Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Greg Satria
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Greg Satria adalah seorang yang berprofesi sebagai Wiraswasta. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu

Kompas.com, 23 Februari 2026, 08:53 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Benarkah anak bungsu selalu lebih 'diuntungkan" di keluarga? Apa seorang anak bungsu hanya memiliki satu buku tambahan untuk dibaca dari kehidupan kakak-kakaknya?

Anak bungsu melihat kegagalan kakak-kakaknya sebagai kompas, dan keberhasilan mereka sebagai standar.”

Dalam dinamika persaudaraan, ada anggapan yang cukup populer bahwa anak bungsu memiliki “waktu belajar” yang lebih panjang dibanding kakaknya. Jika dianalogikan, setidaknya si bungsu telah memiliki satu buku khusus yang bisa ia baca sejak kecil: kehidupan sang kakak.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berhenti pada sebuah tayangan reels Instagram. Seorang konten kreator asal Indonesia, pria berusia 30an, duduk dengan gaya percaya diri sambil mengelompokkan buku-buku best seller ke dalam tiga kategori: Smarter, Wiser, dan Dumber.

Tentu setiap orang berhak menyampaikan pendapat. Namun yang menggelitik saya adalah kesan seolah-olah sebuah buku bisa sepenuhnya "membodohkan".

Benarkah tidak ada satu paragraf pun, bahkan dari buku yang kerap diperdebatkan seperti The Secret atau Law of Attraction, yang mampu memantik refleksi atau memberi sudut pandang baru bagi pembacanya?

Dari situ, pikiran saya berbelok pada topik yang lebih dekat dan lebih organik: bagaimana rasanya menjadi anak bungsu. Sama seperti perdebatan tentang buku tadi, setiap anak bungsu sesungguhnya telah diberi satu “buku gratis” sejak lahir—yakni perjalanan hidup kakaknya.

Buku itu mungkin penuh coretan kesalahan, keputusan yang kurang matang, atau kisah yang dinilai kurang ideal oleh orang tua.

Namun justru dari sanalah letak nilainya. Kegagalan sang kakak bisa menjadi kompas, sementara keberhasilannya menjadi standar yang ingin dicapai. Jika dimaknai dengan bijak, tidak ada fragmen kehidupan yang benar-benar membuat seseorang menjadi lebih bodoh.

Belajar dari Paragraf Hidup Orang Lain

Saya perlu jujur: saya bukan anak bungsu. Saya adalah anak sulung dengan satu adik kandung. Namun justru dari adik saya, saya melihat dengan lebih jelas bagaimana posisi “si pembaca buku” itu bekerja.

Ia pernah berkata singkat, “Aku tentu belajar dari pengalaman yang sudah kamu lalui.” Kalimat sederhana itu terasa dalam. Tanpa perlu banyak bertanya atau menginterogasi setiap langkah saya, ia mengamati.

Saat saya terjatuh karena keputusan yang tergesa-gesa, mungkin ia mencatatnya sebagai peringatan.

Saat saya berhasil melewati tantangan, barangkali ia menjadikannya referensi. Dalam paragraf hidup saya yang kadang terasa acak-acakan sekalipun, ia tetap menemukan pelajaran. Proses belajar yang sunyi ini membuatnya lebih cermat secara situasional karena tidak selalu harus jatuh di lubang yang sama untuk tahu bahwa lubang itu dalam.

Antara Proteksi dan Tuntutan "Jadilah Dewasa"

Label “anak kesayangan” yang kerap dilekatkan pada anak bungsu sering muncul dalam percakapan keluarga. Alasannya sederhana: karena ia yang paling kecil, ia dianggap membutuhkan perlindungan lebih.

Apakah benar demikian? Jawabannya relatif. Anak pertama pun, pada masanya, pernah menjadi pusat perhatian. Album foto lama sering menjadi saksi betapa besarnya sorotan yang pernah tertuju pada si sulung.

Namun ada satu dinamika yang sering terasa: masa kanak-kanak anak bungsu cenderung lebih panjang. Sementara itu, anak sulung kerap mengalami “percepatan” menuju kedewasaan. Ada tuntutan tak tertulis yang menyertai: “Jadilah dewasa agar bisa ditiru adikmu.”

Sulung sering menjadi ruang eksperimen pertama orang tua. Bungsu, di sisi lain, tumbuh dalam aturan yang sudah lebih disempurnakan.

Kelonggaran yang ia terima bukan semata bentuk pilih kasih, melainkan buah dari pengalaman orang tua yang telah belajar, entah menjadi lebih bijak atau sekadar lebih realistis setelah membesarkan anak pertama.

Perpustakaan Kasih Sayang yang Terbuka

Idealnya, tentu tidak ada perbedaan kasih sayang di antara anak-anak dalam keluarga. Namun dinamika kakak-adik menghadirkan bentuk pembelajaran yang unik, sebuah simbiosis literasi yang hidup.

Sepanjang hidupnya, anak bungsu memiliki setidaknya satu “buku hidup” yang selalu tersedia: kakaknya.

Apalagi sebagai seorang kakak, saya justru merasa terhormat jika perjalanan hidup saya dengan segala coretan dan kekurangannya dapat menjadi bahan diskusi di meja makan atau di teras rumah, ditemani secangkir kopi.

Tidak ada buku yang membuat seseorang bodoh jika dibaca dengan niat memahami. Begitu pula keberadaan kakak di mata adiknya.

Kegagalan saya bisa menjadi peringatan baginya. Keberhasilan saya bisa menjadi tantangan yang memacunya tumbuh. Dan sebaliknya, saya pun banyak belajar dari adik saya tentang keberanian mencoba, tentang sudut pandang yang lebih segar.

Mungkin, daripada sibuk mengelompokkan mana yang “mencerdaskan” dan mana yang “membodohkan”, kita bisa melihat bahwa bahkan dari kesalahan sekalipun, manusia selalu punya peluang untuk belajar.

Untuk para anak bungsu, bersyukurlah atas “buku gratis” yang telah tersedia di rumahmu. Dan untuk para kakak, jangan takut terlihat tidak sempurna. Dari sanalah adikmu belajar menjadi lebih kuat.

Karena pada akhirnya, bukan soal siapa yang lebih diuntungkan. Melainkan bagaimana setiap paragraf kehidupan yang baik atau kurang ideal tetap bisa menjadi pelajaran berharga bagi yang mau membacanya.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Paling Tidak Ada Satu Buku yang Terbaca oleh Si Anak Bungsu"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau