Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Andi Setyo Pambudi
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Andi Setyo Pambudi adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan

Kompas.com, 8 Februari 2026, 17:05 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bagaimana wajah savana Taman Nasional Baluran ketika musim hujan tiba? Apa yang bisa kita pelajari dari lanskap hijau yang kerap luput dari bayangan “Afrika van Java”?

Rasa ingin tahu itu tumbuh perlahan. Bukan karena rencana liburan, melainkan dari imajinasi lama tentang Afrika tentang hamparan savana luas, satwa liar, dan lanskap terbuka yang selama ini hanya saya jumpai lewat buku, laporan konservasi, atau film dokumenter.

Sebagai seorang perencana pembangunan, saya terbiasa memandang alam melalui data, peta, dan kajian kebijakan.

Namun kunjungan kerja ke Taman Nasional Baluran di musim hujan, bersama rekan-rekan sejawat, menghadirkan pengalaman yang jauh lebih personal. Di sanalah rasa penasaran itu akhirnya menemukan wujudnya.

Begitu memasuki kawasan Baluran, kesan pertama langsung terasa kuat. Lanskap berubah drastis: dari hijau rapat menjadi savana terbuka yang membentang luas.

Pohon-pohon berdiri jarang, rerumputan menjalar sejauh mata memandang, dan Gunung Baluran berdiri kokoh di kejauhan sebagai latar alami.

Julukan “Africa van Java” mendadak terasa relevan bukan sekadar slogan wisata, melainkan gambaran jujur tentang karakter ekosistem yang langka di Pulau Jawa.

Taman Nasional Baluran terletak di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, dengan luas sekitar 25.000 hektare. Dari diskusi panjang dengan para pengelola taman nasional, saya mulai memahami betapa kompleks sekaligus berharganya kawasan ini.

Baluran melindungi lebih dari 444 jenis tumbuhan, termasuk spesies langka seperti wisoro bukol yang menjadi indikator penting ekosistem savana monsun. Kawasan ini juga menjadi habitat alami sedikitnya 26 jenis mamalia, mulai dari banteng jawa, kijang, rusa, hingga macan tutul yang kini semakin jarang terlihat.

Keistimewaan Baluran tidak berhenti pada savananya. Dalam satu bentang kawasan, berbagai tipe ekosistem bertemu dan saling melengkapi.

Savana Bekol yang kering dan terbuka berangsur beralih ke hutan monsun, lalu menyatu dengan kawasan mangrove dan pantai seperti Pantai Bama. Perpaduan ini menciptakan lanskap berlapis, seolah mengajak pengunjung membaca cerita alam dari satu bab ke bab berikutnya dalam satu perjalanan.

Saat musim hujan, Savana Bekol menampilkan wajah yang berbeda: lebih hijau, lebih segar, dan jauh dari kesan gersang yang selama ini melekat.

Nilai penting Baluran juga diakui secara global. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai bagian dari Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO.

Bagi saya, status ini bukan sekadar pengakuan internasional, melainkan penegasan bahwa Baluran memegang peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang lebih luas. Konsekuensinya jelas: pengelolaan kawasan ini menuntut visi jangka panjang, bukan pendekatan sesaat.

Pengamatan lapangan menunjukkan banyak keunggulan Baluran. Keunikan savana menjadikannya kawasan dengan nilai konservasi yang sangat tinggi di tingkat nasional. Keanekaragaman hayati yang relatif terjaga menjadikannya ruang belajar terbuka bagi peneliti, pelajar, dan masyarakat umum.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau