Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Latipah Rahman
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Sebuah Kisah di Balik Kebiasaan Lari, FOMO yang Berbuah Sehat

Kompas.com, 21 April 2026, 09:01 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bisakah kebiasaan sederhana seperti berlari yang mana awalnya sekadar ikut tren menjadi jalan keluar dari insomnia sekaligus mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat?

Tahun 2023 menjadi salah satu fase yang cukup menantang bagi saya. Beban pekerjaan yang meningkat membuat pola tidur berantakan.

Malam terasa panjang, tetapi tidur sulit didapatkan. Insomnia berlangsung berbulan-bulan, hingga perlahan mulai memengaruhi konsentrasi dan kondisi kesehatan.

Di titik itulah saya merasa perlu melakukan sesuatu. Salah satu pilihan yang kemudian saya coba adalah olahraga lari.

Keputusan ini bisa dibilang cukup spontan. Sebelumnya, saya memang sesekali berolahraga seperti trekking, hiking, jalan kaki, atau yoga. Namun kali ini terasa berbeda lebih terarah dan dilakukan dengan kesadaran untuk memperbaiki kondisi tubuh.

Kebetulan, pada saat itu tren olahraga lari sedang meningkat. Saya mulai dari yang sederhana, berlari di sekitar SSA Kebun Raya Bogor, Lapangan Sempur, hingga Taman Ekspresi Bogor. Dari sekadar mencoba, saya kemudian tertarik mengikuti event lari, salah satunya yang diselenggarakan oleh Pocari Sweat.

Meski berangkat dari rasa penasaran, saya tetap mempersiapkan diri. Menjelang event 5K pertama, saya mulai rutin berlatih, belajar mengatur napas, dan melengkapi dengan yoga. Hasilnya cukup terasa setiap selesai berlari atau yoga, tubuh terasa lebih ringan, dan yang paling penting, tidur menjadi lebih mudah.

Jika sebelumnya saya terbiasa tidur larut hingga dini hari, perlahan pola itu berubah. Saya mulai bisa tidur lebih awal, sekitar pukul 21.00 atau 22.00. Perubahan ini terasa sangat berarti.

Selain berlatih, saya juga bergabung dengan komunitas lari. Dari sana, saya belajar banyak—mulai dari teknik dasar, pengaturan napas, hingga pentingnya menjaga asupan makanan dan cairan saat berolahraga.

Dari FOMO Menjadi Rutinitas Sehat

Pada awalnya, mengikuti event lari memang tidak lepas dari rasa FOMO (fear of missing out). Hampir setiap bulan saya mendaftar event, baik yang gratis maupun berbayar. Selain pengalaman, ada juga keseruan lain seperti bertemu teman baru, mendapatkan goodie bag, hingga doorprize.

Namun di balik itu, manfaat yang dirasakan jauh lebih besar. Tubuh terasa lebih segar, aktivitas menjadi lebih teratur, dan kualitas tidur meningkat.

Butuh waktu sekitar satu tahun bagi saya untuk konsisten berlari dengan jarak 5K. Perlahan, rutinitas ini menjadi bagian dari gaya hidup. Bahkan, saya rela bangun dini hari untuk mengikuti event di berbagai lokasi seperti GBK atau kawasan Sudirman.

Memasuki tahun 2024, saya mulai mencoba tantangan baru dengan mengikuti event 10K. Di fase ini, saya belajar lebih banyak tentang mendengarkan tubuh—tidak memaksakan diri, tidak terlalu ambisius mengejar kecepatan, dan lebih fokus pada keselamatan.

Saya masih ingat salah satu pengalaman saat mengikuti event lari di jalur menanjak. Napas mulai tersengal, dan saya memutuskan untuk memperlambat langkah, bahkan berjalan sejenak. Dalam situasi itu, satu hal yang saya pegang adalah memastikan tetap aman hingga garis finis.

Dan benar, meski waktu tempuh lebih lama, saya berhasil menyelesaikan lomba dengan kondisi baik.

Menjaga Ritme di Tengah Kesibukan

Memasuki tahun 2025, ritme tersebut sempat berubah. Tuntutan pekerjaan membuat saya tidak lagi rutin mengikuti event. Saya lebih sering berlari secara mandiri saat memiliki waktu luang.

Saya juga memilih untuk tidak berolahraga setelah jam kerja demi menghindari kelelahan berlebih. Sebagai gantinya, saya tetap menjaga aktivitas ringan seperti peregangan dan yoga agar kualitas tidur tetap terjaga.

Keputusan untuk mencoba lari di tahun 2023 menjadi titik balik yang saya syukuri. Selain karena manfaatnya bagi kesehatan, olahraga ini juga terasa paling sederhana dan mudah dijalani dibandingkan jenis olahraga lain.

Yoga sendiri sudah saya kenal sejak masa pandemi, terutama untuk membantu mengelola kecemasan. Kombinasi keduanya—lari dan yoga—memberikan keseimbangan yang cukup baik bagi tubuh dan pikiran.

Manfaat yang Dirasakan

Seiring waktu, manfaat olahraga lari semakin terasa. Berat badan yang sebelumnya cenderung kurang perlahan meningkat secara sehat. Tubuh terasa lebih bugar, dan pola tidur menjadi lebih teratur.

Setelah berlari, rasa kantuk di siang hari sering muncul, yang justru membantu mendapatkan istirahat tambahan. Pada malam hari, rasa kantuk datang lebih cepat tanpa harus dipaksakan.

Selain itu, saya juga mulai lebih memperhatikan kebutuhan tubuh—mulai dari asupan makanan, pemilihan pakaian yang nyaman, hingga sepatu yang sesuai untuk berlari.

Tidak hanya itu, pengalaman mengikuti berbagai event juga memberikan keuntungan lain. Beberapa hadiah atau produk dari goodie bag bahkan bisa dimanfaatkan atau dibagikan kembali.

Menariknya, kebiasaan ini juga perlahan memengaruhi lingkungan sekitar. Beberapa teman mulai tertarik mencoba olahraga lari setelah melihat perubahan yang saya rasakan.

Dari Peserta Menjadi Penggagas

Pengalaman mengikuti berbagai event lari ternyata membuka peluang baru. Pada tahun 2024, kantor tempat saya bekerja mengadakan event lari, dan saya turut terlibat dalam proses perencanaan.

Mulai dari ide awal hingga koordinasi dengan sponsor, pengalaman sebagai peserta sebelumnya sangat membantu dalam memahami kebutuhan teknis acara. Hal ini menjadi pengalaman yang berharga dan memberikan kepuasan tersendiri.

Pada akhirnya, jika ditanya olahraga favorit saat ini, jawabannya tetap sama: lari dan yoga. Keduanya memberikan manfaat tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental.

Label “FOMO olahraga” mungkin pernah terdengar. Namun bagi saya, selama dilakukan dengan serius, penuh kesadaran, dan tetap mendengarkan kondisi tubuh, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Yang terpenting adalah menempatkan keselamatan dan kesehatan sebagai prioritas utama.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Insomnia dan Awal Mula FOMO Olahraga Lari"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Relasi Manusia dan Alam, Biawak Terdesak, dan Sapu-Sapu Mendominasi
Relasi Manusia dan Alam, Biawak Terdesak, dan Sapu-Sapu Mendominasi
Kata Netizen
Menyiasati Barang Menumpuk, Kapan Disimpan, dan Kapan Dilepas?
Menyiasati Barang Menumpuk, Kapan Disimpan, dan Kapan Dilepas?
Kata Netizen
'Single-by-Choice', Menemukan Makna Hidup di Luar Pernikahan
"Single-by-Choice", Menemukan Makna Hidup di Luar Pernikahan
Kata Netizen
Sebuah Kisah di Balik Kebiasaan Lari, FOMO yang Berbuah Sehat
Sebuah Kisah di Balik Kebiasaan Lari, FOMO yang Berbuah Sehat
Kata Netizen
CFD Cibinong, Ruang Sehat yang Masih Perlu Penataan
CFD Cibinong, Ruang Sehat yang Masih Perlu Penataan
Kata Netizen
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau