Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Siska Fajarrany
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Siska Fajarrany adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi

Kompas.com, 22 Februari 2026, 16:15 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah kita benar-benar semakin terbuka dan sehat secara emosional, atau justru sedang kehilangan ruang sunyi untuk berdialog dengan diri sendiri di tengah budaya berbagi yang kian tanpa batas?

Masih ingatkah pada sebuah buku tebal bersampul keras, kadang bergambar karakter kartun populer atau bermotif bunga pastel yang manis?

Buku itu terasa istimewa bukan hanya karena tampilannya, melainkan karena satu fitur kecil yang membuatnya begitu personal: gembok mungil berwarna emas atau perak yang mengunci rapat halaman-halamannya.

Bagi mereka yang tumbuh di dekade 1990-an hingga awal 2000-an, benda sederhana itu adalah ruang aman.

Di atas lembaran kertas beraroma khas, kita menyimpan cerita-cerita paling jujur tentang rasa suka yang hanya ditulis dalam inisial, kekesalan yang tak berani diucapkan pada orang tua, kekecewaan atas nilai pelajaran, hingga mimpi-mimpi yang terasa terlalu besar untuk dibagikan pada siapa pun.

Buku itu dijaga seperti harta karun. Kuncinya disembunyikan di bawah kasur, di kompartemen rahasia kotak pensil, atau bahkan dikalungkan ke leher. Ketakutan terbesar saat itu sederhana: jangan sampai ada orang lain membaca isinya.

Hari ini, ketakutan itu terasa berbalik arah. Di era media sosial, kecemasan yang muncul sering kali bukan lagi soal tulisan dibaca orang lain, melainkan sebaliknya: mengapa tidak ada yang membaca, menyukai, atau meresponsnya?

Di berbagai linimasa, kita menyaksikan bentuk-bentuk baru dari buku harian digital. Ada utas panjang penuh emosi di X (Twitter), foto-foto pilihan di Instagram yang disertai narasi personal, hingga video curhat di TikTok.

Secara perlahan, konsep privasi yang dulu melekat pada buku harian bergembok pun bergeser.

Dari Monolog Sunyi ke Ruang Validasi

Dahulu, menulis di buku harian adalah bentuk monolog internal yang intim. Kita menulis untuk memahami diri sendiri, mengurai pikiran setelah hari yang melelahkan. Kertas menjadi ruang yang tidak menghakimi—ia menerima apa adanya.

Kini, ketika seseorang menulis, “Capek banget hari ini,” di Instagram Story atau membagikan cerita kegagalan di media sosial, ada kemungkinan hadirnya harapan akan respons. Notifikasi menjadi bagian dari pengalaman emosional itu sendiri.

Balasan singkat seperti “Semangat ya!” atau emoji pelukan bisa menghadirkan rasa lega yang instan.

Kita hidup di ruang digital yang ramai, di mana perhatian terasa hangat dan menenangkan. Tanpa disadari, rasa didengar dan diperhatikan dapat menjadi kebutuhan yang terus dicari. Privasi, yang dulu terasa nyaman, kini bagi sebagian orang justru terasa sepi.

Namun, perubahan ini tidak sepenuhnya layak dipandang negatif. Ada sisi positif yang patut diakui. Di masa lalu, kebiasaan menyimpan masalah sendirian sering kali membuat banyak orang memendam beban terlalu lama. Kerapuhan dianggap tabu, dan pembicaraan tentang kesehatan mental jarang mendapat ruang.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau