Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Veronika Gultom
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Veronika Gultom adalah seorang yang berprofesi sebagai Konsultan. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ini Beda PayLater dengan "Ngutang" di Warung Tetangga

Kompas.com, 23 Mei 2025, 16:40 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Serupa, tetapi rasa jauh beda alias tidak sama: PayLater dengan ngutang di warung tetangga.

Paylater, pay-nya (bayarnya) harus jelas berapa, dan disesuaikan dengan kemampuan. Later-nya (kemudian/nanti) yang merujuk kepada waktu membayar, harus jelas juga, dan yang penting harus disiplin membayar.

Pengetahuan dan kemampuan tentang manajemen keuangan pribadi, ternyata sangat penting di setiap zaman.

Apalagi pada zaman sekarang ini, yang mana begitu mudahnya seseorang meminjam uang dan diberikan pinjaman oleh sebuah lembaga.

Kalau dulu, meminjam uang dari lembaga resmi, pilihannya cuma ke bank atau koperasi. Itu pun benar-benar dalam bentuk pinjaman uang cash.

Kemudian seiring waktu, munculah kartu kredit dari bank, yang dapat dipakai untuk membayarkan dulu. Ternyata pada zaman itu pun demikian: belum ada paylater dan pinjol, banyak orang terjerat utang kartu kredit.

Penyebabnya adalah asumsi yang salah tentang berutang dan juga tidak mengukur kemampuan bayar ketika berbelanja. Padahal membayar menggunakan kartu kredit itu hanyalah penundaan pembayaran saja.

Sama saja dengan paylater, dari namanya saja sudah jelas, paylater artinya dibayar nanti. Itu pun adalah penundaan pembayaran dari sisi orang yang seharusnya membayar atas pembelanjaan yang dia lakukan.

Apalagi, ternyata paylater lebih "keras" daripada kartu kredit. Kartu kredit masih bisa dibayar dengan minimal pembayaran (jika terpaksa), walaupun itu akan mengakibatkan timbulnya bunga atas sisa hutang yang belum dibayar.

Sementara untuk paylater, tidak ada istilah pembayaran minimal.

Di satu sisi, hal ini menghindari utang bunga berbunga seperti yang dapat terjadi pada utang kartu kredit.

Namun, dalam kondisi benar-benar tidak ada uang untuk melunasi, petugas penagihan tidak akan berhenti melakukan penagihan.

Hal ini dapat membuat stress orang yang ditagih, sehingga ada kemungkinan orang itu mencari jalan pintas dengan pinjaman lainnya, misalkan pinjol. Ujung-ujungnya jadi lingkaran setan yang membelit dan susah dilepaskan.

Maka itu, kembalilah ke dasar. Hidup sederhana, gak usah terlalu banyak gengsi.

Kenali diri sendiri. Jika memang anda adalah orang yang "sulit" melepas uang untuk membayar utang dari sesuatu yang sudah dinikmati, sebaiknya usahakan untuk membayar setiap pembelanjaan secara cash saja.

Hindari berutang. Ini juga akan membantu anda untuk mengatur keuangan. Uang cash di tangan adalah benar-benar cash on hand yang benar-benar milik anda dan dapat dibelanjakan.

Mungkin ada saat seseorang memang harus paylater dulu. Karena satu dan lain hal, dia baru akan mendapatkan uang dalam sekian waktu ke depan.

Misalnya saja menunggu tanggal gajian. Jika demikian masalahnya, usahakan berbelanja hal yang penting saja.

Utamakanlah berbelanja kebutuhan pokok dulu, contohnya makan. Hal lainnya yang masih bisa ditunda, sebaiknya ditunda dulu sampai keuangan normal (kembali). Dan segeralah lunasi begitu mendapatkan uang pembayar.

Jika anda orang yang terbiasa melakukan pembukuan pribadi atau keluarga dan melakukan pembayaran seluruh tagihan sebagai tagihan rutin bulanan, pastikan tidak ada tagihan yang terlupakan, terutama paylater dan bentuk utang sejenisnya.

Paylater, seperti juga kartu kredit, seharusnya menjadi tool yang dapat membantu, jika kita mengerti betul fungsinya, dan juga disiplin dalam melakukan pembayaran. Paylater bukanlah tool pembayar, yang kemudian bisa kita lupakan begitu saja tanpa melunasi kemudian, atau bayarnya kapan-kapan kalau rela mengeluarkan uangnya, atau kalau sudah ada uang. 

Paylater zaman dulu, di warung tetangga, alias kasbon dulu, kalau belum ada uang bisa ngumpet, sementara gak lewat-lewat ke warung itu dulu karena takut ditagih.

Kalau bertemu tukang warung di jalan, misalnya, buang muka seolah tak kenal atau pura-pura lupa kalau bertetangga. Paling apes dilaporkan pemilik warung ke pejabat RT. Ujung-ujungnya diselesaikan secara kekeluargaan. 

Paylater di zaman digital ini adalah lembaga resmi yang punya petugas penagih, di mana petugas itu juga ditargetkan untuk membuat orang yang berutang melunasi utangnya sesuai waktu perjanjian.

Jadi, pastikan anda mampu melakukan pembayaran sesuai waktu yang ditentukan dan jumlah yang seharusnya. 

Ketika memutuskan menggunakan fasilitas paylater, pastikan sudah membaca perjanjiannya dan mengerti isinya. Jangan sampai baru sadar, setelah bolak-balik ditagih sampai stres. 

Memang, kebanyakan orang tidak membaca bentuk-bentuk perjanjian berbahasa hukum, yang biasanya tulisannya juga kecil-kecil.

Apalagi di zaman digital sekarang ini, biasanya kebanyakan orang akan skip alias tidak membaca isi perjanjian, tetapi langsung tanda tangan begitu saja. Apalagi niatnya berutang paylater gak banyak-banyak amat.

Jika sudah begini, saya berharap OJK mewajibkan semua lembaga yang memberikan fasilitas paylater atau fasilitas utang sejenisnya, untuk menyediakan AI chatbot yang dapat membantu nasabahnya menerjemahkan isi perjanjian dengan cara memilah-milah bagian-bagian perjanjian.

Selain itu juga bisa menampilkan poin-poin pentingnya, dan menampilkannya dalam bahasa yang lebih mudah diingat dan dimengerti oleh orang awam.

Setidaknya hal ini dapat membuat seseorang berpikir dulu matang-matang sebelum memutuskan menggunakan fasilitas paylater. 

Saya rasa negara pun, selain mempermudah diluncurkannya fasilitas paylater di mana-mana, harus mengantisipasi kemungkinan dari orang-orang yang tidak mampu mengelola keuangan dengan baik, yang sangat mungkin menjadi peminjam aktif tetapi tidak memiliki kemampuan membayar. Dengan demikian akan seimbang.

Negara mesti hadir untuk semua pihak, bukan sekadar memudahkan peluncuran produk-produk peminjaman uang, dan membiarkan masyarakat menjadi "tukang utang".

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "PayLater Zaman Now Berbeda dengan PayLater di Warung Tetangga"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau