
Bagaimana jika ternyata buku bajakan dari luar negeri justru jauh lebih sulit dikenali dibandingkan buku bajakan lokal?
Selama ini banyak orang beranggapan bahwa label "impor" identik dengan kualitas terbaik. Saya pun pernah memiliki anggapan serupa. Ketika mulai berkecimpung di dunia perbukuan, saya mengira buku-buku yang berasal dari luar negeri hampir mustahil memiliki versi bajakan.
Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir justru mengajarkan hal yang berbeda. Buku impor ternyata juga memiliki versi bajakan. Bahkan, dalam banyak kasus, tampilannya jauh lebih menyerupai buku asli dibandingkan buku bajakan yang beredar di dalam negeri.
Pengalaman itu bermula pada awal 2020 ketika buku-buku impor mulai mengisi rak toko buku kecil yang saya kelola. Sebagian besar berukuran besar, tebal, dan menggunakan sampul keras (hard cover).
Setiap kali kiriman datang, selalu ada rasa antusias karena buku-buku tersebut memiliki nilai jual yang relatif tinggi.
Di kalangan sesama penjual buku, buku impor memang sering dipandang sebagai produk premium. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa karena berasal dari luar negeri, kualitasnya pasti terjamin dan layak dijual dengan harga lebih tinggi.
Pandangan itu sempat memengaruhi saya. Ketika mengetahui sebuah buku merupakan edisi impor, saya mulai jarang memeriksa detail fisiknya. Saya merasa cukup yakin bahwa buku tersebut pasti orisinal.
Namun, keyakinan itu perlahan berubah ketika saya mulai membaca dan memperhatikan buku-buku tersebut lebih saksama. Dari situlah saya menemukan sejumlah kejanggalan yang akhirnya membawa saya mengenali karakter buku impor bajakan.
Lima Perbedaan yang Saya Temukan
Selama beberapa tahun terakhir, saya mencoba membandingkan buku impor bajakan dengan buku impor asli, sekaligus membandingkannya dengan buku bajakan lokal. Berikut beberapa perbedaan yang paling sering saya temukan.
1. Sampul Buku yang Nyaris Sulit Dibedakan
Hal pertama yang cukup mengejutkan adalah kualitas sampul buku impor bajakan.
Baik versi hard cover maupun soft cover, tampilannya dibuat sangat menyerupai edisi asli. Jika buku orisinal menggunakan hard cover, maka versi bajakannya pun sering kali dibuat dengan spesifikasi yang sama.
Spine buku, pita pembatas (headband dan tailband), hingga dust jacket lengkap dengan lipatan informasi di bagian dalam juga tetap disertakan.
Jenis laminasi pun biasanya mengikuti edisi asli. Jika buku asli menggunakan laminasi mengilap (glossy), maka versi bajakan pun dibuat serupa. Sekilas, hampir tidak ada perbedaan yang mudah dikenali.
Kondisi tersebut cukup berbeda dengan buku bajakan lokal. Dari pengalaman saya, buku bajakan lokal umumnya menggunakan bahan sampul yang lebih tipis, kualitas cetaknya kurang tajam, dan konstruksi bukunya lebih sederhana sehingga lebih mudah dikenali.
2. Detail Emboss dan Spot UV
Perbedaan berikutnya terlihat pada kualitas cetakan sampul.
Beberapa buku impor asli menggunakan teknik emboss maupun spot UV sehingga judul atau elemen tertentu tampak mengilap dan timbul.
Yang menarik, versi bajakan impor sering kali meniru detail tersebut dengan sangat baik. Bahkan, logo best seller atau elemen dekoratif lainnya juga dibuat menyerupai edisi asli.
Sebaliknya, pada buku bajakan lokal, detail seperti ini sering kali dihilangkan demi menekan biaya produksi. Sampul biasanya dibuat lebih sederhana tanpa efek cetak khusus sehingga lebih mudah dibedakan.
3. Kelengkapan Halaman
Aspek lain yang cukup mencolok adalah kelengkapan isi buku.
Pada buku impor bajakan, hampir seluruh bagian tetap dipertahankan. Mulai dari end paper, halaman persembahan, informasi penerbit, isi utama, daftar pustaka, hingga profil penulis tetap tersedia sebagaimana edisi asli.
Bahkan halaman-halaman kosong yang memang menjadi bagian dari desain buku juga tetap dipertahankan.
Sementara itu, pada buku bajakan lokal, saya cukup sering menemukan halaman yang dihilangkan. Bagian pembuka, halaman persembahan, maupun beberapa halaman penutup kadang tidak ikut dicetak sehingga jumlah halaman menjadi lebih sedikit dibandingkan edisi aslinya.
4. Kualitas Lem dan Penjilidan
Penjilidan juga menjadi pembeda yang cukup menarik.
Pada buku impor bajakan yang pernah saya temui, kualitas lemnya tergolong baik. Buku dapat dibuka lebar tanpa mudah retak, susunan halamannya rapi, dan hasil penjilidannya tampak kokoh.
Sebaliknya, buku bajakan lokal sering memperlihatkan kualitas lem yang kurang baik. Ketika buku dibuka, bagian tengah mudah terlihat renggang, lem kurang merata, bahkan dalam beberapa kasus halaman lebih mudah terlepas.
5. Hasil Cetak Gambar
Perbedaan terakhir dapat diamati dari kualitas gambar.
Pada buku impor bajakan, gambar umumnya masih terlihat cukup jelas. Walaupun merupakan hasil reproduksi, kualitas visualnya masih mendekati edisi asli.
Namun, jika diperhatikan lebih teliti, biasanya mulai tampak beberapa kejanggalan. Misalnya, gambar berwarna berubah menjadi hitam putih, grafik kehilangan ketajamannya, atau hasil cetak tulisan memperlihatkan karakter seperti fotokopi.
Sementara pada buku bajakan lokal, kualitas gambar umumnya lebih mudah dikenali karena cenderung lebih buram, terlalu gelap, atau dipenuhi bercak hasil reproduksi.
Tidak Cukup Hanya Melihat Satu Bagian
Berdasarkan pengalaman tersebut, saya belajar bahwa mengenali buku bajakan—terutama buku impor—tidak bisa hanya mengandalkan satu indikator.
Jika sampul terlihat meyakinkan, saya akan memeriksa kualitas cetakan gambar. Jika gambar masih tampak baik, saya akan mengecek hasil cetak tulisan, susunan halaman, hingga kualitas penjilidannya.
Semakin banyak bagian yang diperiksa, semakin besar peluang untuk menemukan kejanggalan.
Meski demikian, saya juga pernah menemui buku yang begitu mirip dengan versi asli sehingga saya sendiri kesulitan memastikan keasliannya. Dalam kondisi seperti itu, saya memilih untuk tidak memasarkannya terlebih dahulu sampai memperoleh kepastian.
Bagi saya, langkah tersebut jauh lebih bijaksana daripada berisiko menjual buku bajakan karena kurang teliti.
Belajar dari Pengalaman
Pengalaman mengelola toko buku membuat saya memahami bahwa praktik pembajakan tidak hanya terjadi pada buku-buku lokal. Buku impor pun memiliki tantangan yang sama, bahkan terkadang lebih sulit dikenali karena kualitas reproduksinya sangat baik.
Pengalaman ini tentu tidak dapat dijadikan acuan mutlak untuk semua buku impor yang beredar. Apa yang saya sampaikan merupakan hasil pengamatan selama beberapa tahun bergelut di dunia perbukuan.
Namun setidaknya, pengalaman tersebut mengajarkan satu hal penting: tampilan fisik yang meyakinkan belum tentu menjadi jaminan sebuah buku benar-benar orisinal.
Oleh karena itu, ketelitian tetap menjadi langkah terbaik, baik bagi penjual maupun pembaca, agar semakin menghargai karya dan hak cipta para penulis serta penerbit.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Beda Buku Bajakan Impor vs Lokal"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT