Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Andi Setyo Pambudi
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Andi Setyo Pambudi adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama

Kompas.com, 20 Januari 2026, 14:49 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bagaimana rasanya berdiri di atas jejak lava yang pernah mengalir panas dari perut gunung, lalu menyadari bahwa seluruh kehidupan di sekitarnya tumbuh dari peristiwa alam yang dahsyat itu?

Di Ternate, ada sebuah tempat dengan nama yang terdengar sederhana, namun menyimpan daya tarik yang kuat: Batu Angus. Dari kejauhan, kawasan ini tampak seperti hamparan tanah gelap yang membentang luas.

Namun ketika berdiri tepat di hadapannya, saya merasa seolah sedang membuka halaman awal sebuah kisah panjang tentang gunung api, kobaran lava, dan perjalanan waktu.

Batu Angus terletak di Kelurahan Kulaba, tepat di kaki Gunung Gamalama. Kawasan ini merupakan lapisan batu vulkanik yang terbentuk dari aliran lava panas Gamalama pada masa lampau.

Warna hitam pekat mendominasi pemandangan, dengan bentuk batu yang tidak beraturan dan tersebar luas, seakan memperlihatkan jalur lava yang dahulu mengalir dengan kekuatan penuh.

Kunjungan saya ke Batu Angus bermula dari sebuah perjalanan dinas. Setelah menyelesaikan agenda pekerjaan bersama beberapa rekan, masih tersisa waktu sebelum kegiatan berikutnya dimulai.

Kesempatan itu kami manfaatkan untuk singgah sejenak, melihat langsung bentukan alam yang selama ini hanya saya kenal lewat cerita dan foto.

Akses menuju Batu Angus relatif mudah. Dari pusat kota Ternate, kami menyusuri jalan yang perlahan menanjak menuju kaki Gamalama.

Rumah-rumah penduduk berjajar rapi di sepanjang jalan, sementara udara terasa semakin sejuk seiring bertambahnya ketinggian.

Sesampainya di area parkir, hamparan Batu Angus langsung menyambut kami—padang batu hitam yang tampak seperti lautan yang membeku.

Saat mulai melangkah masuk ke kawasan ini, setiap pijakan terasa berbeda. Permukaan batu keras dan kasar, rapuh di beberapa bagian, dengan tekstur yang beragam. Ada batu yang tajam, ada pula yang halus dan mengilap.

Semuanya merupakan sisa aliran lava yang pernah mengalir dengan suhu ekstrem, melahap hutan dan tumbuhan di jalurnya, sebelum akhirnya membeku menjadi batu.

Nama “Batu Angus” terasa sangat tepat. Seluruh area tampak seperti tanah yang pernah dilalap api. Pohon besar hampir tidak dijumpai; hanya semak-semak kecil yang tumbuh bertahan di sela bebatuan.

Pemandangan ini membuat saya sejenak lupa bahwa hamparan sunyi tersebut lahir dari peristiwa alam yang pada masanya begitu menakutkan.

Seorang pemandu lokal kemudian menjelaskan bahwa kawasan ini merupakan peninggalan letusan Gunung Gamalama ratusan tahun silam.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Kata Netizen
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Kata Netizen
Mantan Menikah, Saat Undangan Pernikahan Membuka Laci Kenangan
Mantan Menikah, Saat Undangan Pernikahan Membuka Laci Kenangan
Kata Netizen
Bel Sekolah Otomatis dan Pelajaran Berharga dari Guru Berani Mencoba
Bel Sekolah Otomatis dan Pelajaran Berharga dari Guru Berani Mencoba
Kata Netizen
Perpustakaan Keliling dan Upaya Menghidupkan Budaya Baca di Sekolah
Perpustakaan Keliling dan Upaya Menghidupkan Budaya Baca di Sekolah
Kata Netizen
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Kata Netizen
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Kata Netizen
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Kata Netizen
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kata Netizen
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Kata Netizen
Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan
Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan
Kata Netizen
Lebih dari Soal Alat Tulis dan Rapuhnya Jaring Pengaman Sosial
Lebih dari Soal Alat Tulis dan Rapuhnya Jaring Pengaman Sosial
Kata Netizen
Ketika Pertanyaan Anak Menjadi Cermin Cara Dewasa Berpikir
Ketika Pertanyaan Anak Menjadi Cermin Cara Dewasa Berpikir
Kata Netizen
Alasan-alasan Kita Jarang Bertamu ke Rumah Tetangga
Alasan-alasan Kita Jarang Bertamu ke Rumah Tetangga
Kata Netizen
Satu Batik, Banyak Fungsi, dan Busana Lokal yang Tak Pernah Keliru
Satu Batik, Banyak Fungsi, dan Busana Lokal yang Tak Pernah Keliru
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau