
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Sepulang dari Gunung Andong, saya berpisah dengan rombongan anak-anak muda yang sejak tadi mendaki bersama. Mereka melanjutkan perjalanan ke arah Kopeng, mungkin untuk beristirahat sekaligus mengunggah dokumentasi perjalanan ke media sosial.
Sementara itu, saya memilih memutar arah menuju Ketep, Magelang. Di sana tinggal seorang kawan lama, seangkatan dengan saya. Sebut saja namanya Pak Eko.
Kami sama-sama generasi yang tumbuh di masa ketika segala sesuatu belum serba digital. Sama-sama pernah menikmati masa ketika relasi dibangun lewat tatap muka, transaksi terjadi secara langsung, dan promosi dari mulut ke mulut terasa cukup.
Pak Eko dulu dikenal sebagai pemain bonsai yang cukup disegani. Tangannya terampil membentuk dahan dan batang menjadi karya seni bernilai tinggi.
Namun beberapa tahun terakhir, ia mulai beralih menekuni budidaya bougenville, mengikuti perubahan pasar yang dirasanya lebih menjanjikan.
Kami duduk di teras rumahnya yang menghadap lereng Merbabu. Udara siang terasa sejuk. Deretan pot bougenville berjajar rapi dengan warna-warna mencolok yang menyegarkan mata. Namun di balik suasana yang indah itu, saya menangkap kegelisahan di wajah Pak Eko.
“Sekarang sepi, Bud,” katanya pelan sambil menyodorkan secangkir kopi hitam hangat.
“Pembeli makin jarang. Banyak kalah sama penjual online.”
Ia lalu bercerita bagaimana lapak bunga di pinggir jalan yang dulu cukup ramai kini lebih sering dilewati kendaraan tanpa berhenti. Dunia perlahan berubah, sementara cara lama tak lagi selalu berhasil.
“Bonsai juga begitu,” lanjutnya. “Pemainnya makin banyak, pasar juga berubah.”
Saya hanya mengangguk sambil menyeruput kopi perlahan. Sebab, apa yang dirasakan Pak Eko sebenarnya juga dirasakan banyak orang di berbagai bidang. Perubahan teknologi bukan hanya mengubah cara orang berjualan, tetapi juga cara orang membangun kepercayaan.
Pak Eko kemudian bertanya bagaimana saya masih bisa bertahan menjual tanaman hingga sekarang.
Saya pun mencoba berbagi pengalaman. Bahwa beberapa tahun terakhir, saya memilih belajar mengikuti perubahan, meski awalnya terasa canggung.
Saya pernah mencoba mengikuti gaya anak-anak muda saat berjualan daring. Mencoba tampil ceria saat siaran langsung, berbicara penuh semangat di depan kamera, hingga meniru gaya promosi yang sedang tren. Namun hasilnya tidak terlalu berhasil.
Saya sadar, setiap orang punya caranya sendiri.
Akhirnya saya memilih pendekatan yang lebih sesuai dengan kemampuan. Jika tidak bisa menjadi “wajah utama” di depan layar, saya belajar menjadi pemasok bagi para penjual muda yang aktif di media sosial.
Saya mulai fokus menyediakan bibit, batang stek, dan bahan tanaman yang mereka butuhkan.
Keuntungan per pohon memang tidak sebesar dulu, tetapi perputaran barang menjadi lebih stabil. Saya tetap masuk ke ekosistem digital, hanya dengan peran yang berbeda.
Pak Eko mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
“Saya sebenarnya malas kirim-kirim barang,” katanya kemudian. “Apalagi soal membungkus tanaman itu. Ribet.”
Saya tersenyum kecil. Justru di situlah letak tantangannya.
Sering kali, pengalaman panjang membuat seseorang sangat ahli dalam satu bidang, tetapi tanpa sadar enggan mempelajari hal-hal baru yang terlihat sederhana.
Padahal, di era sekarang, kemampuan kecil seperti mengemas barang dengan aman atau memahami pola pemasaran digital bisa menjadi penentu bertahan atau tidaknya sebuah usaha.
Saya mengatakan pada Pak Eko bahwa ilmu budidaya yang ia miliki sangat berharga. Tidak semua anak muda memahami kualitas tanaman sebaik dirinya. Namun ilmu itu akan sulit berkembang jika tidak diikuti keberanian untuk beradaptasi.
Di dunia online, misalnya, kejujuran menjadi hal penting. Penjual perlu berani memperlihatkan kondisi barang apa adanya, mengirim pesanan dengan baik, serta membangun kepercayaan pelanggan sedikit demi sedikit.
Saya juga menyampaikan bahwa belajar dari generasi yang lebih muda bukanlah sesuatu yang memalukan. Dunia terus bergerak, dan kadang kita hanya perlu sedikit menurunkan ego untuk tetap bisa berjalan bersamanya.
Pak Eko tertawa kecil mendengar itu. “Berarti saya memang harus belajar lagi, ya?” katanya. Saya mengangguk.
Belajar ternyata tidak mengenal usia. Bahkan di usia 57 tahun sekalipun, seseorang tetap bisa menjadi murid kembali.
Perjalanan pulang menuju Pengging sore itu terasa cukup menenangkan. Namun percakapan dengan Pak Eko masih terus teringat di kepala saya.
Saya menyadari, di sekitar kita sebenarnya banyak orang yang memiliki pengalaman luar biasa, pengetahuan yang mendalam, bahkan reputasi yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Namun sebagian dari mereka mulai kesulitan mengikuti perubahan, bukan karena tidak mampu, melainkan karena merasa tidak perlu lagi belajar.
Kadang sikap itu muncul secara halus. Bukan dalam bentuk penolakan terang-terangan, tetapi lewat keluhan terhadap zaman yang berubah terlalu cepat, atau rasa lelah menghadapi cara-cara baru yang terasa asing.
Padahal perubahan tidak selalu meminta kita menjadi orang lain. Kadang kita hanya perlu menyesuaikan diri sedikit demi sedikit.
Sebab sehebat apa pun pengalaman seseorang, dunia akan terus bergerak. Dan mungkin, salah satu bentuk kedewasaan terbesar adalah tetap bersedia belajar, bahkan dari mereka yang usianya jauh lebih muda.
Di tengah perjalanan, saya sempat melihat Gunung Merapi mengeluarkan asap tipis di kejauhan.
Pemandangan itu seperti pengingat kecil bahwa alam pun terus bergerak tanpa menunggu siapa-siapa. Begitu pula kehidupan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menanggalkan Ego Pemain Bonsai, Belajar "Paking" di Usia 57 Tahun"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang