
Ketika hasil cek desil membuat kita mengetahui posisi ekonomi keluarga, apakah yang perlu dilakukan setelahnya adalah merasa lebih mampu daripada orang lain, atau justru semakin bersyukur dan belajar mengelola apa yang kita miliki dengan lebih bijak?
Belakangan ini, istilah "orang have" dan "orang haven't" cukup ramai diperbincangkan. Saya sendiri awalnya mengenal istilah tersebut dalam suasana bercanda.
Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan adik sepupu. Kami jajan sekaligus mengerjakan sesuatu di sebuah kafe. Sambil bercanda, kami mengatakan bahwa kami termasuk orang have karena masih bisa nongkrong di kafe.
Obrolan sederhana itu kemudian berkembang ke pembicaraan lain. Salah satunya tentang bagaimana mengetahui kondisi ekonomi seseorang melalui cek desil.
Karena penasaran, saya pun mencoba melakukan pengecekan desil dengan memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) melalui situs resmi Kementerian Sosial untuk mengetahui status dalam Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Hasilnya cukup membuat saya tersenyum. Saya tidak termasuk penerima bantuan sosial yang menjadi sasaran berdasarkan hasil pengecekan tersebut, dengan rentang angka 6–10.
Cek Desil dan Rasa Syukur yang Bertambah
Jujur, saya justru merasa senang setelah mengetahui hasil cek desil tersebut. Bukan karena kemudian merasa lebih kaya daripada orang lain, melainkan karena hasil itu seperti mengingatkan kembali pada prinsip hidup yang sejak kecil ditanamkan oleh orang tua saya: jangan membiasakan diri merasa tidak punya.
Kami dididik untuk merasa cukup dan banyak bersyukur. Kalaupun sedang tidak punya uang atau belum mampu membeli sesuatu yang diinginkan, bukan berarti hidup kami kekurangan. Keinginan bisa ditunda. Kita bisa bersabar, tetap berusaha, berdoa, dan mencari jalan untuk mendapatkannya ketika memang sudah mampu.
Bagi saya, cara berpikir seperti ini ternyata sangat berpengaruh dalam menjalani kehidupan. Memotivasi diri dan meyakinkan diri bahwa kita adalah orang yang berkecukupan, dalam arti tidak mesti selalu bergantung kepada bantuan orang lain, justru mendorong kita untuk terus berusaha.
Kita juga menjadi tidak mudah mengeluh, terutama dalam persoalan keuangan. Misalnya, ketika melihat orang lain bisa pergi ke tempat bagus, membeli barang tertentu, atau nongkrong di kafe, bukan berarti kita harus melakukan hal yang sama.
Setiap orang memiliki kondisi dan prioritas yang berbeda. Karena itu, menurut saya, yang paling penting adalah menggunakan keuangan yang ada sesuai kemampuan.
Tidak perlu terlalu sibuk membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.
Orang Have Belum Tentu Keuangannya Sehat
Setelah memikirkan istilah orang have dan orang haven't, saya justru merasa bahwa persoalannya bukan semata-mata tentang banyak atau sedikitnya uang.
Seseorang yang memiliki banyak uang pun belum tentu memiliki kondisi keuangan yang sehat. Kalau pengeluaran selalu lebih besar daripada pendapatan karena terlalu banyak keinginan, sebanyak apa pun penghasilan yang dimiliki rasanya tidak akan pernah cukup.
Sebaliknya, orang dengan penghasilan sederhana bisa saja merasa cukup karena mampu mengatur kebutuhan, menahan keinginan, dan menjalani kehidupan sesuai dengan kemampuan.
Saya dan suami bahkan sering bercanda bahwa kehidupan kami itu pas-pasan: pas butuh, pas ada; pas ingin, pas ada uangnya.