
Kita pergi ke hutan hanya untuk mencari udara segar dan menenangkan pikiran. Tetapi apakah pernah justru pulang membawa pelajaran tentang alam, petani? Bagaimana kehidupan bisa berjalan berdampingan dengan hutan?
Fenomena forest healing atau terapi hutan semakin dikenal luas. Bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan, masuk ke hutan mungkin perlu menjadi sebuah kegiatan yang sengaja diagendakan. Di tengah rutinitas, kemacetan, pekerjaan, dan berbagai tekanan kehidupan sehari-hari, hutan dapat menjadi ruang untuk sejenak mengambil jarak dari kesibukan.
Hutan memiliki peran yang sangat penting. Ia bukan sekadar kawasan hijau yang menyegarkan mata, tetapi juga bagian dari kehidupan yang lebih besar. Keberadaan hutan berkaitan dengan upaya menjaga keseimbangan lingkungan, terlebih ketika dunia menghadapi triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.
Bagi saya, healing ke hutan tidak selalu harus menjadi kegiatan yang direncanakan jauh-jauh hari. Kadang, perjalanan ke hutan bisa terjadi begitu saja ketika tubuh dan pikiran membutuhkan suasana yang berbeda.
Seperti yang saya alami minggu lalu. Rutinitas sehari-hari di kebun yang hampir selalu bergerak dalam pola yang sama membuat saya sesekali membutuhkan penyegaran. Saat itulah Abah tiba-tiba mengajak saya berjalan ke hutan untuk melihat tanaman kopi yang dikelolanya.
Ajakan sederhana itu akhirnya membawa saya pada sebuah perjalanan kecil yang ternyata menyimpan banyak cerita.
Menyusuri Hutan Pinus dan Tanaman Kopi
Tahun ini, tanaman kopi di sana tidak terlalu banyak menghasilkan buah. Kondisi cuaca menjadi salah satu penyebabnya.
Tahun sebelumnya, hujan turun terus-menerus sehingga bunga kopi tidak banyak yang mekar. Kalaupun sempat berbunga, bunga-bunga tersebut tidak mudah berkembang menjadi buah karena kembali terkena siraman hujan.
Intensitas matahari yang rendah juga membuat suasana di bawah tegakan pinus semakin teduh. Sinar matahari tidak banyak menembus tajuk pohon. Kondisi semacam ini tentu ikut memengaruhi lingkungan tumbuh tanaman kopi yang berada di bawahnya.
Mengikuti ajakan Abah, saya sekalian saja menjadikan perjalanan tersebut sebagai kesempatan untuk healing ke hutan pinus agroforestri Bukit Palasari.
Bagi saya, ini seperti jeda kecil untuk menyegarkan kembali pikiran dan tubuh. Tidak ada agenda khusus. Hanya berjalan kaki, melihat tanaman kopi, mendengarkan cerita Abah, dan menikmati suasana hutan.
Begitu memasuki kawasan hutan, tubuh saya seperti diterpa embusan udara dari mesin pendingin ruangan. Udara sejuk di tengah suasana kemarau langsung terasa menyentuh tubuh.
Saya kemudian menyusuri jalan setapak di antara barisan pohon pinus yang menjulang tinggi. Sesekali angin berembus pelan menerpa wajah.
Suara-suara alam pun seakan ikut menemani perjalanan. Perlahan, suara tersebut seperti membersihkan pendengaran saya dari hiruk-pikuk jalanan dan bising kendaraan yang sehari-hari begitu akrab.