jaring serta alat tangkap, sehingga menambah biaya operasional. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sumber daya perairan, kondisi ini menjadi beban tambahan.
Meski ikan sapu-sapu sebenarnya dapat dikonsumsi jika berasal dari hasil budidaya yang terkontrol, ikan yang hidup di sungai-sungai Jakarta sangat tidak disarankan untuk dimakan.
Sebagai pemakan segala, ikan ini berpotensi menyerap logam berat dan polutan berbahaya dari lingkungan tercemar, yang tentu berisiko bagi kesehatan manusia.
Upaya Pengendalian yang Diperlukan
Mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah penangkapan secara massal melalui kegiatan penjaringan. Untuk mendorong partisipasi masyarakat, khususnya nelayan dan komunitas lingkungan, program ini dapat disertai dengan insentif yang memadai.
Langkah berikutnya adalah restorasi ekosistem perairan. Upaya ini mencakup pelepasan kembali ikan-ikan endemik ke habitatnya, disertai perbaikan kualitas air sungai. Tanpa perbaikan lingkungan, pengendalian spesies invasif tidak akan berjalan efektif.
Penegakan hukum terhadap pembuangan limbah dan sampah ke sungai juga menjadi kunci. Sungai yang sehat akan memperkuat daya dukung ekosistem dan memberi kesempatan bagi spesies lokal untuk kembali bertahan.
***
Ikan sapu-sapu telah menjadi ancaman nyata bagi ekosistem perairan Jakarta. Kehadirannya tidak hanya mengganggu keseimbangan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat yang bergantung pada sungai.
Penanganan yang serius dan terkoordinasi menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, bersama dinas terkait, komunitas nelayan, pegiat lingkungan, dan masyarakat luas, perlu bergerak bersama sebelum kerusakan menjadi semakin sulit dipulihkan.
Menjaga keseimbangan ekosistem sungai bukan semata urusan lingkungan, tetapi juga tanggung jawab bersama demi keberlanjutan hidup kota dan generasi mendatang.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ikan Sapu-Sapu, Ancaman Baru Ekosistem Perairan Jakarta"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang