
Hampir setiap acara menghadirkan goodie bag berbahan spunbond atau kanvas yang sebenarnya dirancang agar dapat digunakan berulang kali. Lama-kelamaan jumlahnya menumpuk di rumah.
Awalnya saya menganggap hal itu bukan masalah. Namun setelah terkumpul hingga ratusan buah, saya mulai berpikir bahwa benda yang dimaksudkan untuk mengurangi plastik pun bisa menjadi persoalan baru jika tidak dimanfaatkan kembali.
Oleh karena itu, setiap akhir tahun saya membawa sebagian reusable bag tersebut saat pulang kampung. Tas-tas itu saya titipkan kepada ibu untuk dibagikan kepada anggota paduan suara gereja. Ada yang memanfaatkannya untuk membawa lembaran lagu saat latihan, ada pula yang menggunakannya ketika pergi ke sawah.
Cara sederhana itu membuat reusable bag kembali memiliki fungsi, alih-alih hanya tersimpan di dalam lemari.
Tumblr yang Akhirnya Selalu Dibawa
Kebiasaan lain yang perlahan berubah adalah membawa botol minum sendiri.
Data yang pernah disampaikan Prof. Hefni Effendi dari IPB menyebutkan bahwa setiap menit sekitar satu juta botol plastik dibeli di seluruh dunia. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya potensi sampah dari kemasan minuman sekali pakai.
Di rumah, botol plastik bekas air minum kemasan sebenarnya sudah lama kami pisahkan dari sampah lainnya. Kardus, botol, dan barang-barang yang masih memiliki nilai jual dikumpulkan dalam satu tempat khusus agar dapat langsung diberikan kepada para pemulung yang rutin melewati rumah.
Selain membantu proses daur ulang, cara ini juga membuat kantong sampah rumah tangga tidak mudah robek dan memudahkan petugas kebersihan saat mengangkutnya.
Belakangan saya juga mulai terbiasa membawa satu botol minum favorit berwarna oranye yang mampu menjaga suhu minuman tetap dingin ataupun hangat sepanjang hari.
Ternyata memilih botol minum yang benar-benar nyaman digunakan membuat saya lebih konsisten membawanya ke mana-mana. Dampaknya sederhana, tetapi terasa: frekuensi membeli air minum dalam kemasan menjadi jauh berkurang.
Sebelum Membeli Pakaian Baru
Ada satu kebiasaan lain yang saya coba terapkan. Setiap kali membeli pakaian baru, saya berusaha mengeluarkan jumlah pakaian yang sama dari lemari.
Kebiasaan ini membuat saya lebih sadar terhadap barang yang sudah dimiliki sekaligus mengurangi dorongan untuk berbelanja secara impulsif.
Sering kali saya justru menemukan pakaian lama yang masih layak dipakai dan sempat terlupakan di sudut lemari.
Sementara pakaian yang sudah benar-benar tidak layak pakai biasanya saya potong menjadi kain lap untuk membersihkan kompor atau keperluan rumah tangga lainnya.
Belajar Mengolah Sampah Organik Lewat Pot Biopori
Perubahan terbesar yang kami lakukan justru terjadi ketika lingkungan tempat tinggal mulai menerapkan pemilahan sampah dari rumah.
Sampah organik dipisahkan dari sampah residu sebelum kemudian dikumpulkan untuk diolah di tingkat RW.