
Penelitian Rachel Croson dan Uri Gneezy pada 2009 di Journal of Economic Literature memberikan sudut pandang lain. Perbedaan perilaku investasi antara laki-laki dan perempuan tidak semata-mata berkaitan dengan seberapa besar rasa takut terhadap risiko, tetapi juga dengan bagaimana risiko tersebut dipandang.
Perempuan, dalam sejumlah temuan penelitian, cenderung menghubungkan keputusan investasi dengan tujuan hidup yang lebih konkret, seperti dana pendidikan anak, jaminan hari tua, atau keamanan keluarga.
Dengan perspektif seperti itu, portofolio investasi tidak selalu dipandang sebagai arena untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu singkat, tetapi sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan keuangan tertentu.
Salah satu hal yang masih dapat menjadi tantangan bagi perempuan di pasar modal adalah rasa percaya diri dalam mengambil keputusan finansial atau financial self-efficacy.
Penelitian yang dilakukan Tabea Bucher-Koenen dan timnya pada 2021 menemukan bahwa dalam berbagai tes literasi keuangan, perempuan cenderung memilih jawaban "tidak tahu" ketika merasa ragu, meskipun pemahaman analitis mereka sebenarnya dapat memadai.
Rasa kurang percaya diri tersebut tentu tidak berdiri sendiri. Sosialisasi budaya selama bertahun-tahun dapat ikut membentuk persepsi bahwa investasi berisiko tinggi lebih dekat dengan dunia laki-laki. Persepsi semacam ini perlahan mulai berubah seiring semakin terbukanya akses informasi dan teknologi keuangan.
Membuka Ruang yang Lebih Inklusif di Pasar Modal
Jika melihat sejarahnya, ketimpangan partisipasi perempuan dalam investasi memang memiliki akar yang panjang.
Di Wall Street, Victoria Woodhull dan Tennessee Claflin mendirikan firma pialang yang dikenal sebagai firma pialang perempuan pertama pada 1870.
Hampir satu abad kemudian, Muriel Siebert berhasil membeli kursi keanggotaan New York Stock Exchange pada 1967, setelah menghadapi berbagai hambatan yang berkaitan dengan modal dan relasi dalam industri yang saat itu masih sangat didominasi laki-laki.
Di Indonesia pun terdapat perjalanan yang tidak jauh berbeda. Pada masa kolonial, bursa Batavia didominasi kelompok laki-laki dari kalangan elite. Memasuki era lantai bursa manual Jakarta pada dekade 1980-an, perempuan yang bekerja sebagai pialang juga harus memasuki industri yang masih sangat kental dengan budaya laki-laki.
Bahasa industri keuangan terkadang ikut menciptakan jarak tersebut. Istilah-istilah seperti beat the market, alpha, atau hunting, misalnya, dapat membuat dunia investasi terdengar sangat kompetitif dan agresif bagi orang yang belum terbiasa dengan istilah pasar modal.
Teknologi kemudian mengubah sebagian situasi tersebut. Hambatan fisik, proses birokrasi yang sebelumnya terasa rumit, serta ketergantungan pada jaringan pialang kini sebagian telah digantikan oleh akses melalui layar gawai.
Namun, kemudahan akses belum otomatis menghapus seluruh kesenjangan. Riset BNY Mellon mengenai inklusi investasi menemukan bahwa sebagian besar manajer aset masih memfokuskan pemasaran mereka kepada nasabah laki-laki.
Sebanyak 86 persen manajer aset dalam penelitian tersebut mengaku menargetkan pelanggan laki-laki. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian perempuan masih merasa bahwa dunia investasi belum sepenuhnya ditujukan kepada mereka.
Di sisi lain, arah perubahan mulai terlihat, dan teknologi finansial atau fintech menjadi salah satu pendorongnya.
Lanskap Investasi Global Bergerak dengan Kecepatan Berbeda
Menariknya, meski kesenjangan gender dalam investasi ditemukan di berbagai negara, cara setiap kawasan merespons persoalan tersebut cukup beragam.
Di Amerika Serikat, laporan Bank of America menyoroti bahwa kesenjangan saldo investasi pensiun antargenerasi semakin menyempit. Selisih antara laki-laki dan perempuan milenial kini sekitar 23 persen, jauh lebih kecil dibandingkan generasi baby boomer yang mencapai 87 persen.
Hal tersebut menunjukkan adanya perubahan pada generasi yang lebih muda, meskipun kesenjangan belum sepenuhnya hilang.
Sementara itu, studi Mintos yang dirilis pada awal 2026 mengingatkan bahwa persoalan tersebut memiliki konsekuensi jangka panjang. Jika perempuan berinvestasi dengan tingkat partisipasi yang lebih setara dengan laki-laki, pasar modal global berpotensi memperoleh tambahan modal dalam jumlah besar.
Di sisi lain, kesenjangan investasi juga dapat berpengaruh terhadap kondisi finansial perempuan pada masa pensiun, terutama karena perempuan secara rata-rata memiliki harapan hidup yang lebih panjang.
Di Eropa, N26 mencatat perempuan masih cenderung memilih produk perbankan yang relatif konservatif seperti tabungan berbunga. Namun, minat untuk berinvestasi terus tumbuh. Sekitar 70 persen investor perempuan dalam survei tersebut mengaku ingin meningkatkan porsi investasi mereka dalam satu tahun ke depan, dengan Italia dan Jerman termasuk negara yang menunjukkan antusiasme tinggi.
Sementara itu, di Inggris, riset Female Invest menunjukkan kesenjangan partisipasi pasar saham yang serupa dengan Indonesia. Hanya 29 persen perempuan Inggris yang tercatat aktif memperdagangkan saham secara daring, dibandingkan 47 persen laki-laki.
Perkembangan menarik juga terlihat di Asia. Menurut Asian Venture Philanthropy Network (AVPN), Asia kini menjadi kawasan kedua terbesar di dunia untuk Gender Lens Investing (GLI) setelah Amerika Utara, dengan total investasi senilai 1,4 miliar dolar AS yang tersebar di 47 kendaraan investasi.
China bahkan mulai mengembangkan pendekatan tersebut secara institusional. UN Women Asia Pacific merilis kerangka kerja Gender Lens Investing khusus untuk industri ekuitas swasta China pada 2025.
Kerangka tersebut mendorong perusahaan modal ventura dan private equity untuk mempertimbangkan kesetaraan gender dalam berbagai proses investasi, mulai dari alokasi modal hingga tata kelola portofolio.
Di Asia Tenggara, inisiatif seperti Investing in Women yang didukung Pemerintah Australia juga ikut membangun ekosistem GLI dengan mendorong dana modal ventura agar lebih terbuka dalam mendanai perusahaan yang dipimpin perempuan.
Gelombang Besar Bernama The Great Wealth Transfer
Ada satu tren global yang menurut saya juga perlu diperhatikan oleh siapa pun yang tertarik pada dunia investasi, yaitu fenomena yang dikenal sebagai The Great Wealth Transfer.
Menurut laporan World Economic Forum tahun 2026, dalam dua dekade ke depan lebih dari 80 triliun dolar AS aset global diperkirakan berpindah tangan dari Silent Generation dan baby boomer kepada keluarga serta ahli waris mereka. Generasi penerima kekayaan tersebut diproyeksikan lebih beragam secara gender dibandingkan generasi pewaris sebelumnya.
Perempuan secara khusus diperkirakan akan menerima bagian kekayaan yang semakin besar.