
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana wajah savana Taman Nasional Baluran ketika musim hujan tiba? Apa yang bisa kita pelajari dari lanskap hijau yang kerap luput dari bayangan “Afrika van Java”?
Rasa ingin tahu itu tumbuh perlahan. Bukan karena rencana liburan, melainkan dari imajinasi lama tentang Afrika tentang hamparan savana luas, satwa liar, dan lanskap terbuka yang selama ini hanya saya jumpai lewat buku, laporan konservasi, atau film dokumenter.
Sebagai seorang perencana pembangunan, saya terbiasa memandang alam melalui data, peta, dan kajian kebijakan.
Namun kunjungan kerja ke Taman Nasional Baluran di musim hujan, bersama rekan-rekan sejawat, menghadirkan pengalaman yang jauh lebih personal. Di sanalah rasa penasaran itu akhirnya menemukan wujudnya.
Begitu memasuki kawasan Baluran, kesan pertama langsung terasa kuat. Lanskap berubah drastis: dari hijau rapat menjadi savana terbuka yang membentang luas.
Pohon-pohon berdiri jarang, rerumputan menjalar sejauh mata memandang, dan Gunung Baluran berdiri kokoh di kejauhan sebagai latar alami.
Julukan “Africa van Java” mendadak terasa relevan bukan sekadar slogan wisata, melainkan gambaran jujur tentang karakter ekosistem yang langka di Pulau Jawa.
Taman Nasional Baluran terletak di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, dengan luas sekitar 25.000 hektare. Dari diskusi panjang dengan para pengelola taman nasional, saya mulai memahami betapa kompleks sekaligus berharganya kawasan ini.
Baluran melindungi lebih dari 444 jenis tumbuhan, termasuk spesies langka seperti wisoro bukol yang menjadi indikator penting ekosistem savana monsun. Kawasan ini juga menjadi habitat alami sedikitnya 26 jenis mamalia, mulai dari banteng jawa, kijang, rusa, hingga macan tutul yang kini semakin jarang terlihat.
Keistimewaan Baluran tidak berhenti pada savananya. Dalam satu bentang kawasan, berbagai tipe ekosistem bertemu dan saling melengkapi.
Savana Bekol yang kering dan terbuka berangsur beralih ke hutan monsun, lalu menyatu dengan kawasan mangrove dan pantai seperti Pantai Bama. Perpaduan ini menciptakan lanskap berlapis, seolah mengajak pengunjung membaca cerita alam dari satu bab ke bab berikutnya dalam satu perjalanan.
Saat musim hujan, Savana Bekol menampilkan wajah yang berbeda: lebih hijau, lebih segar, dan jauh dari kesan gersang yang selama ini melekat.
Nilai penting Baluran juga diakui secara global. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai bagian dari Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO.
Bagi saya, status ini bukan sekadar pengakuan internasional, melainkan penegasan bahwa Baluran memegang peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang lebih luas. Konsekuensinya jelas: pengelolaan kawasan ini menuntut visi jangka panjang, bukan pendekatan sesaat.
Pengamatan lapangan menunjukkan banyak keunggulan Baluran. Keunikan savana menjadikannya kawasan dengan nilai konservasi yang sangat tinggi di tingkat nasional. Keanekaragaman hayati yang relatif terjaga menjadikannya ruang belajar terbuka bagi peneliti, pelajar, dan masyarakat umum.