Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Dandung Nurhono
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Dandung Nurhono adalah seorang yang berprofesi sebagai Petani. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi

Kompas.com, 20 Agustus 2026, 16:10 WIB

Kita pergi ke hutan hanya untuk mencari udara segar dan menenangkan pikiran. Tetapi apakah pernah justru pulang membawa pelajaran tentang alam, petani? Bagaimana kehidupan bisa berjalan berdampingan dengan hutan?

Fenomena forest healing atau terapi hutan semakin dikenal luas. Bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan, masuk ke hutan mungkin perlu menjadi sebuah kegiatan yang sengaja diagendakan. Di tengah rutinitas, kemacetan, pekerjaan, dan berbagai tekanan kehidupan sehari-hari, hutan dapat menjadi ruang untuk sejenak mengambil jarak dari kesibukan.

Hutan memiliki peran yang sangat penting. Ia bukan sekadar kawasan hijau yang menyegarkan mata, tetapi juga bagian dari kehidupan yang lebih besar. Keberadaan hutan berkaitan dengan upaya menjaga keseimbangan lingkungan, terlebih ketika dunia menghadapi triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.

Bagi saya, healing ke hutan tidak selalu harus menjadi kegiatan yang direncanakan jauh-jauh hari. Kadang, perjalanan ke hutan bisa terjadi begitu saja ketika tubuh dan pikiran membutuhkan suasana yang berbeda.

Seperti yang saya alami minggu lalu. Rutinitas sehari-hari di kebun yang hampir selalu bergerak dalam pola yang sama membuat saya sesekali membutuhkan penyegaran. Saat itulah Abah tiba-tiba mengajak saya berjalan ke hutan untuk melihat tanaman kopi yang dikelolanya.

Ajakan sederhana itu akhirnya membawa saya pada sebuah perjalanan kecil yang ternyata menyimpan banyak cerita.

Menyusuri Hutan Pinus dan Tanaman Kopi

Tahun ini, tanaman kopi di sana tidak terlalu banyak menghasilkan buah. Kondisi cuaca menjadi salah satu penyebabnya.

Tahun sebelumnya, hujan turun terus-menerus sehingga bunga kopi tidak banyak yang mekar. Kalaupun sempat berbunga, bunga-bunga tersebut tidak mudah berkembang menjadi buah karena kembali terkena siraman hujan.

Intensitas matahari yang rendah juga membuat suasana di bawah tegakan pinus semakin teduh. Sinar matahari tidak banyak menembus tajuk pohon. Kondisi semacam ini tentu ikut memengaruhi lingkungan tumbuh tanaman kopi yang berada di bawahnya.

Mengikuti ajakan Abah, saya sekalian saja menjadikan perjalanan tersebut sebagai kesempatan untuk healing ke hutan pinus agroforestri Bukit Palasari.

Bagi saya, ini seperti jeda kecil untuk menyegarkan kembali pikiran dan tubuh. Tidak ada agenda khusus. Hanya berjalan kaki, melihat tanaman kopi, mendengarkan cerita Abah, dan menikmati suasana hutan.

Begitu memasuki kawasan hutan, tubuh saya seperti diterpa embusan udara dari mesin pendingin ruangan. Udara sejuk di tengah suasana kemarau langsung terasa menyentuh tubuh.

Saya kemudian menyusuri jalan setapak di antara barisan pohon pinus yang menjulang tinggi. Sesekali angin berembus pelan menerpa wajah.

Suara-suara alam pun seakan ikut menemani perjalanan. Perlahan, suara tersebut seperti membersihkan pendengaran saya dari hiruk-pikuk jalanan dan bising kendaraan yang sehari-hari begitu akrab.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Kata Netizen
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Kata Netizen
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Kata Netizen
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Kata Netizen
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Kata Netizen
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Kata Netizen
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
Kata Netizen
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Kata Netizen
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
Kata Netizen
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kata Netizen
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Kata Netizen
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Kata Netizen
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau