Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Latipah Rahman
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran

Kompas.com, 28 Maret 2026, 11:37 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Di tengah hiruk-pikuk libur Lebaran, mungkinkah perjalanan sederhana tanpa rencana justru menghadirkan pengalaman yang tak terduga dan menyenangkan?

Sebelum Ramadan tiba, saya sempat melihat unggahan seorang teman tentang “paspor” ala-ala untuk berkunjung ke Blok M yang belakangan kerap dijuluki sebagai “Negara Blok M.” Sejak hadirnya rute Transjakarta P11, kawasan ini memang terasa semakin mudah dijangkau.

Secara pribadi, saya cukup sering berkunjung ke Blok M. Selain aksesnya praktis, ongkosnya juga relatif terjangkau. Biasanya, saya memilih berangkat pagi untuk menghindari kemacetan Jakarta. Namun kali ini berbeda. Perjalanan ini sepenuhnya spontan—tanpa rencana.

Sekitar pukul 09.00, saya baru tiba di halte Transjakarta P11 Botani Square. Waktu yang bisa dibilang agak terlambat untuk ukuran perjalanan ke Jakarta. Antrean penumpang sudah mengular, dan peluang mendapatkan tempat duduk terasa tipis.

Awalnya, saya sempat berencana melanjutkan perjalanan dari Blok M ke Bandara Soekarno-Hatta, sekadar melepas rindu pada suasana bandara.

Namun rencana itu akhirnya saya batalkan. Saya memutuskan untuk menjelajahi Blok M di H+3 Lebaran—penasaran, apakah suasananya akan lebih lengang atau justru sebaliknya.

Perjalanan dengan Transjakarta P11 kali ini terasa berbeda. Jika biasanya saya berangkat sekitar pukul setengah tujuh pagi, kini saya justru memulai perjalanan saat kota sudah mulai padat.

Setelah menunggu sekitar lima belas menit, saya akhirnya bisa naik bus. Beruntung, masih ada kursi kosong. Saya sempat membuka buku yang dibawa, berniat mengisi waktu dengan membaca. Namun, rasa lelah membuat saya justru terlelap sejenak.

Perjalanan pun terasa lebih lama dari biasanya. Beberapa titik jalan dipadati kendaraan. Tol dipenuhi mobil pribadi tampaknya banyak warga yang bepergian dari Bogor ke Jakarta, atau sebaliknya.

Saya tiba di kawasan Blok M sekitar pukul 11.10 WIB. Tujuan pertama adalah Gramedia Jalma, salah satu tempat favorit setiap kali berkunjung ke sini.

Gramedia Jalma

Tempat ini hampir selalu ramai, terlebih saat masa libur. Pengunjungnya beragam—anak-anak, remaja, hingga orang tua. Namun, hari itu suasananya masih cukup nyaman. Beberapa bangku masih tersedia bagi pengunjung yang ingin membaca atau sekadar bekerja dengan laptop.

Saya memilih duduk dan membaca salah satu buku. Suasananya tenang, cukup kondusif untuk tenggelam dalam bacaan. Tanpa terasa, setengah bagian buku berhasil saya selesaikan.

Setelah itu, saya berkeliling melihat rak-rak buku lainnya. Deretan karya Pramoedya Ananta Toer yang tersusun rapi sempat menggoda keinginan untuk membeli. Namun, kondisi dompet membuat saya harus menahan diri.

Menjelang siang, saya keluar untuk mencari makan. Beberapa restoran di sekitar lokasi terlihat penuh, bahkan sebagian memiliki daftar tunggu. Saya memilih mencari tempat yang lebih sederhana cukup ramai, tetapi masih bisa langsung mendapatkan tempat duduk.

Makan siang sederhana itu terasa nikmat, mungkin karena dinikmati dengan santai, tanpa terburu-buru.

Setelah makan, saya sempat berencana melanjutkan perjalanan ke kawasan Pasar Baru. Namun rencana kembali berubah. Saya memilih berkeliling Blok M hingga sekitar pukul 14.00, sebelum akhirnya memutuskan pulang.

Untuk perjalanan pulang, saya tidak menggunakan rute yang sama. Jika kembali naik Transjakarta P11, kemungkinan besar akan terjebak macet dan kepadatan penumpang. Saya pun memilih kombinasi MRT dan KRL.

Namun, pilihan ini ternyata juga tidak sepenuhnya bebas dari keramaian. MRT dipenuhi penumpang, banyak di antaranya adalah keluarga yang memanfaatkan libur Lebaran untuk berwisata di Jakarta. Meski demikian, suasana di dalam kereta tetap nyaman berkat pendingin udara yang baik.

Setibanya di Stasiun Sudirman, perjalanan dilanjutkan dengan KRL. Kepadatan kembali terasa, terutama di Stasiun Manggarai. Banyak keluarga dengan anak-anak turut memenuhi gerbong.

Saya sempat mendapatkan tempat duduk, sebelum akhirnya memberikannya kepada seorang anak kecil yang baru naik. Situasi seperti ini terasa lumrah di tengah ramainya arus libur Lebaran.

Ada sedikit penyesalan karena tidak jadi mencoba rute Transjakarta menuju bandara. Padahal, itu bisa menjadi pengalaman baru. Mungkin, di lain waktu, rencana itu bisa diwujudkan.

Langit Jakarta siang itu mulai mendung. Awan kelabu menggantung, meski hawa gerah masih terasa di tengah keramaian.

Namun di balik semua itu, perjalanan spontan ini justru memberikan sesuatu yang berharga: ruang untuk mengamati, merasakan, dan kembali menemukan energi untuk menulis.

Perjalanan tanpa rencana menghadirkan perspektif yang lebih segar. Melihat orang-orang berlalu-lalang, memperhatikan detail kecil di sekitar, hingga menyadari bahwa setiap sudut kota menyimpan cerita.

Tentu saja, suasana ramai seperti ini tidak selalu cocok untuk semua orang. Bagi yang menyukai ketenangan, momen libur Lebaran mungkin bukan waktu terbaik untuk bepergian.

Transportasi umum cenderung penuh, tempat-tempat publik ramai, dan kenyamanan menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, penting untuk menyesuaikan rencana perjalanan dengan preferensi masing-masing.

Namun bagi saya, hari itu menjadi pengingat sederhana: bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari rencana besar. Kadang, ia hadir dari perjalanan kecil yang dijalani dengan terbuka.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menikmati Negara Blok M di H+3 Lebaran"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Kata Netizen
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Kata Netizen
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Kata Netizen
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kata Netizen
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Kata Netizen
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Kata Netizen
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Kata Netizen
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Kata Netizen
Fenomena 'Book Shaming' dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Fenomena "Book Shaming" dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Kata Netizen
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Kata Netizen
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Kata Netizen
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Kata Netizen
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Kata Netizen
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Kata Netizen
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau