
Tempat penampungan air nira juga menghadapi tantangan tersendiri. Air hujan yang masuk ke dalam wadah dapat membuat nira lebih cepat mengalami perubahan kualitas.
Jika nira pada musim hujan tetap diolah menjadi gula lempeng, proses penguapannya dapat membutuhkan waktu lebih lama dan penggunaan kayu bakar pun menjadi lebih banyak.
Dalam kondisi tertentu, hasil akhirnya juga tidak selalu sesuai harapan. Nira dapat lebih sulit mengeras sehingga gula tidak membentuk tekstur lempengan yang kokoh.
Tantangan Fisik dan Etika Pengirisan di Musim Hujan
Faktor cuaca juga memegang peranan penting dalam keputusan para pengiris tuak, yang dalam keseharian dikenal dengan sebutan peta'a tua atau maniris.
Menyadap nira lontar bukanlah pekerjaan ringan. Para pengiris harus memanjat pohon yang tingginya dapat mencapai 15 hingga 30 meter, tanpa mengandalkan alat pengaman modern seperti yang digunakan dalam pekerjaan di ketinggian saat ini.
Pada musim kemarau, batang pohon yang relatif kering dapat memberikan cengkeraman yang lebih baik bagi kaki dan tangan para pemanjat.
Ketika musim hujan datang, situasinya berbeda. Batang lontar menjadi lebih licin karena air dan lumut. Kondisi tersebut membuat aktivitas memanjat menjadi lebih berisiko dan potensi kecelakaan kerja pun meningkat.
Selain itu, wadah penampung nira seperti haik atau timba dari daun lontar yang digantung di pucuk pohon juga berpotensi kemasukan air hujan jika tidak tertutup dengan baik.
Air hujan yang bercampur dengan nira dapat memengaruhi proses alami yang berlangsung di dalamnya dan pada akhirnya mengganggu proses pembuatan gula lempeng.
Karena berbagai pertimbangan tersebut, secara turun-temurun para pengiris memilih menghentikan atau mengurangi aktivitas penyadapan secara signifikan ketika hujan mulai turun.
Keputusan itu bukan hanya berkaitan dengan kualitas hasil yang diperoleh, tetapi juga menyangkut keselamatan mereka yang setiap hari harus memanjat pohon lontar.
Transformasi Musim, dari Pohon Lontar ke Ladang Pertanian
Alasan lain mengapa para pengiris tuak lebih banyak melakukan aktivitasnya pada musim kemarau berkaitan dengan pola mata pencaharian ganda masyarakat.
Di NTT, mengiris tuak lontar merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang berfungsi sebagai mata pencaharian penopang sekaligus sumber penghasilan ketika musim kemarau membuat lahan pertanian sulit diolah.