
Kalau melihat tanaman beluntas, ingatan saya selalu kembali ke masa SMA. Dulu, sepulang sekolah di Ciamis, saya sering naik bus jurusan Tasikmalaya–Cirebon. Ada satu pengalaman sederhana yang sampai sekarang masih saya ingat.
“Mah, tahu nggak, tadi pas Teteh naik bus, keneknya bau badan. Berdiri dekat waktu nagih ongkos. Rasanya sampai enek.” Mamah hanya tertawa mendengar cerita saya.
“Suruh makan daun beluntas.”
Saya yang masih remaja tentu saja heran. “Memangnya bisa?”
“Bisa, buat bau badan, bau mulut, juga bagus untuk kesehatan kewanitaan,” jawab Mamah.
Jawaban sederhana itu justru membuat saya penasaran. Setelah percakapan tersebut, saya mulai mencoba daun beluntas sebagai lalapan. Sesekali, saya juga merebusnya untuk diminum, seperti yang diajarkan Mamah.
Kini, setiap melihat tanaman beluntas, ingatan saya selalu kembali kepada Mamah yang telah berpulang. Beliau bersama Ayah adalah dua orang yang mengenalkan saya pada banyak hal tentang tanaman dan pengobatan alami.
Ayah senang membaca buku tentang tanaman obat dan sering kali tahu kegunaan berbagai tumbuhan yang ada di sekitar rumah. Sementara Mamah memiliki prinsip hidup sehat dengan memanfaatkan apa yang tersedia di alam.
Bagi beliau, halaman rumah bukan sekadar tempat untuk menanam bunga, tetapi juga dapat menjadi sumber makanan dan bahan yang dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan keluarga. Mungkin karena itulah saya tumbuh menjadi orang yang senang mengeksplorasi berbagai tanaman dan mencoba mengenali manfaatnya.
Beluntas, Tanaman Pagar Favorit Orang Zaman Dulu
Kalau sekarang banyak orang menggunakan pagar besi atau tembok sebagai pembatas rumah, dahulu cukup banyak rumah di kampung yang memanfaatkan tanaman sebagai pagar hidup. Salah satunya adalah beluntas.
Tanaman ini relatif mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan yang rumit. Selain dapat berfungsi sebagai pembatas pekarangan, daunnya juga biasa dimanfaatkan sebagai lalapan maupun bahan ramuan tradisional.
Cara menanamnya pun cukup sederhana. Batang yang sudah cukup kuat dapat ditancapkan ke tanah dan kemudian dibiarkan tumbuh.
Menurut saya, orang-orang dahulu memiliki cara yang menarik dalam memanfaatkan apa yang tersedia di alam. Tanaman yang ditanam di sekitar rumah tidak hanya berfungsi untuk memperindah halaman, tetapi juga memiliki kegunaan lain bagi kehidupan sehari-hari.
Mengenali Tanaman Beluntas
Beluntas atau Pluchea indica, yang dalam bahasan Sunda dikenal sebagai waluntas, termasuk tanaman perdu yang cukup mudah dikenali.
Tingginya dapat mencapai sekitar 1–2 meter. Batangnya berkayu dan memiliki banyak cabang. Daunnya berbentuk menyerupai telur terbalik dengan ujung meruncing dan tepi bergerigi. Permukaan batang maupun daun memiliki bulu-bulu halus.
Salah satu ciri yang cukup mudah dikenali adalah aromanya. Ketika daun beluntas diremas, akan muncul aroma khas yang cukup kuat.
Tanaman ini juga memiliki bunga berukuran kecil dengan warna ungu muda hingga merah muda. Bunga biasanya muncul di ujung ranting atau ketiak daun.
Dengan pertumbuhannya yang cukup rapat, tidak mengherankan jika beluntas sejak dahulu kerap dimanfaatkan sebagai tanaman pagar hidup.