
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Pagi itu aula sekolah telah dipenuhi para orang tua. Kursi-kursi hampir seluruhnya terisi. Panitia kemudian mengarahkan saya menuju dua kursi kosong di sisi kanan ruangan, tidak jauh dari dinding.
Saya menyapu pandangan ke seluruh aula. Di deretan kursi paling depan, para murid tampak begitu ceria. Senyum mereka mengembang, sesekali melambaikan tangan kepada guru-guru yang berdiri di dekat panggung.
Raut wajah mereka memperlihatkan satu hal yang sama: lega. Tiga tahun perjalanan belajar akhirnya sampai pada garis akhir. Berbagai ujian, tugas, dan kecemasan yang pernah mereka hadapi kini berganti menjadi suasana syukur dan bahagia.
Sebagai orang tua murid, saya pun ikut merasakan kebahagiaan itu. Beberapa guru yang melintas menyapa dengan ramah. Dua tahun sebelumnya, anak sulung saya juga lulus dari sekolah yang sama sehingga suasana ini terasa tidak asing.
Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Namun, di tengah suasana yang khidmat itu, pikiran saya justru melayang pada perjalanan anak kedua kami selama menempuh pendidikan.
Semasa kelas VIII, ia mulai mengenal permainan daring (online game). Pada awalnya, semuanya tampak biasa saja. Akan tetapi, perlahan intensitas bermain meningkat hingga mulai memengaruhi kebiasaan belajarnya.
Bukan hanya waktu belajar yang berkurang, tetapi juga perhatian terhadap dirinya sendiri.
Sebagai orang tua, saya berusaha mendampinginya semampu mungkin. Meski demikian, saya juga menyadari bahwa setiap proses perubahan membutuhkan waktu.
Ada kalanya saya bertanya dalam hati, mungkinkah semua itu berawal dari rasa sepi yang tidak pernah benar-benar ia ungkapkan?
Pertanyaan itu tidak selalu memiliki jawaban yang pasti. Namun pengalaman tersebut mengingatkan saya bahwa di balik perilaku seorang anak, sering kali tersimpan kebutuhan untuk didengar dan dipahami.
Perjalanan itu belum berhenti di sana.
Anak saya juga beberapa kali terlambat datang ke sekolah. Namanya dicatat oleh guru piket, kemudian ia menjalani konsekuensi sesuai aturan sekolah, seperti menyapu atau mengepel ruang guru.
Suatu hari ia menangis ketika bercerita kepada kakaknya. Bukan karena ia sengaja bangun kesiangan, melainkan karena setiap pagi harus menunggu giliran terakhir untuk diantar ke sekolah yang lokasinya memang lebih jauh dibandingkan saudara-saudaranya.
Sebagai orang tua, saya memahami bahwa aturan sekolah perlu ditegakkan. Namun di sisi lain, saya juga melihat bagaimana keterlambatan yang berulang perlahan memengaruhi rasa percaya dirinya.