Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Maria Tanjung Sari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Maria Tanjung Sari adalah seorang yang berprofesi sebagai Full Time Blogger. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak

Kompas.com, 22 Februari 2026, 10:56 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah selalu mengiyakan permintaan orang lain benar-benar membuat kita menjadi pribadi yang baik, atau justru perlahan mengorbankan diri sendiri? Pernah berada di situasi seperti ini?

Diajak teman nongkrong di kafe mahal, kita tetap ikut karena merasa tidak enak menolak, padahal kondisi keuangan sedang pas-pasan.

Ada teman yang sering meminjam uang, dan kita selalu memberi karena takut dicap pelit, meski akhirnya kesulitan menagih ketika sedang membutuhkan.

Di kantor, diminta membantu tugas rekan kerja, kita mengiyakan karena merasa sungkan—apalagi sebagai anak baru hingga akhirnya pekerjaan tambahan itu seolah menjadi kewajiban rutin.

Situasi-situasi tersebut bisa menjadi gambaran seseorang yang dikenal sebagai people pleaser.

Secara sederhana, people pleaser adalah perilaku menyenangkan orang lain secara berlebihan, sering kali dengan mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Istilah ini merujuk pada individu yang sulit berkata tidak, terutama karena takut mengecewakan, ditolak, atau dinilai negatif.

Ketika Tidak Enak Menjadi Kebiasaan

Orang yang cenderung menjadi people pleaser biasanya mengalami beberapa pola berikut:

1. Sulit menolak permintaan orang lain, meskipun sedang kesulitan.

Misalnya, ketika kondisi keuangan sedang terbatas, tetap meminjamkan uang karena khawatir dianggap tidak peduli. Atau ketika beban kerja sudah menumpuk, tetap membantu rekan kerja hingga harus lembur, walau bantuan tersebut tak selalu dihargai.

Rasa kecewa mungkin muncul. Namun ketika permintaan serupa datang lagi, kita tetap mengiyakan. Siklus ini bisa berlangsung terus-menerus hingga menimbulkan kelelahan mental.

2. Menghindari konflik dengan memilih diam atau selalu setuju.

Tidak semua orang yang enggan berdebat adalah people pleaser. Ada yang memang memilih menghindari perdebatan karena tidak ingin memperpanjang masalah.

Namun bagi people pleaser, kecenderungan untuk selalu setuju sering kali didorong oleh ketakutan terhadap konflik. Mereka menahan pendapat demi menjaga suasana tetap nyaman.

Sekilas, sikap ini terlihat baik. Namun jika terus dilakukan, seseorang bisa kehilangan keberanian untuk menyampaikan pendapatnya sendiri.

Niat Baik yang Bisa Berbalik Arah

Pada dasarnya, keinginan untuk menyenangkan orang lain berangkat dari niat baik. Kita ingin membantu, ingin diterima, ingin menjaga hubungan.

Namun ketika dilakukan secara berlebihan, sikap ini dapat membuka celah untuk dimanfaatkan.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa orang yang terlalu tidak enakan sering kali bertemu dengan orang yang tidak tahu diri.

Bukan berarti semua orang akan memanfaatkan kebaikan kita. Namun jika seseorang mengetahui bahwa kita sulit menolak, ada kemungkinan batasan kita akan terus diuji.

Jika dibiarkan, yang dirugikan adalah diri sendiri baik secara finansial, emosional, maupun profesional.

Belajar Menjadi Tegas Tanpa Kehilangan Empati

Menjadi tegas bukan berarti berubah menjadi pribadi yang cuek atau egois. Justru, kemampuan menetapkan batasan adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Berikut beberapa langkah yang bisa mulai diterapkan:

1. Berani berkata tidak.

Menolak bukanlah tindakan yang salah. Jika kondisi keuangan tidak memungkinkan, menolak permintaan pinjaman adalah hal wajar.

Jika pekerjaan sudah menumpuk, menolak tambahan tugas juga sah-sah saja. Kuncinya adalah menyampaikan dengan sopan dan jelas.

2. Menyadari bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang.

Seberapa pun besar usaha kita, selalu ada kemungkinan seseorang merasa kurang puas.

Berbuat baik tetap penting, tetapi perlu disertai kesadaran bahwa kebutuhan diri sendiri juga layak diperhatikan.

3. Menetapkan batasan yang sehat.

Batasan bukanlah tembok yang memutus hubungan, melainkan pagar yang menjaga keseimbangan. Dengan batasan yang jelas, orang lain belajar menghormati waktu, tenaga, dan sumber daya kita.

Menjadi Baik Tanpa Mengorbankan Diri

Kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Membantu dan berbuat baik adalah nilai yang patut dipertahankan. Namun kebaikan seharusnya tidak membuat kita merasa tertekan, lelah, atau dirugikan.

Belajar berkata tidak dengan cara yang santun adalah bagian dari menjaga kesehatan mental. Karena pada akhirnya, membantu orang lain akan jauh lebih bermakna ketika dilakukan tanpa paksaan dan tanpa mengorbankan diri sendiri.

Menjadi pribadi yang peduli itu penting. Namun menjaga diri agar tetap utuh juga tidak kalah penting.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Jadi People Pleaser Itu Ternyata Serba Salah"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau