Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di tengah luasnya peluang beasiswa pendidikan, mengapa lulusan D3 masih kerap merasa ruang untuk melanjutkan studi, terutama ke jenjang S1, belum terbuka selebar jalur lainnya?
Di tengah ramainya pembahasan mengenai beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mulai dari impian kuliah ke luar negeri hingga berbagai polemik yang mengemuka ada satu kelompok yang kerap luput dari perhatian: lulusan Diploma 3 (D3). Padahal, jumlah mereka tidak sedikit dan perjuangannya pun tak bisa dipandang sebelah mata.
Pertanyaan yang muncul sebenarnya cukup sederhana: mengapa lulusan D3 jarang mendapat ruang dalam skema beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang S1?
Selama ini, LPDP dikenal sebagai salah satu pintu besar bagi generasi muda Indonesia untuk mengembangkan diri melalui pendidikan tinggi. Banyak kisah inspiratif lahir dari program ini, terutama dari mereka yang melanjutkan studi ke jenjang S2 dan S3, baik di dalam maupun luar negeri.
Namun jika dicermati lebih dekat, fokus beasiswa ini masih dominan pada lulusan S1 yang ingin melanjutkan ke S2, atau dari S2 ke S3. Jalur tersebut tentu penting.
Akan tetapi, di sisi lain, jalur vokasi khususnya dari D3 ke S1 terasa belum mendapatkan perhatian yang setara.
Bagi sebagian orang, hal ini mungkin dianggap wajar. Ada anggapan bahwa lulusan D3 memang dipersiapkan untuk langsung memasuki dunia kerja, sehingga tidak selalu membutuhkan kelanjutan studi. Namun realitas di lapangan menunjukkan hal yang lebih kompleks.
Banyak lulusan D3 yang memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan, memperdalam pengetahuan, serta meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing. Sayangnya, keinginan tersebut kerap terbentur keterbatasan biaya dan minimnya akses terhadap beasiswa.
Berbeda dengan lulusan S1 yang memiliki beragam pilihan pendanaan pendidikan, lulusan D3 sering kali harus mengambil keputusan yang tidak mudah: langsung bekerja dengan bekal yang ada, atau melanjutkan studi dengan biaya mandiri yang tidak ringan.
Tidak sedikit yang akhirnya berhenti di jenjang D3 bukan karena kurangnya motivasi, melainkan karena keterbatasan yang dihadapi.
Di titik inilah kesenjangan mulai terasa. Di satu sisi, peningkatan kualitas sumber daya manusia sering menjadi prioritas pembangunan.
Namun di sisi lain, tidak semua jalur pendidikan memperoleh akses yang sama untuk berkembang. Lulusan D3 seolah berada di persimpangan yang sempit memiliki potensi untuk maju, tetapi jalurnya belum sepenuhnya terbuka.
Jika ditarik lebih jauh, kondisi ini juga berkaitan dengan cara pandang terhadap pendidikan vokasi.
Selama ini, jalur vokasi kerap dianggap sebagai pilihan alternatif, bukan arus utama. Padahal, di banyak negara maju, lulusan vokasi justru menjadi tulang punggung industri karena keterampilan praktis yang dimiliki.
Ironisnya, di Indonesia, lulusan D3 masih kerap terjebak dalam stigma tersebut. Mereka dianggap “cukup” sampai di jenjang itu.
Padahal, jika diberi kesempatan melanjutkan ke S1, lulusan vokasi berpotensi menjadi kombinasi ideal antara kemampuan praktis dan landasan akademik. Ini adalah potensi yang besar, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Polemik yang belakangan muncul terkait penerima beasiswa LPDP sejatinya dapat menjadi momentum refleksi yang lebih luas.
Selama ini, diskusi publik sering berfokus pada kontribusi penerima setelah lulus atau komitmen terhadap negara. Hal tersebut memang penting, tetapi ada pertanyaan lain yang tak kalah relevan: siapa saja yang belum mendapatkan akses sejak awal?
Lulusan D3 menjadi salah satu jawabannya. Mereka bahkan belum sampai pada tahap “diperdebatkan”, karena akses menuju peluang tersebut masih terbatas.
Inilah yang membuat isu ini penting untuk diangkat—bukan untuk membandingkan, melainkan untuk melengkapi perspektif.
Jika berbicara tentang kontribusi terhadap negara, membuka akses pendidikan yang lebih luas juga merupakan investasi jangka panjang.
Lulusan D3 yang melanjutkan ke S1 berpotensi menjadi tenaga kerja yang lebih adaptif, kompeten, dan siap menghadapi tantangan global. Mereka tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memiliki fondasi akademik yang lebih kokoh.
Selain itu, tidak dapat diabaikan bahwa banyak mahasiswa D3 berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Jalur vokasi sering dipilih karena lebih terjangkau dan menawarkan jalan lebih cepat ke dunia kerja.
Dalam konteks ini, membuka akses beasiswa bagi mereka bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga menyangkut keadilan sosial dan mobilitas ekonomi.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Perubahan tentu tidak harus terjadi secara instan. Namun, langkah awal dapat dimulai dengan menghadirkan skema beasiswa khusus untuk transisi D3 ke S1, program afirmasi bagi lulusan vokasi, atau memperluas cakupan beasiswa yang sudah ada agar lebih inklusif terhadap berbagai jalur pendidikan.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang siapa yang lebih berhak mendapatkan beasiswa.
Ini tentang bagaimana pendidikan dipandang sebagai hak yang semestinya dapat diakses oleh semua orang. Jika tujuan kita adalah membangun sumber daya manusia yang unggul, maka setiap jalur perlu diberi ruang yang adil untuk berkembang.
Lulusan D3 bukan kekurangan potensi, melainkan sering kali kekurangan kesempatan. Dan dalam banyak hal, yang dibutuhkan bukanlah perubahan besar, melainkan keberpihakan kecil yang konsisten.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Lulusan D3: Mengapa Jalan Kami Terasa Lebih Sempit?"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya