
Di tengah menjamurnya kafe yang menyajikan jamu dengan tampilan modern, mengapa segelas jamu gendong yang dijual sederhana masih terus dicari?
Barangkali jawabannya bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang kehangatan, kepercayaan, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
"Mangga dicoba, Teh. Ini jamu legend, wajib dicoba sebelum mulai mengubek harta karun Kebun Raya," ujar Kang Ian, pemandu kami pagi itu.
Tanggal 6 Juni 2024 menjadi kali pertama saya berkenalan dengan Bu Tuminah, penjual jamu gendong yang setiap hari berjualan di kawasan Kebun Raya Bogor.
"Ini Bu Tuminah. Beliau sudah jualan di sini sejak 1977," lanjut Kang Ian.
Bu Tuminah hanya tersenyum sambil mengangguk pelan. Saya sempat terdiam. Tahun itu bahkan saya belum lahir, sementara beliau sudah memulai perjalanan panjang sebagai penjual jamu.
Kami pun menghampiri bakul sederhana yang dibawanya. Di dalamnya berjajar botol-botol berisi jamu dengan warna-warna alami. Ketika salah satu tutup botol dibuka, aroma rempah langsung menguar memenuhi udara. Niat yang semula hanya ingin melihat-lihat berubah menjadi ingin mencicipi.
"Mau yang apa, Neng? Ada kunyit asam, beras kencur, cabe puyang buat pegal-pegal. Yang pahit juga ada," tutur Bu Tuminah sambil menunjuk satu botol berwarna lebih pekat dibanding yang lain.
Saya akhirnya memilih kunyit asam, begitu pula sebagian besar teman-teman yang ikut bersama pagi itu. Dengan cekatan, Bu Tuminah menuangkan jamu ke dalam gelas plastik dan menyerahkannya satu per satu kepada kami.
Kesegaran yang Sulit Tergantikan
Segelas kunyit asam yang masih terasa hangat saya pegang beberapa saat sebelum akhirnya diminum perlahan.
Rasa segarnya langsung menyapa tenggorokan. Sesekali masih terasa butiran rempah yang belum benar-benar halus, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya. Rasanya alami dan memberikan sensasi berbeda dibanding minuman yang sudah melalui proses pengolahan modern.
Setelah gelas pertama habis, Bu Tuminah menuangkan sedikit jamu lain sebagai penutup. Warnanya lebih gelap dan rasanya sedikit lebih manis. Saya bahkan lupa nama racikannya karena terlalu menikmati suasana pagi itu.
Yang saya ingat, tubuh terasa lebih segar untuk melanjutkan perjalanan menyusuri Kebun Raya Bogor.
Pihak Kebun Raya Bogor sendiri menyediakan tempat khusus bagi Bu Tuminah untuk berjualan, tepat di sekitar Monumen Lady Olivia Raffles.
Setiap hari beliau datang membawa bakulnya, menunggu pelanggan yang sebagian besar sudah menjadi langganan.
"Sering ada yang datang bawa tumbler sendiri. Kalau begitu biasanya jamunya cepat habis," katanya sambil tersenyum.
Senyum itu terasa begitu tulus. Garis-garis halus di wajah dan tangannya seolah menjadi saksi perjalanan panjang puluhan tahun menggendong bakul berisi jamu dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Yang lebih mengejutkan, harga segelas jamu itu hanya Rp5.000. Saat terakhir saya berkunjung beberapa waktu lalu, harganya pun masih sama.
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempat berfoto bersama. Sampai sekarang saya masih mengingat senyum sumringah Bu Tuminah ketika pagi itu dagangannya langsung diserbu pembeli.
Tradisi yang Tetap Dicari
Setelah berjalan di antara pepohonan tua Kebun Raya Bogor, saya justru semakin memahami mengapa jamu gendong seperti milik Bu Tuminah masih memiliki tempat di hati banyak orang.
Saat ini jamu memang telah mengalami banyak inovasi. Tidak sedikit kafe yang menyajikannya dalam kemasan modern, dipadukan dengan berbagai bahan lain agar lebih akrab dengan lidah generasi muda.
Namun, menikmati jamu langsung dari tangan penjualnya menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Kepercayaan yang dibangun selama puluhan tahun membuat jamu gendong terasa lebih dari sekadar minuman.
Saya teringat nasihat ibu sejak kecil.
"Kalau ada penjual jamu lewat, coba beli. Biasanya badan jadi lebih enak."
Nasihat sederhana itu rupanya masih saya ingat hingga sekarang. Berbeda dengan jamu modern yang umumnya memiliki komposisi tetap, jamu gendong sering kali lebih personal.
Pelanggan dapat menyampaikan kebutuhan mereka, untuk pegal, badan kurang fit, hingga untuk perempuan.
Penjual jamu kemudian akan merekomendasikan racikan yang sesuai berdasarkan jenis jamu yang mereka bawa.
Interaksi sederhana seperti inilah yang membuat pengalaman membeli jamu terasa lebih akrab.
Ditambah lagi, harganya tetap terjangkau. Dengan kisaran Rp5.000 hingga Rp10.000, masyarakat masih bisa menikmati segelas jamu tradisional yang diracik secara sederhana.
Lebih dari Sekadar Minuman
Bagi saya, kehadiran penjual jamu selalu mengingatkan pada masa kecil. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ibu sering memanggil penjual jamu keliling yang melewati rumah.
Sebelum transaksi dimulai, obrolan ringan lebih dulu mengalir.
"Pak, anak saya susah makan."
Tanpa banyak bicara, si penjual langsung memberikan jamu anak yang saat itu cukup populer. Entah sugesti atau memang karena kebiasaan, setelah meminumnya saya memang menjadi lebih lahap makan.
Yang paling saya ingat justru bukan jamunya, melainkan percakapan hangat yang selalu menyertai setiap transaksi.
Suasana seperti itu rasanya sulit ditemukan ketika memesan minuman melalui aplikasi atau duduk di sebuah kafe.
Penjual jamu bukan sekadar menjual minuman. Mereka juga menjadi tempat berbagi cerita singkat mengenai keluhan sehari-hari.
Mungkin itulah yang membuat hubungan antara penjual dan pelanggan terasa begitu dekat.
Bertahan di Tengah Perubahan
Fenomena yang saya lihat pada Bu Tuminah juga sejalan dengan masih kuatnya budaya mengonsumsi jamu di Indonesia.
Berbagai survei menunjukkan bahwa jamu tetap menjadi pilihan masyarakat, terutama dalam bentuk cair.
Di sisi lain, perkembangan jamu modern juga membawa warna baru.
Kini banyak minuman berbasis jamu yang dikombinasikan dengan susu, sirup, madu, soda, hingga es krim agar lebih mudah diterima generasi muda.
Inovasi tersebut tentu memiliki tujuan positif, yakni memperkenalkan kembali jamu kepada pasar yang lebih luas.
Sementara itu, jamu gendong tetap mempertahankan kesederhanaannya. Racikannya mengandalkan rempah-rempah, gula aren atau gula jawa untuk jenis tertentu, bahkan ada pula yang memang disajikan tanpa pemanis.
Keduanya memiliki pangsa pasar masing-masing, yang satu menawarkan pengalaman baru, sedangkan yang lain mempertahankan keaslian yang telah dipercaya selama puluhan tahun.
Tradisi yang Tetap Berjalan
Terlepas dari berbagai inovasi yang terus bermunculan, saya percaya jamu gendong masih akan memiliki tempat tersendiri.
Bukan semata karena harganya yang terjangkau, melainkan karena hubungan personal yang dibangun antara penjual dan pelanggan.
Ketika saya datang untuk ketiga kalinya, Bu Tuminah langsung menyapa,
"Hari ini kunyit asam lagi, Neng?"
Saya tersenyum. Beliau masih mengingat minuman yang biasa saya pesan. Mungkin inilah yang tidak bisa digantikan oleh strategi pemasaran secanggih apa pun.
Di tengah penjelasan Kang Ian mengenai pohon-pohon tua yang menjadi saksi sejarah Kebun Raya Bogor, saya justru menemukan pelajaran lain.
Seperti halnya pepohonan yang tetap berdiri kokoh melewati berbagai zaman, jamu gendong pun tampaknya memiliki daya tahan yang sama.
Selama masih ada kehangatan dalam setiap sapaan, ketulusan dalam setiap racikan, dan kepercayaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bakul sederhana milik Bu Tuminah akan terus menjadi bagian dari wajah Kebun Raya Bogor.
Tanpa perlu promosi yang berlebihan, tanpa kemasan yang dibuat mengikuti tren, segelas jamu yang disodorkan sambil berkata, "Jamunya, Neng," rupanya sudah cukup untuk membuat banyak orang kembali datang.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Jamu Gendong Bu Tuminah yang Enggan Tergilas Tren Kekinian"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT