
Adakah yang berubah ketika posisi kita berganti, sementara kenangannya tetap tersimpan?
Rasanya seperti baru kemarin saya meminta izin kepada Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) untuk tidak mengikuti survei lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Alasan yang saya sampaikan saat itu terdengar tidak biasa, tetapi memang benar adanya: saya baru saja mengikuti sebuah perjamuan bersama Presiden Republik Indonesia di Istana Negara. Kesempatan tersebut saya peroleh melalui Kompasiana.
Namun, ada cerita lain yang melatarbelakangi izin tersebut. Penyebab utamanya justru karena saya terlambat tiba di stasiun sehingga ketinggalan kereta menuju lokasi survei.
Peristiwa itu masih tersimpan jelas dalam ingatan. Saat itu saya adalah seorang mahasiswa yang bersiap menjalani KKN pada periode Januari-Februari di salah satu desa di Kabupaten Semarang. Banyak hal terasa baru, mulai dari mengenal lokasi pengabdian hingga mempersiapkan diri menghadapi kehidupan di tengah masyarakat.
Waktu berjalan begitu cepat. Kini, saya kembali berhadapan dengan KKN, tetapi bukan lagi sebagai mahasiswa. Saya hadir sebagai Dosen Pembimbing Lapangan yang bertugas mendampingi mahasiswa selama menjalankan pengabdian.
Perubahan posisi tersebut menghadirkan sudut pandang yang sama sekali berbeda.
Memahami Peran dari Sisi yang Berbeda
Ketika menjadi mahasiswa, saya lebih banyak memikirkan bagaimana menyelesaikan program kerja dan beradaptasi dengan lingkungan desa. Kini, sebagai DPL, saya mulai memahami mengapa peran seorang pembimbing begitu penting.
Mendampingi mahasiswa yang baru pertama kali terjun langsung ke masyarakat bukanlah tugas sederhana. Selain memastikan program berjalan sesuai tujuan, seorang DPL juga perlu membantu mahasiswa menghadapi berbagai dinamika yang muncul di lapangan. Di situlah pengalaman pribadi saat menjalani KKN dahulu terasa sangat berharga.
Saya teringat masa ketika harus menyesuaikan diri dengan program KKN tematik yang cukup jauh dari latar belakang keilmuan saya.
Sebagai mahasiswa bidang gizi, saya pernah mendapat tugas yang lebih dekat dengan bidang teknik. Saat itu tantangannya terasa besar, tetapi pada akhirnya dapat diselesaikan bersama tim.
Pengalaman tersebut kini menjadi bekal saat mendampingi mahasiswa.
Menariknya, saya melihat situasi yang hampir serupa pada mahasiswa bimbingan saya. Mereka juga memperoleh tugas khusus melalui program kerja sama dengan mitra, kali ini berkaitan dengan penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Melihat semangat mereka mengingatkan saya pada diri sendiri beberapa tahun lalu. Perbedaannya hanya satu: kini saya berada di sisi yang berbeda.
Saya pun sering mengatakan kepada mereka, "Saya juga pernah berada di posisi kalian. Percayalah, kalian juga bisa melewati proses ini."
Menjadi DPL Sekaligus Pembelajar
Ini merupakan pengalaman pertama saya menjadi DPL dalam skema KKN. Sebelumnya saya memang pernah mendampingi mahasiswa di desa, tetapi belum dalam format Kuliah Kerja Nyata seperti sekarang.
Pengalaman ini membuat saya semakin percaya bahwa menjadi dosen berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tidak hanya mahasiswa yang belajar selama KKN berlangsung, dosen pun terus belajar memahami dinamika lapangan dan karakter mahasiswa yang terus berkembang.
Setiap generasi tentu memiliki pendekatan yang berbeda. Mahasiswa hari ini tumbuh dalam lingkungan digital yang sangat akrab dengan media sosial. Karena itu, saya mencoba menerapkan pendekatan yang lebih cair alias serius, tetapi tetap santai.
Selama tidak keluar dari tujuan pembelajaran, saya tidak keberatan ketika mereka ingin mendokumentasikan kegiatan melalui media sosial atau membuat konten kreatif selama proses KKN berlangsung. Justru cara seperti itu dapat menjadi sarana untuk menceritakan berbagai praktik baik yang mereka lakukan di masyarakat.
Menulis sebagai Bagian dari Pengabdian
Salah satu pesan yang saya sampaikan kepada mahasiswa adalah pentingnya mendokumentasikan pengalaman mereka melalui tulisan.
Kebetulan, dalam program KKN kali ini mereka memang memiliki kewajiban menghasilkan artikel yang dipublikasikan di media. Saya kemudian memperkenalkan Kompasiana sebagai salah satu alternatif karena proses publikasinya relatif mudah dan telah menyediakan kanal khusus untuk tulisan bertema KKN.
Bagi saya, menulis bukan sekadar memenuhi tugas akademik.
Tulisan merupakan cara mengabadikan proses belajar yang tidak selalu dapat direkam melalui foto atau laporan resmi. Di dalamnya tersimpan pengalaman, refleksi, tantangan, hingga pelajaran yang mungkin suatu hari nanti akan dikenang kembali.
Saya merasakan sendiri manfaatnya. Tulisan-tulisan yang saya buat ketika masih menjalani KKN bertahun-tahun lalu masih dapat saya baca hingga sekarang.
Setiap kali membukanya, berbagai kenangan yang sempat memudar kembali hadir dengan begitu jelas. Saya tidak hanya mengingat bahwa pernah menjalani KKN, tetapi juga mengingat bagaimana proses itu membentuk cara pandang saya terhadap masyarakat.
Oleh karena itulah saya selalu mendorong mahasiswa untuk menulis dengan sungguh-sungguh.
Suatu saat nanti, ketika mereka telah menyelesaikan studi dan menekuni profesi masing-masing, tulisan-tulisan itu mungkin akan menjadi pengingat tentang masa ketika mereka belajar mengabdi, bekerja sama, sekaligus mengenal kehidupan masyarakat secara lebih dekat.
KKN pada akhirnya memang berlangsung hanya dalam hitungan minggu. Namun, pengalaman yang dibawanya sering kali bertahan jauh lebih lama.
Bahkan, ketika suatu hari nanti seseorang kembali ke dunia KKN dengan peran yang berbeda, kenangan-kenangan itu tetap menemukan jalannya untuk kembali hidup.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Dulu Jadi Mahasiswa KKN, Kini Jadi DPL KKN"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT