
Ketika lahan pertanian tidak dapat ditanami karena keterbatasan air, sumber penghasilan sebagian warga kemudian beralih ke pucuk-pucuk pohon lontar.
Selama berbulan-bulan musim kemarau, energi, waktu, dan perhatian keluarga pengiris dicurahkan untuk mengumpulkan nira, memasaknya dalam kuali besar, kemudian mencetaknya menggunakan cetakan dari daun lontar menjadi gula lempeng.
Hasil penjualan gula lempeng menjadi salah satu sumber penghasilan yang membantu keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya di tengah kondisi kering.
Namun, ketika musim hujan tiba, fokus kehidupan masyarakat pun perlahan bergeser. Tetesan air hujan menjadi tanda bahwa tanah kembali siap diolah.
Para pengiris tuak kembali ke lahan pertanian. Pisau iris yang selama berbulan-bulan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari disimpan, sementara perhatian mereka beralih untuk mengolah tanah dan menanam jagung, padi ladang, serta berbagai umbi-umbian.
Perubahan fokus pekerjaan ini membuat produksi gula lempeng ikut berkurang atau bahkan terhenti. Tidak mengherankan jika keberadaannya di Kota Kupang dan wilayah sekitarnya kemudian menjadi lebih sulit ditemukan pada musim hujan.
Pada akhirnya, melimpahnya gula lempeng pada musim kemarau dan berkurangnya ketersediaannya ketika musim hujan dapat dilihat sebagai gambaran tentang bagaimana masyarakat NTT menyesuaikan kehidupan dengan alam.
Pohon lontar menyediakan sumber penghidupan ketika tanah sedang menghadapi musim kering. Ketika hujan datang dan lahan pertanian kembali dapat diolah, masyarakat pun mengalihkan tenaga dan waktunya untuk bercocok tanam.
Di situlah gula lempeng menjadi lebih dari sekadar komoditas pemanis, kemudian menjadi bagian dari cerita tentang ketahanan pangan, sumber penghasilan, serta pengetahuan lokal masyarakat dalam membaca perubahan musim dan menyesuaikan kehidupan dengan tanda-tanda alam.
Lantas, ketika sepotong gula lempeng kembali kita temui di pasar atau di meja makan, pernahkah kita membayangkan bahwa di balik rasa manisnya terdapat perjalanan panjang dari pucuk pohon lontar, tangan para pengiris, panasnya tungku, hingga cara sebuah masyarakat bertahan dan hidup berdampingan dengan musim?
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kemarau Emas di Atas Lontar, Rahasia Pasang Surut Gula Lempeng NTT"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.