
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah kita benar-benar semakin terbuka dan sehat secara emosional, atau justru sedang kehilangan ruang sunyi untuk berdialog dengan diri sendiri di tengah budaya berbagi yang kian tanpa batas?
Masih ingatkah pada sebuah buku tebal bersampul keras, kadang bergambar karakter kartun populer atau bermotif bunga pastel yang manis?
Buku itu terasa istimewa bukan hanya karena tampilannya, melainkan karena satu fitur kecil yang membuatnya begitu personal: gembok mungil berwarna emas atau perak yang mengunci rapat halaman-halamannya.
Bagi mereka yang tumbuh di dekade 1990-an hingga awal 2000-an, benda sederhana itu adalah ruang aman.
Di atas lembaran kertas beraroma khas, kita menyimpan cerita-cerita paling jujur tentang rasa suka yang hanya ditulis dalam inisial, kekesalan yang tak berani diucapkan pada orang tua, kekecewaan atas nilai pelajaran, hingga mimpi-mimpi yang terasa terlalu besar untuk dibagikan pada siapa pun.
Buku itu dijaga seperti harta karun. Kuncinya disembunyikan di bawah kasur, di kompartemen rahasia kotak pensil, atau bahkan dikalungkan ke leher. Ketakutan terbesar saat itu sederhana: jangan sampai ada orang lain membaca isinya.
Hari ini, ketakutan itu terasa berbalik arah. Di era media sosial, kecemasan yang muncul sering kali bukan lagi soal tulisan dibaca orang lain, melainkan sebaliknya: mengapa tidak ada yang membaca, menyukai, atau meresponsnya?
Di berbagai linimasa, kita menyaksikan bentuk-bentuk baru dari buku harian digital. Ada utas panjang penuh emosi di X (Twitter), foto-foto pilihan di Instagram yang disertai narasi personal, hingga video curhat di TikTok.
Secara perlahan, konsep privasi yang dulu melekat pada buku harian bergembok pun bergeser.
Dari Monolog Sunyi ke Ruang Validasi
Dahulu, menulis di buku harian adalah bentuk monolog internal yang intim. Kita menulis untuk memahami diri sendiri, mengurai pikiran setelah hari yang melelahkan. Kertas menjadi ruang yang tidak menghakimi—ia menerima apa adanya.
Kini, ketika seseorang menulis, “Capek banget hari ini,” di Instagram Story atau membagikan cerita kegagalan di media sosial, ada kemungkinan hadirnya harapan akan respons. Notifikasi menjadi bagian dari pengalaman emosional itu sendiri.
Balasan singkat seperti “Semangat ya!” atau emoji pelukan bisa menghadirkan rasa lega yang instan.
Kita hidup di ruang digital yang ramai, di mana perhatian terasa hangat dan menenangkan. Tanpa disadari, rasa didengar dan diperhatikan dapat menjadi kebutuhan yang terus dicari. Privasi, yang dulu terasa nyaman, kini bagi sebagian orang justru terasa sepi.
Namun, perubahan ini tidak sepenuhnya layak dipandang negatif. Ada sisi positif yang patut diakui. Di masa lalu, kebiasaan menyimpan masalah sendirian sering kali membuat banyak orang memendam beban terlalu lama. Kerapuhan dianggap tabu, dan pembicaraan tentang kesehatan mental jarang mendapat ruang.