
Di sinilah kita dapat melihat wajah lain dari sebuah destinasi wisata. Di balik foto-foto indah yang beredar di media sosial, terdapat kepentingan ekonomi, energi, lingkungan, dan sosial yang saling berkelindan.
Pertanyaannya kemudian bukan semata-mata apakah danau boleh dimanfaatkan atau harus sepenuhnya dilindungi. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana memanfaatkan Singkarak tanpa mengurangi kemampuannya untuk terus menopang kehidupan.
Pembangunan yang baik tentu diharapkan tidak membuat kita harus memilih secara sederhana antara ekonomi dan lingkungan. Tantangannya justru mencari titik keseimbangan agar listrik tetap mengalir, masyarakat memperoleh penghidupan, wisata dapat berkembang, tetapi ikan bilih dan ekosistem Singkarak tetap terjaga.
Ketika Gulai Pakis Terasa Lebih Nikmat di Pinggir Singkarak
Namun, dari sekian banyak keunikan Singkarak, pengalaman yang paling melekat bagi saya justru sangat sederhana.
Siang itu, kami tidak mencari restoran terkenal. Tidak pula membuka aplikasi untuk menemukan rumah makan dengan ulasan terbaik.
Dalam perjalanan, kami membeli makanan seadanya, termasuk gulai pakis, kemudian membawanya ke pinggir danau. Kami mencari tempat yang dirasa nyaman dan aman, lalu berhenti.
Tidak ada meja makan yang tertata. Tidak ada pelayan yang datang membawa daftar menu. Tidak ada pendingin ruangan, musik, atau dekorasi yang sengaja dibuat untuk menarik pengunjung.
Hanya makanan yang dibeli di jalan, beberapa lauk sederhana, angin yang datang dari permukaan air, dan Danau Singkarak yang terbentang luas di depan mata.
Entah mengapa, gulai pakis siang itu terasa berbeda.
Mungkin bumbunya sebenarnya sama dengan yang biasa kita temukan di banyak rumah makan Minang. Mungkin jika dimakan di tempat lain, rasanya pun tidak akan terlalu istimewa.
Namun, perjalanan mengajarkan bahwa kenikmatan makanan tidak hanya ditentukan oleh apa yang ada di atas piring. Ada suasana, kebersamaan, rasa lelah setelah menempuh perjalanan, udara terbuka, dan pemandangan yang ikut memberikan rasa.
Sesekali kami makan sambil memandang permukaan danau. Angin berembus, perbukitan berdiri di kejauhan, dan kendaraan sesekali melintas. Untuk beberapa saat, tidak ada yang perlu dikejar.
Tidak ada rapat yang harus segera dimulai. Tidak ada pekerjaan yang harus dituntaskan. Kami hanya duduk, makan, berbincang, dan menikmati Singkarak dengan cara yang mungkin tidak pernah masuk dalam daftar paket perjalanan mana pun.
Pengalaman itu membuat saya berpikir tentang cara kita berwisata hari ini.
Kita semakin terbiasa mencari tempat terbaik, hotel terbaik, restoran terbaik, sudut foto terbaik, bahkan waktu terbaik untuk mengunggah pengalaman perjalanan. Tanpa disadari, perjalanan pun bisa berubah menjadi semacam perlombaan untuk mendapatkan pengakuan.
Kita sibuk memotret makanan sebelum mencicipinya, merekam pemandangan sebelum benar-benar menikmatinya, lalu bergegas pergi karena destinasi berikutnya sudah menunggu.
Padahal, boleh jadi, kemewahan sesungguhnya justru hadir ketika kita berhenti melakukan semua itu.