
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Setelah riuhnya Lebaran usai, pernahkah kita menyadari bahwa di balik tumpukan setrikaan di rumah, ada kerja sunyi yang sering luput dari perhatian?
Lebaran selalu hadir dengan suasana yang akrab: hangat, meriah, dan penuh kebersamaan. Rumah dipenuhi tawa, meja makan tak pernah benar-benar sepi, dan pakaian terbaik dikenakan sebagai simbol kebahagiaan sekaligus penghormatan terhadap momen yang istimewa.
Selama beberapa hari, ritme hidup terasa berubah. Waktu berjalan lebih lambat, pertemuan terasa lebih dekat, dan hubungan sosial kembali dirajut dengan penuh makna. Namun, seperti halnya setiap perayaan, Lebaran pun memiliki jeda.
Ketika tamu terakhir berpamitan, perjalanan mudik usai, dan rumah kembali tenang, ada satu pemandangan yang hampir selalu hadir: tumpukan pakaian yang menunggu untuk disetrika.
Jejak Perayaan yang Tertinggal
Di sudut rumah, tumpukan setrikaan itu mungkin terlihat sebagai hal yang biasa. Sekadar sisa dari aktivitas beberapa hari terakhir. Namun jika dilihat lebih dalam, setiap helai pakaian menyimpan cerita.
Ada baju yang dikenakan saat bersalaman dengan orang tua, pakaian yang menemani kunjungan ke rumah kerabat, hingga busana yang dipakai dalam perjalanan panjang menuju kampung halaman. Setrikaan, dalam hal ini, bukan sekadar pekerjaan rumah, melainkan semacam arsip kecil dari pengalaman sosial yang baru saja dilalui.
Kerja Sunyi yang Tak Terlihat
Di balik tumpukan itu, ada kerja yang sering kali luput dari perhatian. Ia dilakukan tanpa sorotan, tanpa apresiasi yang berarti, dan kerap dianggap sebagai bagian rutin yang tidak perlu dibicarakan.
Padahal, pekerjaan ini membutuhkan waktu, tenaga, dan ketelatenan. Ia adalah bagian dari apa yang kerap disebut sebagai invisible labor kerja domestik yang tidak selalu terlihat sebagai kontribusi, tetapi menjadi fondasi dari kenyamanan bersama.
Dalam konteks pasca Lebaran, beban ini terasa semakin nyata. Setelah melalui proses panjang mempersiapkan hidangan, menyambut tamu, dan menjaga suasana tetap hangat, masih ada pekerjaan lanjutan yang menunggu untuk diselesaikan.
Sering kali, pekerjaan ini juga melekat pada peran tertentu dalam keluarga, terutama perempuan.
Tanpa disadari, ada pembagian peran yang berjalan secara kultural yang mana sebagian anggota keluarga menikmati hasil perayaan, sementara sebagian lainnya tetap bekerja di balik layar.
Tumpukan setrikaan menjadi simbol kecil dari realitas ini.
Ritme Sosial yang Berulang