
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Serupa, tetapi rasa jauh beda alias tidak sama: PayLater dengan ngutang di warung tetangga.
Paylater, pay-nya (bayarnya) harus jelas berapa, dan disesuaikan dengan kemampuan. Later-nya (kemudian/nanti) yang merujuk kepada waktu membayar, harus jelas juga, dan yang penting harus disiplin membayar.
Pengetahuan dan kemampuan tentang manajemen keuangan pribadi, ternyata sangat penting di setiap zaman.
Apalagi pada zaman sekarang ini, yang mana begitu mudahnya seseorang meminjam uang dan diberikan pinjaman oleh sebuah lembaga.
Kalau dulu, meminjam uang dari lembaga resmi, pilihannya cuma ke bank atau koperasi. Itu pun benar-benar dalam bentuk pinjaman uang cash.
Kemudian seiring waktu, munculah kartu kredit dari bank, yang dapat dipakai untuk membayarkan dulu. Ternyata pada zaman itu pun demikian: belum ada paylater dan pinjol, banyak orang terjerat utang kartu kredit.
Penyebabnya adalah asumsi yang salah tentang berutang dan juga tidak mengukur kemampuan bayar ketika berbelanja. Padahal membayar menggunakan kartu kredit itu hanyalah penundaan pembayaran saja.
Sama saja dengan paylater, dari namanya saja sudah jelas, paylater artinya dibayar nanti. Itu pun adalah penundaan pembayaran dari sisi orang yang seharusnya membayar atas pembelanjaan yang dia lakukan.
Apalagi, ternyata paylater lebih "keras" daripada kartu kredit. Kartu kredit masih bisa dibayar dengan minimal pembayaran (jika terpaksa), walaupun itu akan mengakibatkan timbulnya bunga atas sisa hutang yang belum dibayar.
Sementara untuk paylater, tidak ada istilah pembayaran minimal.
Di satu sisi, hal ini menghindari utang bunga berbunga seperti yang dapat terjadi pada utang kartu kredit.
Namun, dalam kondisi benar-benar tidak ada uang untuk melunasi, petugas penagihan tidak akan berhenti melakukan penagihan.
Hal ini dapat membuat stress orang yang ditagih, sehingga ada kemungkinan orang itu mencari jalan pintas dengan pinjaman lainnya, misalkan pinjol. Ujung-ujungnya jadi lingkaran setan yang membelit dan susah dilepaskan.
Maka itu, kembalilah ke dasar. Hidup sederhana, gak usah terlalu banyak gengsi.
Kenali diri sendiri. Jika memang anda adalah orang yang "sulit" melepas uang untuk membayar utang dari sesuatu yang sudah dinikmati, sebaiknya usahakan untuk membayar setiap pembelanjaan secara cash saja.