
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di tengah hiruk-pikuk libur Lebaran, mungkinkah perjalanan sederhana tanpa rencana justru menghadirkan pengalaman yang tak terduga dan menyenangkan?
Sebelum Ramadan tiba, saya sempat melihat unggahan seorang teman tentang “paspor” ala-ala untuk berkunjung ke Blok M yang belakangan kerap dijuluki sebagai “Negara Blok M.” Sejak hadirnya rute Transjakarta P11, kawasan ini memang terasa semakin mudah dijangkau.
Secara pribadi, saya cukup sering berkunjung ke Blok M. Selain aksesnya praktis, ongkosnya juga relatif terjangkau. Biasanya, saya memilih berangkat pagi untuk menghindari kemacetan Jakarta. Namun kali ini berbeda. Perjalanan ini sepenuhnya spontan—tanpa rencana.
Sekitar pukul 09.00, saya baru tiba di halte Transjakarta P11 Botani Square. Waktu yang bisa dibilang agak terlambat untuk ukuran perjalanan ke Jakarta. Antrean penumpang sudah mengular, dan peluang mendapatkan tempat duduk terasa tipis.
Awalnya, saya sempat berencana melanjutkan perjalanan dari Blok M ke Bandara Soekarno-Hatta, sekadar melepas rindu pada suasana bandara.
Namun rencana itu akhirnya saya batalkan. Saya memutuskan untuk menjelajahi Blok M di H+3 Lebaran—penasaran, apakah suasananya akan lebih lengang atau justru sebaliknya.
Perjalanan dengan Transjakarta P11 kali ini terasa berbeda. Jika biasanya saya berangkat sekitar pukul setengah tujuh pagi, kini saya justru memulai perjalanan saat kota sudah mulai padat.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, saya akhirnya bisa naik bus. Beruntung, masih ada kursi kosong. Saya sempat membuka buku yang dibawa, berniat mengisi waktu dengan membaca. Namun, rasa lelah membuat saya justru terlelap sejenak.
Perjalanan pun terasa lebih lama dari biasanya. Beberapa titik jalan dipadati kendaraan. Tol dipenuhi mobil pribadi tampaknya banyak warga yang bepergian dari Bogor ke Jakarta, atau sebaliknya.
Saya tiba di kawasan Blok M sekitar pukul 11.10 WIB. Tujuan pertama adalah Gramedia Jalma, salah satu tempat favorit setiap kali berkunjung ke sini.
Gramedia Jalma
Tempat ini hampir selalu ramai, terlebih saat masa libur. Pengunjungnya beragam—anak-anak, remaja, hingga orang tua. Namun, hari itu suasananya masih cukup nyaman. Beberapa bangku masih tersedia bagi pengunjung yang ingin membaca atau sekadar bekerja dengan laptop.
Saya memilih duduk dan membaca salah satu buku. Suasananya tenang, cukup kondusif untuk tenggelam dalam bacaan. Tanpa terasa, setengah bagian buku berhasil saya selesaikan.
Setelah itu, saya berkeliling melihat rak-rak buku lainnya. Deretan karya Pramoedya Ananta Toer yang tersusun rapi sempat menggoda keinginan untuk membeli. Namun, kondisi dompet membuat saya harus menahan diri.
Menjelang siang, saya keluar untuk mencari makan. Beberapa restoran di sekitar lokasi terlihat penuh, bahkan sebagian memiliki daftar tunggu. Saya memilih mencari tempat yang lebih sederhana cukup ramai, tetapi masih bisa langsung mendapatkan tempat duduk.
Makan siang sederhana itu terasa nikmat, mungkin karena dinikmati dengan santai, tanpa terburu-buru.
Setelah makan, saya sempat berencana melanjutkan perjalanan ke kawasan Pasar Baru. Namun rencana kembali berubah. Saya memilih berkeliling Blok M hingga sekitar pukul 14.00, sebelum akhirnya memutuskan pulang.
Untuk perjalanan pulang, saya tidak menggunakan rute yang sama. Jika kembali naik Transjakarta P11, kemungkinan besar akan terjebak macet dan kepadatan penumpang. Saya pun memilih kombinasi MRT dan KRL.
Namun, pilihan ini ternyata juga tidak sepenuhnya bebas dari keramaian. MRT dipenuhi penumpang, banyak di antaranya adalah keluarga yang memanfaatkan libur Lebaran untuk berwisata di Jakarta. Meski demikian, suasana di dalam kereta tetap nyaman berkat pendingin udara yang baik.
Setibanya di Stasiun Sudirman, perjalanan dilanjutkan dengan KRL. Kepadatan kembali terasa, terutama di Stasiun Manggarai. Banyak keluarga dengan anak-anak turut memenuhi gerbong.
Saya sempat mendapatkan tempat duduk, sebelum akhirnya memberikannya kepada seorang anak kecil yang baru naik. Situasi seperti ini terasa lumrah di tengah ramainya arus libur Lebaran.
Ada sedikit penyesalan karena tidak jadi mencoba rute Transjakarta menuju bandara. Padahal, itu bisa menjadi pengalaman baru. Mungkin, di lain waktu, rencana itu bisa diwujudkan.
Langit Jakarta siang itu mulai mendung. Awan kelabu menggantung, meski hawa gerah masih terasa di tengah keramaian.
Namun di balik semua itu, perjalanan spontan ini justru memberikan sesuatu yang berharga: ruang untuk mengamati, merasakan, dan kembali menemukan energi untuk menulis.
Perjalanan tanpa rencana menghadirkan perspektif yang lebih segar. Melihat orang-orang berlalu-lalang, memperhatikan detail kecil di sekitar, hingga menyadari bahwa setiap sudut kota menyimpan cerita.
Tentu saja, suasana ramai seperti ini tidak selalu cocok untuk semua orang. Bagi yang menyukai ketenangan, momen libur Lebaran mungkin bukan waktu terbaik untuk bepergian.
Transportasi umum cenderung penuh, tempat-tempat publik ramai, dan kenyamanan menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, penting untuk menyesuaikan rencana perjalanan dengan preferensi masing-masing.
Namun bagi saya, hari itu menjadi pengingat sederhana: bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari rencana besar. Kadang, ia hadir dari perjalanan kecil yang dijalani dengan terbuka.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menikmati Negara Blok M di H+3 Lebaran"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang