Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompasiana News
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Kompasiana News adalah seorang yang berprofesi sebagai Editor. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran

Kompas.com, 9 Februari 2026, 21:49 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Datang ke pernikahan mantan kerap dianggap sebagai tolok ukur kedewasaan emosional. Ini merupakan usulan topik pilihan dari Kompasianer Nurul Rahmawati: Diundang Kawinan Mantan, Datang atau Tidak?

Hal yang menonjol dari konten-konten yang dibuat Kompasienr adalah keberaniannya menantang tekanan sosial. Ekspektasi untuk "tampak kuat", "sudah move on", atau "bersikap dewasa" seringkali berbenturan dengan kebutuhan batin yang lebih sunyi.

Topik Pilihan ini pada akhirnya bukan tentang mantan, melainkan tentang relasi seseorang dengan masa lalunya sendiri.

Kami coba rangkumkan untukmu bagaimana sudut pandang Kompasianer terkait topik pilihan ini.

1. Datang ke Pernikahan Mantan? Happy Banget, Foto Bareng Malahan!

Kompasianer Riana Dewie menceritakan pengalamannya ketika datang ke pernikahan mantan tanpa drama, justru dengan perasaan bahagia dan penuh syukur.

Apalagi datang ke pernikahan mantan dipandang sebagai simbol bahwa hidup terus berjalan dan setiap orang berhak menemukan kebahagiaannya masing-masing.

Kisah personal Kompasianer Riana Dewie dengan mantan semasa SMA menjadi contoh bagaimana relasi bisa berkembang dari cinta remaja menjadi persahabatan dewasa.

"Punya mantan yang baik, pisah dengan baik, dan bisa berkomunikasi jangka panjang dengan sehat itu ternyata anugerah," tulisnya. (Baca selengkapnya)

2. Datang ke Pernikahan Mantan, Apakah Bukti Move On?

Konten yang dibuat Kompasianer Lisa Puspa Karmila membuka pembahasan dari momen sederhana tetapi sarat makna: menerima undangan pernikahan mantan. Reaksi yang muncul kerap bukan kegembiraan, melainkan kebingungan dan pergulatan batin.

Undangan tersebut memaksa seseorang menimbang antara hadir sebagai simbol kedewasaan dan bukti move-on atau menghindar demi menjaga ketenangan diri.

Move on sering disalahartikan sebagai kemampuan untuk hadir di acara-acara yang melibatkan masa lalu. Padahal, tulis Kompasianer Lisa Puspa Karmila berdamai tidak selalu perlu panggung dan saksi. Ia bisa terjadi secara sunyi, pelan-pelan, dan sangat personal.

Respons terhadap undangan mantan menjadi cermin kejujuran batin: sejauh mana seseorang mengenal dirinya dan berani memilih yang paling sehat bagi kondisi emosionalnya. (Baca selengkapnya)

3. Perlukah Mengundang Mantan Datang ke Kawinan Kita?

Sebagai pengampu Topik Pilihan ini, Kompasianer Nurul Rahmawati membuat konten yang sedikit berbeda: yakni jika kita menikah, apakah akan mengundang mantan?

Saat memutuskan mengundang mantan ke pernikahan, undangan itu bukan tanpa dilema, apalagi hubungan mereka berakhir bukan karena hilang rasa, melainkan faktor eksternal seperti restu keluarga.

Kontennya menyoroti keberanian dan kompleksitas emosional di balik keputusan mengundang mantan. Kehadiran mantan di resepsi, dengan senyum yang ditahan dan sikap penuh hormat, menjadi potret kedewasaan emosional yang tidak mudah dijalani.

Pada akhirnya, Kompasianer Nurul Rahmawati memaknai pengalaman itu sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membentuk dirinya hari ini. Mantan tidak selalu harus menjadi luka, melainkan bisa menjadi fase yang ditutup dengan cara baik. (Baca selengkapnya)

***

Kompasianer juga bisa mengusulkan ide-ide menarik untuk Topik Pilihan dengan mengisi form ini.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Datangi Pernikahan Mantan, Luka yang Sembuh dengan Caranya Sendiri"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau