Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Erinintyani Shabrina
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Erinintyani Shabrina adalah seorang yang berprofesi sebagai Editor. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman

Kompas.com, 20 Juli 2026, 12:20 WIB

Di tengah menjamurnya kafe yang menyajikan jamu dengan tampilan modern, mengapa segelas jamu gendong yang dijual sederhana masih terus dicari?

Barangkali jawabannya bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang kehangatan, kepercayaan, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.

"Mangga dicoba, Teh. Ini jamu legend, wajib dicoba sebelum mulai mengubek harta karun Kebun Raya," ujar Kang Ian, pemandu kami pagi itu.

Tanggal 6 Juni 2024 menjadi kali pertama saya berkenalan dengan Bu Tuminah, penjual jamu gendong yang setiap hari berjualan di kawasan Kebun Raya Bogor.

"Ini Bu Tuminah. Beliau sudah jualan di sini sejak 1977," lanjut Kang Ian.

Bu Tuminah hanya tersenyum sambil mengangguk pelan. Saya sempat terdiam. Tahun itu bahkan saya belum lahir, sementara beliau sudah memulai perjalanan panjang sebagai penjual jamu.

Kami pun menghampiri bakul sederhana yang dibawanya. Di dalamnya berjajar botol-botol berisi jamu dengan warna-warna alami. Ketika salah satu tutup botol dibuka, aroma rempah langsung menguar memenuhi udara. Niat yang semula hanya ingin melihat-lihat berubah menjadi ingin mencicipi.

"Mau yang apa, Neng? Ada kunyit asam, beras kencur, cabe puyang buat pegal-pegal. Yang pahit juga ada," tutur Bu Tuminah sambil menunjuk satu botol berwarna lebih pekat dibanding yang lain.

Saya akhirnya memilih kunyit asam, begitu pula sebagian besar teman-teman yang ikut bersama pagi itu. Dengan cekatan, Bu Tuminah menuangkan jamu ke dalam gelas plastik dan menyerahkannya satu per satu kepada kami.

Kesegaran yang Sulit Tergantikan

Segelas kunyit asam yang masih terasa hangat saya pegang beberapa saat sebelum akhirnya diminum perlahan.

Rasa segarnya langsung menyapa tenggorokan. Sesekali masih terasa butiran rempah yang belum benar-benar halus, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya. Rasanya alami dan memberikan sensasi berbeda dibanding minuman yang sudah melalui proses pengolahan modern.

Setelah gelas pertama habis, Bu Tuminah menuangkan sedikit jamu lain sebagai penutup. Warnanya lebih gelap dan rasanya sedikit lebih manis. Saya bahkan lupa nama racikannya karena terlalu menikmati suasana pagi itu.

Yang saya ingat, tubuh terasa lebih segar untuk melanjutkan perjalanan menyusuri Kebun Raya Bogor.

Pihak Kebun Raya Bogor sendiri menyediakan tempat khusus bagi Bu Tuminah untuk berjualan, tepat di sekitar Monumen Lady Olivia Raffles.

Setiap hari beliau datang membawa bakulnya, menunggu pelanggan yang sebagian besar sudah menjadi langganan.

"Sering ada yang datang bawa tumbler sendiri. Kalau begitu biasanya jamunya cepat habis," katanya sambil tersenyum.

Senyum itu terasa begitu tulus. Garis-garis halus di wajah dan tangannya seolah menjadi saksi perjalanan panjang puluhan tahun menggendong bakul berisi jamu dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Yang lebih mengejutkan, harga segelas jamu itu hanya Rp5.000. Saat terakhir saya berkunjung beberapa waktu lalu, harganya pun masih sama.

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempat berfoto bersama. Sampai sekarang saya masih mengingat senyum sumringah Bu Tuminah ketika pagi itu dagangannya langsung diserbu pembeli.

Tradisi yang Tetap Dicari

Setelah berjalan di antara pepohonan tua Kebun Raya Bogor, saya justru semakin memahami mengapa jamu gendong seperti milik Bu Tuminah masih memiliki tempat di hati banyak orang.

Saat ini jamu memang telah mengalami banyak inovasi. Tidak sedikit kafe yang menyajikannya dalam kemasan modern, dipadukan dengan berbagai bahan lain agar lebih akrab dengan lidah generasi muda.

Namun, menikmati jamu langsung dari tangan penjualnya menghadirkan pengalaman yang berbeda.

Kepercayaan yang dibangun selama puluhan tahun membuat jamu gendong terasa lebih dari sekadar minuman.

Saya teringat nasihat ibu sejak kecil.

"Kalau ada penjual jamu lewat, coba beli. Biasanya badan jadi lebih enak."

Nasihat sederhana itu rupanya masih saya ingat hingga sekarang. Berbeda dengan jamu modern yang umumnya memiliki komposisi tetap, jamu gendong sering kali lebih personal.

Pelanggan dapat menyampaikan kebutuhan mereka, untuk pegal, badan kurang fit, hingga untuk perempuan.

Penjual jamu kemudian akan merekomendasikan racikan yang sesuai berdasarkan jenis jamu yang mereka bawa.

Interaksi sederhana seperti inilah yang membuat pengalaman membeli jamu terasa lebih akrab.

Ditambah lagi, harganya tetap terjangkau. Dengan kisaran Rp5.000 hingga Rp10.000, masyarakat masih bisa menikmati segelas jamu tradisional yang diracik secara sederhana.

Lebih dari Sekadar Minuman

Bagi saya, kehadiran penjual jamu selalu mengingatkan pada masa kecil. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ibu sering memanggil penjual jamu keliling yang melewati rumah.

Sebelum transaksi dimulai, obrolan ringan lebih dulu mengalir.

"Pak, anak saya susah makan."

Tanpa banyak bicara, si penjual langsung memberikan jamu anak yang saat itu cukup populer. Entah sugesti atau memang karena kebiasaan, setelah meminumnya saya memang menjadi lebih lahap makan.

Yang paling saya ingat justru bukan jamunya, melainkan percakapan hangat yang selalu menyertai setiap transaksi.

Suasana seperti itu rasanya sulit ditemukan ketika memesan minuman melalui aplikasi atau duduk di sebuah kafe.

Penjual jamu bukan sekadar menjual minuman. Mereka juga menjadi tempat berbagi cerita singkat mengenai keluhan sehari-hari.

Mungkin itulah yang membuat hubungan antara penjual dan pelanggan terasa begitu dekat.

Bertahan di Tengah Perubahan

Fenomena yang saya lihat pada Bu Tuminah juga sejalan dengan masih kuatnya budaya mengonsumsi jamu di Indonesia.

Berbagai survei menunjukkan bahwa jamu tetap menjadi pilihan masyarakat, terutama dalam bentuk cair.

Di sisi lain, perkembangan jamu modern juga membawa warna baru.

Kini banyak minuman berbasis jamu yang dikombinasikan dengan susu, sirup, madu, soda, hingga es krim agar lebih mudah diterima generasi muda.

Inovasi tersebut tentu memiliki tujuan positif, yakni memperkenalkan kembali jamu kepada pasar yang lebih luas.

Sementara itu, jamu gendong tetap mempertahankan kesederhanaannya. Racikannya mengandalkan rempah-rempah, gula aren atau gula jawa untuk jenis tertentu, bahkan ada pula yang memang disajikan tanpa pemanis.

Keduanya memiliki pangsa pasar masing-masing, yang satu menawarkan pengalaman baru, sedangkan yang lain mempertahankan keaslian yang telah dipercaya selama puluhan tahun.

Tradisi yang Tetap Berjalan

Terlepas dari berbagai inovasi yang terus bermunculan, saya percaya jamu gendong masih akan memiliki tempat tersendiri.

Bukan semata karena harganya yang terjangkau, melainkan karena hubungan personal yang dibangun antara penjual dan pelanggan.

Ketika saya datang untuk ketiga kalinya, Bu Tuminah langsung menyapa,

"Hari ini kunyit asam lagi, Neng?"

Saya tersenyum. Beliau masih mengingat minuman yang biasa saya pesan. Mungkin inilah yang tidak bisa digantikan oleh strategi pemasaran secanggih apa pun.

Di tengah penjelasan Kang Ian mengenai pohon-pohon tua yang menjadi saksi sejarah Kebun Raya Bogor, saya justru menemukan pelajaran lain.

Seperti halnya pepohonan yang tetap berdiri kokoh melewati berbagai zaman, jamu gendong pun tampaknya memiliki daya tahan yang sama.

Selama masih ada kehangatan dalam setiap sapaan, ketulusan dalam setiap racikan, dan kepercayaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bakul sederhana milik Bu Tuminah akan terus menjadi bagian dari wajah Kebun Raya Bogor.

Tanpa perlu promosi yang berlebihan, tanpa kemasan yang dibuat mengikuti tren, segelas jamu yang disodorkan sambil berkata, "Jamunya, Neng," rupanya sudah cukup untuk membuat banyak orang kembali datang.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Jamu Gendong Bu Tuminah yang Enggan Tergilas Tren Kekinian"

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
Kata Netizen
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kata Netizen
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Kata Netizen
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Kata Netizen
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kata Netizen
Bukan Pilah-Pilih Guru, Anak Autis Mungkin Sedang Beradaptasi
Bukan Pilah-Pilih Guru, Anak Autis Mungkin Sedang Beradaptasi
Kata Netizen
Cek Desil dan Pelajaran tentang Arti Berkecukupan
Cek Desil dan Pelajaran tentang Arti Berkecukupan
Kata Netizen
Evaluasi Keuangan Bukan Sekadar Menghitung Saldo
Evaluasi Keuangan Bukan Sekadar Menghitung Saldo
Kata Netizen
Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat
Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat
Kata Netizen
Dari Pasar Comboran, Sepiring Orem-orem Menyimpan Cerita
Dari Pasar Comboran, Sepiring Orem-orem Menyimpan Cerita
Kata Netizen
Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong
Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong
Kata Netizen
Apa Arti Merdeka bagi Nakes?
Apa Arti Merdeka bagi Nakes?
Kata Netizen
Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa
Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa
Kata Netizen
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Kata Netizen
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau