Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Fery W
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Fery W adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal

Kompas.com, 26 September 2026, 20:30 WIB

Penelitian Rachel Croson dan Uri Gneezy pada 2009 di Journal of Economic Literature memberikan sudut pandang lain. Perbedaan perilaku investasi antara laki-laki dan perempuan tidak semata-mata berkaitan dengan seberapa besar rasa takut terhadap risiko, tetapi juga dengan bagaimana risiko tersebut dipandang.

Perempuan, dalam sejumlah temuan penelitian, cenderung menghubungkan keputusan investasi dengan tujuan hidup yang lebih konkret, seperti dana pendidikan anak, jaminan hari tua, atau keamanan keluarga.

Dengan perspektif seperti itu, portofolio investasi tidak selalu dipandang sebagai arena untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu singkat, tetapi sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan keuangan tertentu.

Salah satu hal yang masih dapat menjadi tantangan bagi perempuan di pasar modal adalah rasa percaya diri dalam mengambil keputusan finansial atau financial self-efficacy.

Penelitian yang dilakukan Tabea Bucher-Koenen dan timnya pada 2021 menemukan bahwa dalam berbagai tes literasi keuangan, perempuan cenderung memilih jawaban "tidak tahu" ketika merasa ragu, meskipun pemahaman analitis mereka sebenarnya dapat memadai.

Rasa kurang percaya diri tersebut tentu tidak berdiri sendiri. Sosialisasi budaya selama bertahun-tahun dapat ikut membentuk persepsi bahwa investasi berisiko tinggi lebih dekat dengan dunia laki-laki. Persepsi semacam ini perlahan mulai berubah seiring semakin terbukanya akses informasi dan teknologi keuangan.

Membuka Ruang yang Lebih Inklusif di Pasar Modal

Jika melihat sejarahnya, ketimpangan partisipasi perempuan dalam investasi memang memiliki akar yang panjang.

Di Wall Street, Victoria Woodhull dan Tennessee Claflin mendirikan firma pialang yang dikenal sebagai firma pialang perempuan pertama pada 1870.

Hampir satu abad kemudian, Muriel Siebert berhasil membeli kursi keanggotaan New York Stock Exchange pada 1967, setelah menghadapi berbagai hambatan yang berkaitan dengan modal dan relasi dalam industri yang saat itu masih sangat didominasi laki-laki.

Di Indonesia pun terdapat perjalanan yang tidak jauh berbeda. Pada masa kolonial, bursa Batavia didominasi kelompok laki-laki dari kalangan elite. Memasuki era lantai bursa manual Jakarta pada dekade 1980-an, perempuan yang bekerja sebagai pialang juga harus memasuki industri yang masih sangat kental dengan budaya laki-laki.

Bahasa industri keuangan terkadang ikut menciptakan jarak tersebut. Istilah-istilah seperti beat the market, alpha, atau hunting, misalnya, dapat membuat dunia investasi terdengar sangat kompetitif dan agresif bagi orang yang belum terbiasa dengan istilah pasar modal.

Teknologi kemudian mengubah sebagian situasi tersebut. Hambatan fisik, proses birokrasi yang sebelumnya terasa rumit, serta ketergantungan pada jaringan pialang kini sebagian telah digantikan oleh akses melalui layar gawai.

Namun, kemudahan akses belum otomatis menghapus seluruh kesenjangan. Riset BNY Mellon mengenai inklusi investasi menemukan bahwa sebagian besar manajer aset masih memfokuskan pemasaran mereka kepada nasabah laki-laki.

Sebanyak 86 persen manajer aset dalam penelitian tersebut mengaku menargetkan pelanggan laki-laki. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian perempuan masih merasa bahwa dunia investasi belum sepenuhnya ditujukan kepada mereka.

Di sisi lain, arah perubahan mulai terlihat, dan teknologi finansial atau fintech menjadi salah satu pendorongnya.

Lanskap Investasi Global Bergerak dengan Kecepatan Berbeda

Menariknya, meski kesenjangan gender dalam investasi ditemukan di berbagai negara, cara setiap kawasan merespons persoalan tersebut cukup beragam.

Di Amerika Serikat, laporan Bank of America menyoroti bahwa kesenjangan saldo investasi pensiun antargenerasi semakin menyempit. Selisih antara laki-laki dan perempuan milenial kini sekitar 23 persen, jauh lebih kecil dibandingkan generasi baby boomer yang mencapai 87 persen.

Hal tersebut menunjukkan adanya perubahan pada generasi yang lebih muda, meskipun kesenjangan belum sepenuhnya hilang.

Sementara itu, studi Mintos yang dirilis pada awal 2026 mengingatkan bahwa persoalan tersebut memiliki konsekuensi jangka panjang. Jika perempuan berinvestasi dengan tingkat partisipasi yang lebih setara dengan laki-laki, pasar modal global berpotensi memperoleh tambahan modal dalam jumlah besar.

Di sisi lain, kesenjangan investasi juga dapat berpengaruh terhadap kondisi finansial perempuan pada masa pensiun, terutama karena perempuan secara rata-rata memiliki harapan hidup yang lebih panjang.

Di Eropa, N26 mencatat perempuan masih cenderung memilih produk perbankan yang relatif konservatif seperti tabungan berbunga. Namun, minat untuk berinvestasi terus tumbuh. Sekitar 70 persen investor perempuan dalam survei tersebut mengaku ingin meningkatkan porsi investasi mereka dalam satu tahun ke depan, dengan Italia dan Jerman termasuk negara yang menunjukkan antusiasme tinggi.

Sementara itu, di Inggris, riset Female Invest menunjukkan kesenjangan partisipasi pasar saham yang serupa dengan Indonesia. Hanya 29 persen perempuan Inggris yang tercatat aktif memperdagangkan saham secara daring, dibandingkan 47 persen laki-laki.

Perkembangan menarik juga terlihat di Asia. Menurut Asian Venture Philanthropy Network (AVPN), Asia kini menjadi kawasan kedua terbesar di dunia untuk Gender Lens Investing (GLI) setelah Amerika Utara, dengan total investasi senilai 1,4 miliar dolar AS yang tersebar di 47 kendaraan investasi.

China bahkan mulai mengembangkan pendekatan tersebut secara institusional. UN Women Asia Pacific merilis kerangka kerja Gender Lens Investing khusus untuk industri ekuitas swasta China pada 2025.

Kerangka tersebut mendorong perusahaan modal ventura dan private equity untuk mempertimbangkan kesetaraan gender dalam berbagai proses investasi, mulai dari alokasi modal hingga tata kelola portofolio.

Di Asia Tenggara, inisiatif seperti Investing in Women yang didukung Pemerintah Australia juga ikut membangun ekosistem GLI dengan mendorong dana modal ventura agar lebih terbuka dalam mendanai perusahaan yang dipimpin perempuan.

Gelombang Besar Bernama The Great Wealth Transfer

Ada satu tren global yang menurut saya juga perlu diperhatikan oleh siapa pun yang tertarik pada dunia investasi, yaitu fenomena yang dikenal sebagai The Great Wealth Transfer.

Menurut laporan World Economic Forum tahun 2026, dalam dua dekade ke depan lebih dari 80 triliun dolar AS aset global diperkirakan berpindah tangan dari Silent Generation dan baby boomer kepada keluarga serta ahli waris mereka. Generasi penerima kekayaan tersebut diproyeksikan lebih beragam secara gender dibandingkan generasi pewaris sebelumnya.

Perempuan secara khusus diperkirakan akan menerima bagian kekayaan yang semakin besar.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Belajar Biologi di Alam, dari Jejak Satwa hingga Burung
Belajar Biologi di Alam, dari Jejak Satwa hingga Burung
Kata Netizen
Tidak Naik Kelas Bukan Berarti Anak Gagal
Tidak Naik Kelas Bukan Berarti Anak Gagal
Kata Netizen
Cerita di Balik Sirih yang Tumbuh di Depan Rumah
Cerita di Balik Sirih yang Tumbuh di Depan Rumah
Kata Netizen
Dulu Ramai, Kini Food Court Tinggal Kantin
Dulu Ramai, Kini Food Court Tinggal Kantin
Kata Netizen
Ke Mana Manfaat Kenaikan Anggaran Kesehatan Dirasakan?
Ke Mana Manfaat Kenaikan Anggaran Kesehatan Dirasakan?
Kata Netizen
Sudah Bawa Bekal, Kok Pengeluaran Masih Boros?
Sudah Bawa Bekal, Kok Pengeluaran Masih Boros?
Kata Netizen
Tantangan Side Job Seorang Videografer Pernikahan
Tantangan Side Job Seorang Videografer Pernikahan
Kata Netizen
Rekan Kerja Have, Bukan Cuma soal Barang Bermerek
Rekan Kerja Have, Bukan Cuma soal Barang Bermerek
Kata Netizen
Terbiasa dengan Asap Bukan Berarti Aman
Terbiasa dengan Asap Bukan Berarti Aman
Kata Netizen
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Kata Netizen
Hidup dari Kios Kecil, Asal Dapur Tetap Mengepul
Hidup dari Kios Kecil, Asal Dapur Tetap Mengepul
Kata Netizen
Teknologi Tradisional di Balik Jagung Bose
Teknologi Tradisional di Balik Jagung Bose
Kata Netizen
Macet di Kampung Sendiri Gara-gara Antrean BBM
Macet di Kampung Sendiri Gara-gara Antrean BBM
Kata Netizen
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau