
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Sudahkah kita benar-benar hadir untuk anak, atau selama ini kita hanya berada di dekatnya? Apakah yang mereka butuhkan adalah lamanya kebersamaan atau hangatnya perhatian yang utuh?
Kita mungkin merasa sudah bersama anak seharian. Rumah tidak pernah kita tinggalkan, kita duduk di dekatnya, mendengar suaranya, melihat ia bermain. Namun pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah ia benar-benar merasa ditemani?
Tak jarang kita berada di ruangan yang sama, tetapi pikiran kita sibuk ke berbagai arah. Tangan memegang ponsel, mata menatap layar, sementara ia terus bercerita dengan wajah yang berharap ditatap balik. Kita merasa sudah hadir.
Padahal bagi anak, hadir bukan sekadar berada di sampingnya. Dan bisa jadi, tanpa kita sadari, yang ia cari bukan lamanya kebersamaan, melainkan hangatnya.
Sering kali kita merasa telah melakukan bagian kita. Kita di rumah seharian, ikut duduk saat anak bermain, menjawab pertanyaannya, menemaninya makan, mengantarnya tidur.
Lalu ketika ia tetap rewel, mudah marah, atau terus mencari perhatian, muncul rasa bingung yang perlahan berubah menjadi lelah.
Dalam hati mungkin terlintas, “Bukankah aku sudah di rumah seharian?” atau “Bukankah aku sudah menemaninya bermain?”
Rasanya tidak adil ketika upaya yang kita lakukan seolah belum cukup. Kita merasa sudah hadir, tetapi anak tetap tampak haus akan sesuatu yang belum sepenuhnya kita pahami. Di situlah kegelisahan muncul barangkali ada yang terlewat, bukan pada lamanya waktu, melainkan pada kualitas kebersamaan.
Selama ini kita kerap menghitung durasi: berapa jam di rumah, berapa lama menemani bermain, berapa menit mendengarkan cerita mereka. Kita fokus pada kuantitas. Padahal bagi anak, ukuran itu bukan angka.
Kuantitas berbicara tentang berapa lama kita ada di dekatnya. Kualitas berbicara tentang bagaimana rasanya ketika kita ada di sampingnya.
Anak tidak menghitung jam, mereka tidak mencatat durasi. Yang mereka rekam adalah perasaan: apakah ia merasa didengar, ditatap, dipeluk, atau justru diabaikan.
Dalam salah satu episode kanal YouTube Nikita Willy Official bertajuk #Momscorner 84 Anne Margareta | Berapa Lama Waktu Ibu Bekerja Bermain Bersama Anak?, dibahas bahwa kebersamaan bukan semata soal lamanya waktu ibu bekerja atau bermain bersama anak, melainkan tentang kualitas keterhubungan yang tercipta.
Satu jam tanpa distraksi bisa jauh lebih bermakna dibandingkan berjam-jam hadir secara fisik tetapi emosi tidak benar-benar terlibat.
Di sinilah mungkin letak titik baliknya: yang perlu diperbaiki bukan sekadar jadwal, melainkan cara kita hadir.
Dari sudut pandang psikologi anak, khususnya pada usia dini, yang sedang mereka bangun adalah rasa aman.
Rasa aman tidak lahir dari lamanya kita berada di dekat mereka, melainkan dari bagaimana kita merespons mereka. Saat anak menangis dan kita menenangkan dengan lembut, saat ia bercerita dan kita benar-benar mendengarkan, di situlah fondasi emosional terbentuk.
Dalam psikologi dikenal konsep attachment atau kelekatan yang dipopulerkan oleh John Bowlby dan dikembangkan lebih lanjut oleh Mary Ainsworth.
Intinya sederhana: anak membutuhkan figur yang responsif dan konsisten agar ia merasa dunia ini aman. Ketika orang tua hadir secara emosional, anak belajar bahwa perasaannya penting dan dirinya layak dicintai.
Secara perkembangan otak, interaksi hangat—tatapan mata, sentuhan, senyum, nada suara yang lembut membantu membentuk jalur saraf yang berkaitan dengan regulasi emosi dan rasa percaya diri.
Dari rasa aman itulah keberanian, kemandirian, dan kepercayaan diri tumbuh. Bukan dari lamanya kita duduk di sampingnya, tetapi dari hangatnya hubungan yang kita bangun bersamanya.
Bayangkan dua situasi berbeda.
Pada situasi pertama, kita bersama anak selama tiga jam. Duduk di ruang yang sama, sesekali menjawab pertanyaannya, tetapi tangan tidak lepas dari gawai.
Notifikasi berbunyi, mata lebih sering tertuju pada layar, respons yang diberikan singkat dan terburu-buru. Secara fisik kita ada. Secara waktu, bahkan “cukup lama”. Namun anak mungkin merasa seperti berbicara sendiri.
Pada situasi kedua, mungkin hanya lima belas menit. Kita menyimpan ponsel, menatap matanya ketika ia bercerita, tertawa bersama saat ia bercanda, memeluknya ketika ia mendekat. Tidak ada distraksi. Tidak ada perhatian yang terbagi. Hanya ada kita dan dia, utuh.
Secara durasi, jelas berbeda. Namun secara rasa, bisa jadi lima belas menit itu jauh lebih membekas. Karena yang diingat anak bukan berapa lama kita duduk di sampingnya, melainkan apakah di momen itu ia merasa benar-benar dilihat, didengar, dan dicintai.
Maka mungkin pertanyaannya bukan lagi seberapa lama kita bersama anak, melainkan seberapa utuh kita hadir di dalamnya. Sudahkah kita benar-benar hadir, atau sekadar berada di dekatnya?
Refleksi ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri. Kita semua sedang belajar, sedang berusaha, dan sering kali juga lelah.
Namun di tengah kesibukan itu, mungkin ada ruang kecil yang bisa diperbaiki bukan dengan menambah jam kebersamaan, tetapi dengan menambah kesadaran dalam setiap momen yang sudah ada.
Anak mungkin tak akan pernah ingat berapa jam kita menemaninya bermain. Namun mereka akan selalu ingat siapa yang membuatnya merasa aman dan dicintai.
Karena pada akhirnya, yang tinggal dalam ingatan bukan lamanya kebersamaan, melainkan hangatnya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Yang Anak Ingat Bukan Lamanya, tetapi Hangatnya"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang