
Saya menarik napas panjang. Perjalanan anak saya selama tiga tahun terakhir memang tidak mudah.
Menjelang ujian semester, surat pemberitahuan mengenai administrasi sekolah beberapa kali datang. Walaupun persoalan tersebut bukan tanggung jawabnya, saya bisa merasakan bahwa situasi itu turut memengaruhi perasaannya ketika berada di lingkungan sekolah.
Mengingat kembali masa-masa itu membuat mata saya mulai berkaca-kaca.
Saya berusaha mengalihkan perhatian dengan membuka kotak kudapan yang telah disediakan panitia.
Di dalamnya ada sepotong lemper abon, makanan sederhana yang seketika mengingatkan saya kepada almarhum ibu.
Sepulang bekerja, beliau sering membawa pulang jajanan untuk kami. Baru setelah dewasa saya memahami bahwa kebiasaan kecil itu mungkin merupakan caranya menghadirkan kehangatan setelah seharian berada di luar rumah.
"Ibu, Kakak dipanggil!"
Suara anak bungsu membuyarkan lamunan saya. Saya mendongak ke arah panggung. Benar saja. Nama anak saya disebut sebagai peraih penghargaan siswa berprestasi. Orang tua diminta mendampingi putra-putrinya menerima piagam penghargaan.
Dengan tergesa saya mengambil buket bunga yang sebelumnya dititipkan.
Buket itu dibuat sendiri oleh anak saya dari lipatan kertas bekas yang dirangkainya menjadi bunga mawar.
Dua tahun sebelumnya, saya juga pernah berdiri di panggung yang sama ketika anak sulung memperoleh penghargaan serupa.
Hari itu, giliran adiknya yang menerima apresiasi atas hasil kerja kerasnya.
"Selamat ya, Nak," ucap saya dengan suara yang sedikit bergetar.
Pemilik yayasan kemudian menyalaminya.
"Selamat. Semoga terus semangat meraih cita-cita."